"Saya menyukai kekuatan senjata itu, dan fakta bahwa kekuatan itu bukan dari senjata itu sendiri, tetapi pada orang yang memegang senjata itu.”
“Saya ingin menjadi lebih baik," jelas Palani.
Lebih lanjut, Palani menjelaskan dirinya sangat menyukai proses pelatihannya di kamp.
"Saya sangat menyukai pelatihan saya.”
“Itu mengingatkan saya pada sosok Lyuda (Pavlichenko) Lady Death dari Tentara Merah Rusia," jelas Joanna Palani.
Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko adalah seorang penembak Soviet dalam Tentara Merah pada Perang Dunia II, yang dikenal karena membunuh 309 orang.
Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko dianggap sebagai salah satu penembak militer papan atas sepanjang masa dan penempak perempuan tersukses dalam sejarah.
Apalagi darah Joanna Palani selalu mendidih setiap kali mendengar berita pejuang ISIS memperlakukan buruk anak-anak dan perempuan.
Baca: Pimpinan ISIS Tewas, Pengamat Ingatkan Ancaman Terorisme di Indonesia Bakal Lebih Serius
Selama di Timur Tengah, Joanna Palani adalah bagian dari pasukan yang membebaskan sekelompok gadis Yazidi yang diculik untuk dijadikan budak seks di Iran.
"Saya adalah seorang penembak jitu.”
“Saya suka menggunakan otak dan tubuh saya untuk fokus pada misi saya," ungkap Joanna.
"Saya dilatih oleh banyak kelompok di Kurdistan dan di luar wilayah Kurdi di Suriah," tambahnya.
Dia juga dilaporkan memerangi pemerintahan rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Cerita Luar Biasa Seorang Joanna Palani
Selama perang Iran-Irak, sepasang suami istri melarikan diri dari Iran, yang melahirkan bayi perempuan di sebuah kamp pengungsi di Irak.
Tiga tahun kemudian, mereka membuat rumah di Skandinavia, membesarkan anak mereka di pedesaan Denmark.
Gadis kecil itu, Joanna Palani, menjadi perempuan yang sangat independen, idealistis secara politis.
Baca: Klaim Sudah Bunuh Pemimpin ISIS, Trump Gambarkan Al Bagdhadi Mati bak Anjing: Menangis dan Menjerit
Sekitar dua dekade sejak keberangkatan orangtuanya dari tanah air mereka, Joanna, seorang siswa sekolah menengah, meninggalkan rumah yang aman untuk bergabung dalam perang Kurdi melawan ISIS.
Dikutip dari featureshoot.com, awal tahun 2016, fotografer Denmark Asger Ladefoged dan jurnalis Allan Sorensen, keduanya staf di koran Berlingske, melakukan perjalanan ke Rojava, Suriah, untuk mencari Joanna.
Meskipun mereka tidak dapat melacaknya, Sorensen menerima permintaan pertemanan Facebook tidak lain dari pejuang Kurdi muda itu.