TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pihak Kepolian RI mengakui bahwa Facebook sampai saat ini masih tidak kooperatif dalam mengikuti penegakan hukum di Indonesia.
Menurut keterangan polisi, platform media sosial tersebut seringkali tidak mau membuka data pengguna yang menjadi target polisi terkait penyebaran hoaks atau informasi palsu.
Kasubdit III Dittipdsiber Bareskrim Polri Kombes Pol Kurniadi, mengatakan bahwa belum kooperatifnya Facebook hingga kini dikarenakan data-data pengguna itu bukan berada di wilayah Indonesia sehingga terkendala dasar hukum.
Kurniadi membeberkan, Facebook seringkali menolak untuk membuka data pengguna yang melakukan tindak pidana dengan alasan kebebasan berpendapat.
Baca: Berkasih di Facebook, Seorang Pria di Merangin Ditipu Rp 141 Juta, Pelaku Ternyata Laki-laki
Baca: HEBOH Mutilasi Istri & Anak di Malaysia, Suami Jadi Tersangka Padahal Kerap Tampil Mesra di Facebook
Baca: Nico Siahaan, Presenter dan Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Dipanggil KPK Terkait Pencucian Uang
"Jadi kalau kami ditanya dasarnya apa minta data pengguna ini, kami bilang dasarnya adalah target ini melakukan tindak pidana. Tapi (kata Facebook) di negara mereka itu adalah kebebasan berpendapat, jadi tidak ada pelanggaran hukum," kata Kurniadi dikutip Tribunnewsiki.com dari Kompas.com, Selasa (29/10/2019).
Bahkan sampai saat ini, Kurniadi mengatakan hanya kurang dari 50 persen dari permintaan kepolisian yang ditanggapi oleh Facebook.
Itu membuat pihak kepolisian kesulitan untuk melakukan penegakan hukum.
"Kami tidak memiliki data apa-apa, semua data ada di luar, seperti Facebook itu. Kami mengalami banyak hambatan," kata Kurniadi saat ditemui dalam acara penandatanganan kesepakatan kerja sama keamanan siber antara Huawei dan BSSN, Selasa (29/10/2019).
Ia pun menambahkan, kepolisian perlu melakukan pendekatan yang lebih personal dan intensif agar pihak Facebook mau lebih kooperatif dengan proses penegakan hukum di Indonesia.
Facebook tangkal hoaks
Kabar bohong alias hoaks sangat mudah beredar di internet melalui beragam kanal, seperti melalui jejaring sosial.
Dalam rangka memerangi peredaran hoaks, Facebook dan Instagram belakangan mengumumkan rencana menambah fitur baru untuk menandai posting yang kebenarannya diragukan.
Baca: Sparta, Anjing Belgian Malinois Ini Meninggal di Pelukan Bima Aryo: Kalau Mau Pergi Nggak Apa Sayang
Baca: 7 FAKTA Betsalel Fdida Pacar Nikita Mirzani, Baru Pacaran 3 Bulan dan Pernah Berbohong soal Usianya
Menurut penjelasan di Facebook Newsroom, nantinya unggahan Instagram atau Facebook -termasuk foto dan video- yang terindikasi merupakan hoaks bakal diburamkam supaya tidak bisa dilihat.
Sebuah label turut disematkan untuk memberitahukan pengguna bahwa posting terkait memuat informasi ngawur.
Sebuah tombol "See why" dapat di-klik untuk melihat alasan mengapa posting tersebut ditandai sebagai hoaks.
Ilustrasi pemblokiran konten hoaks di Facebook (kiri) dan Instagram (kanan).
Untuk menelusuri kebenaran informasi dalam sebuah posting, Facebook mengandalkan jasa pengecek fakta (fact checkers) pihak ketiga.
Selain menandai sejumlah konten yang sudah diunggah, pihak Facebook juga bakal turut mencegah pengguna yang ingin menyebarkan (share) konten yang terindikasi hoaks tadi ke platform lain.
