Pertolongan pertama yang diberikan antara lain dengan memberikannya air gula.
"Kondisinya lemas, dan tadi langsung digendong jadi belum tahu apa dia sudah bisa jalan atau belum.
Kemungkinan yang 'menunggui' jenazah ayahnya di kasur itu," imbuh Sutarjo.
Setelah itu, sang bayi langsung dilarikan ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Kaliwining yang jaraknya tidak jauh dari perumahan itu.
Bayi itu baru menangis lagi setelah hendak dimandikan.
Kondisi bayi Annisa memprihatinkan. Tubuhnya lemas dan kotor.
"Popoknya sudah kering ada tinja dan pipisnya. Sampai kering semua," imbuh Anik Nurazizah, tetangga Fauzi yang merawat bayi Annisa.
Setelah dirawat di Pustu, bayi Annisa diserahkan ke Anik.
3. Bau Menyengat
Meski sudah dimandikan beberapa kali, bau mayat masih menempel di tubuh bayi Annisa.
"Bahkan sampai tadi masih nempel baunya. Kasihan. Sama suami saya juga nempel terus. Tadi pagi bangun tidur nangis sambil bilang "yah-yah, mik". Mungkin maksudnya minta minum ke ayahnya," ujar Anik.
Bayi Annisa diduga menunggui jasad ayahnya sejak Minggu (11/8/2019) dan baru ditemukan pada Rabu (14/8/2019) siang menjelang Ashar.
Artinya dia menunggui jenasah ayahnya sekitar 3,5 hari dan 3 malam.
Kini kondisi bayi Annisa sudah berangsur membaik. Tubuhnya sudah bersih.
Kamis (15/8/2019) siang, dia digendong sang budhe.
Dia sudah mulai tersenyum dan berceloteh kala tidak tidur.
4. Diserahkan ke Bude
Bayi Annisa akhirnya diserahkan ke budenya, Setiyanti yang berasal dari Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi.
Budhenya ini adalah kakak dari ibu Annisa, Sulastri.
Proses penyerahan bayi malang itu dilakukan di Balai Desa Kaliwining.