Namun, penyebab kebakaran diduga akibat human errors atau kesalahan manusia lantaran lokasinya terletak tak jauh dari permukiman penduduk.
“Kalau lihat lokasi kebakarannya masih berada di dekat permukiman. Ketinggiannya tidak terlalu jauh dengan puncak. Jadi, bisa diperkirakan ulah manusia. Mungkin ada yang buang puntung rokok sembarangan," kata dia.
Teguh mengatakan, tahun ini Jateng mengalami kebakaran hutan di sejumlah titik.
Di antaranya di lereng Gunung Merapi dan Merbabu, yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi-Merbabu.
"Selain itu, terjadi pula di lereng Gunung Sumbing dan Gunung Slamet. Lahan dan hutan yang terbakar berskala kecil sekitar 1,5 sampai 2,5 hektare," ujar dia.
Saat ini, pihaknya masih menginventarisasi total kerugian yang diakibatkan karhutla di Jateng sepanjang 2019.
Baca: Gunung Rinjani
Hanguskan sebagian ekosistem edelweis
Kebakaran hutan di Kawasan Gunung Merbabu juga menghanguskan sebagian ekosistem bunga edelweis dan sabana.
Kepala Seksi Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) Nurpana Sulaksono menyampaikan bunga berjuluk bunga abadi yang terbakar berada di dataran tinggi atau ketinggian sekitar 2.500 meter.
Sebab, bunga yang memiliki nama latin Anaphalis Javanica tumbuh secara menyebar dan tidak mengelompok di satu tempat.
"Secara luasan khusus tanaman edelweis belum bisa dihitung. Bunga ini tumbuh menyebar berada di ketinggian dan tidak mengelompok," katanya, Rabu (18/9/2019).
Dia mengatakan tidak sulit untuk mengembalikan ekosistem bunga edelweis yang sudah terbakar.
Sebab tanaman ini mudah beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
"Untuk pengelolaannya akan kita monitor supaya bisa pulih kembali bunga edelweis dan sabana," jelas dia.
(TribunnewsWIKI/Kompas.com/Dian Ade Permana/Labib Zamani/Riska Farasonalia/Widi Hermawan)