TRIBUNNEWSWIKI.COM - Indonesia mulai memasuki musim penghujan pada Oktober ini, bahkan di beberapa wilayah sudah turun hujan lebat.
Pergantian musim pastinya membutuhkan penyesuaian, termasuk urusan tunggangan roda dua Anda.
Anda perlu memerhatikan beberapa hal agar dapat mengendarai kuda besi dengan aman dan nyaman pada musim penghujan.
Ada beberapa tips yang mungkin berguna bagi Anda, dari teknik mengendarai motor sampai hal-hal teknis lainnya.
Baca: Apa Pemilik Berhak Tuntut Ganti Rugi Jika Kendaraan Hilang di Parkiran?
Baca: Perbedaan Kerb Weight, Gross Weight, dan Dry Weight pada Kendaraan
Dilansir oleh Kompas.com, sepuluh menit pertama ketika hujan turun merupakan waktu yang paling krusial.
Jalan akan menjadi licin karena tanah dan pasir belum tersapu ke pinggir jalan.
Hal ini tentu saja membahayakan pengendara sepeda motor karena akan membuat traksi ban motor hilang atau berkurang.
Menurut Hendrik Ferianto, Instruktur Keselamatan Berkendara PT Astra Honda Motor (AHM), sebaiknya para pengendara motor segera cari tempat berteduh yang aman, seperti halte atau rumah.
“Jangan berteduh di bawah pohon, karena berbahaya. Hindari juga berteduh di bawah flyover atau terowongan, karena akan membuat jalanan menjadi macet," kata pria yang akrab disapa Erik tersebut, kepada Kompas.com, belum lama ini.
Erik menambahkan, segera gunakan jas hujan bila ingin melanjutkan perjalanan.
Jangan menggunakan jas hujan hanya saat hujan mulai lebat.
Sebab, dapat berpotensi membuat konsentrasi terpecah dan pengendara melakukan pergerakan tiba-tiba yang bisa membahayakan.
Baca: Pemerintah Wajibkan Kendaraan Listrik Punya Suara, Ternyata Ini Alasannya
Pengendara juga harus memerhatikan kecepatannya, usahakan mengurangi kecepatan kendaraan.
"Berkendaralah dengan kecepatan rendah dan kurangi penggunaan rem depan sebagai rem utama saat kondisi rintik dan hujan," ujar Erik
Menurut Erik, berhenti dan berteduh adalah pilihan terbaik dibanding berkendara dalam kondisi hujan.
Lalu bagaimana jika pengendara motor tetap ingin melanjutkan perjalanan meski sudah hujan lebat?
Boleh saja, namun pengendara harus paham risikonya.
Satu di antara risiko tersebut adalah motor mogok.
Pada umumnya motor yang mogok ketika hujan disebabkan oleh genangan air atau banjir yang terlalu tinggi.
Ade Rohman, Asisten Manajer Technical Service PT Daya Dicipta Motora (DAM), main dealer Honda di Jawa Barat mengatakan, saat motor melewati genangan air atau banjir, ada risiko mengalami water hammer.
Water hammer adalah kondisi di mana air masuk ke dalam ruang bakar.
Air tersebut tidak dapat berkurang volumenya ketika dikompresikan. Sehingga, stang piston (connecting rod) kalah dan menjadi bengkok, hingga akhirnya mesin mogok.
"Perhatikan, jangan sampai genangan air melewati jalur pernapasan mesin," ujar Ade, ketika dihubungi Kompas.com.
Ade menjelaskan, ada tiga hal yang harus dihindari ketika sepeda motor terpaksa melewati genangan air banjir yang tinggi, yakni pernapasan mesin, lubang knalpot, dan lubang saringan udara.
Ketiga lubang tersebut harus bebas dari air untuk menghindari risiko mesin mogok.
Ade juga menambahkan, jika tidak yakin akan ketinggian genangan air, sebaiknya mengambil rute lain yang lebih aman.
Baca: Inilah Isle of Man TT, Ajang Balap Motor Paling Berbahaya di Dunia, Valentino Rossi Pun Takut
Baca: Yamaha NIKEN GT, Motor Sport Beroda Tiga Segera Hadir, Ini Fitur yang Ditawarkan
Pengendara motor juga harus fokus saat hujan karena kondisi jalan ketika hujan tentu berbeda dengan kondisi ketika kering.
Bahkan, harus lebih berhati-hati lagi jika pengendara tersebut memakai kacamata.
Suhu yang rendah membuat kacamata mudah berembun.
Kacamata yang berembun bisa membuat pandangan jadi terbatas.
Visibilitas yang rendah, dikombinasikan dengan jalan licin membuat rawan kecelakaan.
Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, main dealer motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang, mengatakan, helm full face atau open face sama saja, asal ada visor untuk melindungi lensa kacamata.
"Jika menggunakan kacamata usahakan selalu dalam kondisi bersih supaya mencegah pengembunan. Selain itu lindungi kacamata dengan menutup visor helm saat kondisi hujan," ujar Agus kepada Kompas.com, Kamis (10/10/2019).
Pengembunan atau kondensasi terjadi karena suhu di dalam ruangan lebih besar dari luar ruangan.
Sehingga udara yang ada tidak dapat lagi menahan semua uap air.
Kelebihan uap air akan berubah menjadi embun.
Salah satu cara termudah mengatasi embun, yang bisa ditemukan sehari-hari, adalah menggunakan minyak kayu putih atau sabun cuci cair untuk piring.
Baca: Kepribadian - INTJ (Introversion, Intuition, Thinking, Judgement)
Selain itu, pengendara juga perlu memerhatikan si bundar hitam, alias ban.
Ban memegang peran penting dalam keselamatan berkendara.
Banyak kasus kecelakaan motor yang terjadi di musim hujan disebabkan ban yang licin, baik itu kecelakaan tunggal maupun kecelakaan yang melibatkan orang lain.
Jimmy Handoyo, Technical Service & Development Department Head PT Suryaraya Rubberindo Industries (FDR Tire), mengatakan, untuk musim hujan sebaiknya memilih ban yang memiliki pattern atau kembangan yang berfungsi sebagai alur pembuangan air.
"Jangan memakai ban dengan jenis kembangan untuk jalan kering, seperti kembangan yang minimalis atau bahkan slick (ban balap)," ujar Jimmy, ketika dihubungi Kompas.com
Jimmy menambahkan, baik itu tube type (dengan ban dalam) atau tubeless (tanpa ban dalam), biasanya di setiap ban ditulis peruntukkannya, wet (basah), dry (kering), atau wet & dry (basah dan kering).
Meskipun sudah melaksanakan tips di atas, pengendara juga harus selalu waspada agar bisa berkendara secara aman dan nyaman.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Febri/ KOMPAS.COM)