"Menurut catatan dari Garuda berlaku sampai Februari.”
“Komitmen kita Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis itu akan memberikan tiket murah," katanya lagi.
Disamping itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga berharap tiket pesawat kembali murah.
Sebab harga tiket yang tinggi masih selama ini menjadi keluhan bagi masyarakat.
"Kita berharap ya, paling tidak menjadi kompetitif.”
“Poinnya bisa dirasakan oleh masyarakat, tiketnya itu tidak kompetitif dibandingkan di ASEAN maupun Amerika," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI), Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Jumat (6/12/2019).
Industri penerbangan Indonesia meski telah menerapkan Low Cost Carrier (LCC), tetap saja menurutnya tidak mengurangi permasalahan.
Karena tidak adanya maskapai lain selain Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.
Dia menyebut, 97 persen penerbangan kedua maskapai tersebut paling mendominasi pangsa pasar.
Maka tak heran, bila harga tiket penerbangan masih tinggi.
"Seperti di Eropa, sama-sama penerbangan satu setengah jam sampai dua jam,”
“kalau kita bicara LCC, itu ya mahal. Ketika tidak ada kompetisi, semuanya mahal.”
“Begitu ada kompetitor masuk, harganya bisa murah," katanya.
Wilayah timur, sebut Hariyadi, yang paling terdampak akibat tiket mahal tersebut.
Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya kompetisi dalam industri penerbangan.
"Nggak fair-lah, masa masyarakat dirugikan gitu.”
“Dan ini sangat terganggu banget di wilayah timur, terasa banget kunjungan orang ke Indonesia bagian timur berkurang," ucapnya.
Sebagai Ketua PHRI, dia menyarankan kepada pemerintah untuk membuka kompetisi di industri penerbangan sehingga bisa menekan harga tiket yang mahal.
"Saya sampaikan ke pemerintah, ini saatnya buka kompetisi.”
“Karena kalau sudah kompetitif ini akan beda," ucapnya.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Saradita/Kompas.com)