Aktivis yang memperjuangkan HAM di Indonesia ini diketahui meninggal akibat diracun dalam pesawat menuju Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2004.
Kepergian pendiri Imparsial dan aktivis Kontras tersebut ke Belanda saat itu adalah untuk melanjutkan studinya.
Hasil otopsi terhadap jasad Munir menyebutkan adanya racun arsenik dalam tubuhnya.
Namun kematiannya masih menjadi misteri hingga saat ini.
Saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Munir sudah dikenal seabgai seorang aktivis.
Di kampusnya, Munir menjadi anggota Forum Studi Mahasiswa untuk Pengembangan Berpikir, Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa Hukum Universitas Brawijaya dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Munir juga merupakan seorang Dewan Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) yang dibentuk oleh LPHAM, Elsam, CPSM, PIPHAM, AJI, dan sebuah organisasi mahasiswa PMII.
Semasa hidupnya, Munir pernah menjadi penasihat hukum keluarga korban tragedi Tanjung Priok 1984.
Tragedi tersebut mengakibatkan 24 orang tewas dan 55 orang terluka akibat tindakan aparat keamanan setelah membubarkan dengan paksa para demonstran.
Aparat membubarkan kerumuman massa dengan menembakkan timah panas.
Unjuk rasa yang dilakukan untuk menolak penerapan Pancasila sebagai asas tunggal yang diusulkan Presiden Soeharto itu berakhir sebagai salah satu pelanggaran berat HAM yang dialami oleh para demonstran.
Tidak hanya itu, Munir juga melakukan advokasi dan investigasi terkait kasus aktivis buruh Marsinah yang diduga dibunuh oleh aparat militer.
Munir juga memperjuangkan kasus penculikan pada 1997-1998 yang menyebabkan 13 orang yang masih hilang sampai sekarang.
Pria asal Malang ini pernah menangani kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak yang melawan pemerintahan Indonesia untuk memerdekakan Timor Timur pada 1992.
Nama Munir kemudian dikenal sebagai pejuang yang membela orang-orang hilang akibat penculikan.
(TribunnewsWiki.com/Yonas)