Sebelum mereka membagi konten tersebut, Facebook bakal mencegat pengguna dengan jendela pop-up yang mengingatkan bahwa unggahan itu memang sudah dianggap hoaks oleh para fact checkers.
Meski demikian, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Facebook Newsroom, Jumat (25/10/2019), pengguna masih bisa membagikan unggahan tersebut dengan meng-klik tombol "Share anyway".
Belum diketahui kapan fitur penangkal hoaks ini bakal digulirkan secara meluas bagi pengguna Facebook dan Instagram.
Hukuman dari Facebook
Sejak beberapa bulan lalu, Facebook terus melakukan upaya untuk membenahi reputasinya sebagai platform sarang hoaks.
Upaya kain yakni menyasar laman grup-grup Facebook yang kerap membagikan hoaks dan informasi keliru, terlebih menjelang musim pemilu di berbagai negara.
Laman grup yang ketahuan rajin menyebar hoaks akan "dihukum", dengan membatasi sebaran informasinya di lini masa Facebook.
Perubahan itu cukup penting, untuk mencegah hoaks yang tersebar lebih luas, setidaknya di platform Facebook.
Jejaring sosial raksasa tersebut juga akan menyortir urutan berita, mulai dari yang sangat penting secara umum hingga berita populer.
Cara ini kurang lebih sama dengan yang dilakukan Google dalam memberikan hasil pencarian.
Apabila situs sering ditautkan ke situs lain, sistem akan menganggap sumber tersebut terpercaya.
Baca: Dilaporkan ke Polisi, Ini Kicauan Hanum Rais di Twitter yang Dianggap Sebarkan Berita Hoaks
Baca: Situasi Terkini Kerusuhan di Wamena, Papua: Polisi Dalami Kasus dan Buru Penyebar Hoaks
Baca: Hasil Penelitian, Hoaks Rentan Disebarkan oleh Orang Berpendidikan dan Berpenghasilan Rendah
Cara ini disebut akan memudahkan Facebook untuk memberitahu penggunanya apakah penerbit yang merilis berita adalah sumber terpercaya atau tidak.
Facebook juga melakukan beberapa perubahan untuk cek fakta berita dengan menyertakan "Trust Indicators" dari The Trust Project, sebuah konsorsium dari penerbit berita yang mengawal faktualitas berita online.
Tak cuma di linimasa, Facebook juga melakukan beberapa perubahan di Messenger.
Beberapa fitur WhatsApp yang digunakan untuk mengurangi sebaran hoaks mulai digulirkan ke Messenger.
Salah satunya label "forwared" yang mengnindikasikan bahwa pesan yang mereka terima bukan pesan orisinil melainkan sudah diteruskan sebelumnya.
Ada pula "tombol konteks" yang memungkinkan orang-orang untuk melihat detail informasi yang telah mereka kirim.
Perubahan lain juga digulirkan Facebook untuk membuat penggunanya merasa lebih aman berselancar di platform jejaring sosial itu.
Perubahan tersebut meliputi adanya alat pemblokir yang lebih rinci dan memberikan lencana verifikasi untuk profil di Messenger.
Pengguna juga akan bisa menghapus unggahan dan komentar di sebuah grup meskipun telah meninggalkan grup tersebut. Facebook pun menambah lebih banyak informasi tentang "Page quality", termasuk apabila judul berita tersebut "clickbait" atau tidak.
Mereka juga berupaya untuk mengurangi pesebaran konten yang tidak dilarang di Instagram. Dalam hal ini, Facebook mengatakan bahwa unggahan bernuansa seksual kemungkinan masih muncul di feed pengguna, namun tidak akan muncul di laman eksplor.
Facebook juga berjanji akan meningkatkan pengawasan moderasi grup ketika menentukan apakan grup tersebut melanggar aturan komunitas atau tidak.
(Tribunnewswiki.com/Kompas.com/Haris/Clinten)