Nezar Patria

Nezar Patria adalah seorang jurnalis yang pernah menjadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI)


Nezar Patria
dewanpers.or.id
Nezar Patria 

Nezar Patria adalah seorang jurnalis yang pernah menjadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI)




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Nezar Patria adalah seorang jurnalis yang pernah menjadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Nezar Patria dikenal sebagai satu di antara aktivis 1998.

Pada tahun tersebut, Nezar Patria pernah diculik, tetapi berhasil kembali.[1]

Baca: Hikmahanto Juwana

Baca: KH. Yahya Cholil Staquf

 

Nezar Patria jurnalis Indonesia
Nezar Patria jurnalis Indonesia (Instagram.com/nezarpatria)

  • Kehidupan dan pendidikan


Nezar Patria lahir di Sigli, Aceh, pada 5 Oktober 1970.

Nezar adalah anak Sjamsul Kahar, satu dari dua pendiri Serambi Indonesia.[2]

Dia bekuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada 1997.

Nezar memilih kuliah di Yogyakarta karena kagum dengan penulis-penulis yang berdomisili di sana, termasuk Emha Ainun Nadjib. [3]

Baca: Pratikno

Baca: Prabowo Subianto

Selama menjadi mahasiswa, Nezar aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, di antaranya Jamaah Shalahuddin UGM (1990-1991), Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM (1992-1996), Kelompok Studi Plaza (Fisipol UGM), dan Sekretaris Jenderal Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID, 1996)

Dia mulai menjadi aktivis ketika bertemu Andi Munajat, satu di antara orang yang berjasa mendirikan SMID, cikal bakal Partai Rakyat Demokratik.

Nezar memperoleh gelar Master of Science dari Department of International History, London School of Economic and Political Science, Inggris, dengan tesis “ Islam and Nationalism in the Free Aceh Movement (1976-2005).”[3]

  • Karier dan penculikan


Nezar menjadi aktivis penentang Orde Baru pada 1990-an

Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 terjadi, dia dan beberapa kawannya sesama anggota SMID, menjadi target penculikan.

Nezar, Mugiyanto, Petrus Bima Anugrah, Aan Rusdianto, diculik dari lantai dua Rumah Susun Klender, Jakarta Timur.

Nezar kemudian dipindahkan ke sel isolasi Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Dia berada di sini selama tiga bulan dan dibebaskan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri.

Nezar memutuskan berkarier menjadi seorang jurnalis pada 1998.[4]

Dia bergabung di Majalah DR pada 1999-2000 dan berlanjut di Majalah TEMPO hingga 2008.

Nezar turut portal berita mendirikan VIVA.co.id (2008-2014).

Pada 2003, dia memenangkan Journalism for Tolerance Prize yang digelar International Federation of Journalist (IFJ) di Manila, Filipina.

Dia mendapatkan penghargaan tersebut karena liputan investigasinya tentang kerusuhan Mei 1998 yang dimuat di Majalah Tempo.

Nezar juga menjadi anggota tim pembebasan wartawan RCTI Feri Santoro di Aceh yang disandera Gerakan Aceh Merdeka (2004).

Nezar terpilih menjadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen periode 2008-2009.

Selain itu, dia juga menjadi editor jurnal Prisma (LP3ES).[5]

Mulai 2018, Nezar menjadi kepala editor The Jakarta Post. [6]

 (TRIBUNNEWSWIKI.COM/Febri)



Nama Nezar Patria
Lahir Sigli, 5 Oktober 1970
Dikenal sebagai Jurnalis dan aktivis 1998
Penghargaan Journalism for Tolerance Prize (2003)
Instagram Instagram.com/nezarpatria


Sumber :


1. www.prismajurnal.com
2. aceh.tribunnews.com
3. beritagar.id
4. dewanpers.or.id
5. www.thejakartapost.com






ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved