Mereka dimungkinkan dapat menjadi lebih cerdas bila mempelajari suatu hal yang berkenaan dengan minat dan bakatnya.
Baca: Harapan Salim Said pada Menteri Pendidikan Jokowi, Nadiem Makarim agar Tularkan 50% Budaya Baca
Baca: Tolak Jadi Menteri demi Fokus Pendidikan, Begini Sikap SK Trimurti pada Tawaran Presiden Soekarno
3. Pembenahan Lembaga Pendidikan
Selain itu, Budi menjelaskan perlu adanya peningkatan kualitas lembaga pendidikan untuk membuat guru menjadi lebih berkualitas di masa mendatang.
Budi mengambil contoh Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
“Kampus-kampus IKIP, yang model pengajarannya seperti itu membuat guru menjadi kurang punya ide kreativitas dan kurang eksplor dengan akademisnya. Sehingga setiap tahun ketika ada Uji Kompetensi Guru (UKG) mereka hasilnya selalu rendah,” sebutnya.
Skor Indonesia
Penelitian yang dilaporkan PISA mengungkapkan bahwa Indonesia memeroleh angka 371 dalam kategori membaca, 379 untuk matematika, dan 396 untuk ilmu pengetahuan (sains).
Baca: Demi Bayar Biaya Pendidikan, Mahasiswi Ini Rela Jadi Penari Striptis; Rp 45 Juta per Malam
Baca: Pelajar Ikut Demo, Pengamat Pendidikan Sebut Mereka Hanya Korban
Tertinggal dari Malaysia
Sementara negara tetangga Malaysia lebih unggul dari Indonesia dengan berada di peringkat ke-56.
Malaysia mendapat nilai 415 untuk membaca, 440 untuk matematika, dan 438 untuk sains.
Sistem Pendidikan Singapura
Sedangkan negara tetangga lainnya yaitu Singapura berhasil menempati peringkat ke-2 teratas lantaran mempunyai sistem pendidikan yang matang.
“Di Singapura penghargaan untuk guru sangat tinggi dan persyaratan untuk menjadi guru juga tidak sembarangan. Jadi kalau tidak pintar banget, tidak bisa menjadi guru. Kalau ogah-ogahan belajar, susah jadi guru. Tapi mereka juga dapat imbal jasa yang sangat memuaskan,” kata Budi.
Kesejahteraan Guru
Ditegaskan oleh Budi bahwa terdapat beberapa masalah yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.
Satu yang diambil contoh adalah perihal kesejahteraan guru.
Menurut Budi ihwal kesejahteraan guru bermuara dari kompetensi seorang pengajar/guru itu sendiri.
“Singapura memang menekankan kerja keras. Jadi bukan mengurangi jam belajar, kalau saya lihat. Kalau kita kan menekankan pada iman dan taqwa, serta anak berbahagia, itu repot juga. Belajar itu sesuatu yang serius dan perlu disiplin bukan supaya sekedar anak terlihat bahagia, anak beriman dan bertaqwa,” jelasnya.
Sistem Pendidikan Feodalistik
Selain beberapa hal di atas, Budi menyebut bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih kuno, bahkan terlalu kuno.