Taufan menyebutkan bahwa kerusuhan tersebut diduga akibat kesalahpahaman yang menimbulkan isu bahwa ada seorang guru yang melecehkan muridnya dengan perkataan bernada rasial.
"Ada seorang guru, itu guru pengganti, jadi ketika ngajar sebetulnya kalau menurut versi ibu ini dia tidak mengucapkan kera tapi keras," kata Taufan.
Baca: Korban Tewas Kerusuhan Wamena Bertambah Jadi 32 Orang, Rata-rata Ditemukan Hangus Terbakar
Baca: Kisah Dokter Soeko, Meninggal dalam Kerusuhan Wamena Saat Mengabdi di Pedalaman Papua
Menurut Taufan, mulanya peristiwa yang terjadi Rabu (18/9/2019) belum terjadi aksi.
Aksi muncul pada tiga hari berikutnya yaitu pada Sabtu (18/9/2019).
Taufan mengatakan, saat itu ada beberapa orang yang marah karena mendapat informasi terkait ucapan guru tersebut.
Menurut Taufan, ekskalasi unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan inilah yang mesti diinvestigasi karena muncul dugaan bahwa massa perusuh bukan merupakan warga Wamena.
Dugaan penggunaan senjata tajam dan senjata api tersebut perlu ditindak lanjut karena menyebabkan korban tewas dan luka.
Menurut Taufan, kerusuhan ini telah dirancang secara sistematis.
"Enggak jelas jadinya siapa yang melakukan atas kepada siapa, karena semua letusan senjata itu ada di mana-mana itu keterangan dari warga itu mereka tidak bisa dipastikan siapa ini," ujar Taufan.
(TRIBUNNEWSWIKI/Afitria Cika) (Kompas.com/Perdana Putra)