Kisah Hayfa Adi, Imigran Australia yang Diculik ISIS, Suaminya Dihilangkan

Hayfa Adi seorang imigran Australia menceritakan kesaksiannya saat diculik oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).


zoom-inlihat foto
hayfa-adi-23.jpg
(Susan Cullinan, Australian Red Cross)
Hayfa Adi menunjukkan foto pernikahannya. Dia berharap suaminya dapat ditemukan kembali.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hayfa Adi menceritakan kesaksiannya saat diculik oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)

Selama lebih dari dua tahun ia dipukuli, diperkosa, dan diperdagangkan di antara sesama militan ISIS.

Hayfa Adi dan keluarganya adalah bagian dari komunitas Yazidi di Australia yang berhasil kabur dari kamp ISIS di Suriah.

Laporannya kepada ABC News Australia, Selasa, (10/9/2019), Hayfa menceritakan pengalamannya saat ditangkap dan menjadi budak perdagangan manusia di Irak dan Suriah.

"Mereka membeli kami seolah-olah kami adalah domba. Persis seperti domba," ungkap Hayfa.

Hayfa menuturkan bahwa ia dan perempuan Yazidi lainnya ditangkap, sementara para suaminya dibawa ke suatu tempat.

Saat dibawa ke suatu bangunan kosong, mereka menyuruh Hayfa dan suaminya beserta para komunitas Yazidi untuk masuk Islam

"Mereka menyuruh kami untuk masuk Agama Islam. Tidak ada yang mau masuk Islam. Setelah itu mereka membawa para pria (termasuk suaminya). Kami tak tahu ke mana mereka membawanya", ungkap Hayfa

Lebih jauh lagi, Hayfa Adi menceritakan bagaimana ia berhasil selamat dan kemudian membangun kembali kehidupan keluarganya di daerah Queensland Tenggara, Australia.

Kendati demikian, ia masih mencari tahu keberadaan dan kabar suaminya, Ghazi Lalo.

Hayfa Adi ingin berbagi kisahnya agar peristiwa yang ia alami tidak terjadi lagi.
Hayfa Adi ingin berbagi kisahnya agar peristiwa yang ia alami tidak terjadi lagi. (ABC News: Curtis Rodda)

Ketika suaminya diculik, anak mereka yang pertama masih balita.

"Dia ingat ayahnya dan terus bertanya, 'Bu, kapan ayah kembali?'," tutur Hayfa.

Sedangkan anaknya yang paling muda tidak pernah mengenal ayahnya, karena dilahirkan di kamp penangkapan dan markas ISIS.

"Tak mengetahui sesuatu adalah hal yang "sangat berat, sangat memberatkan bagi kami semua", kata Hayfa.

"Dia (anaknya) mirip seperti ayahnya, matanya, mulutnya. Saat aku liat dia (anaknya), aku merasa suamiku bersamaku kembali", kata Hayfa.

Kami hanya berusaha mencari jalan untuk bertahan hidup.

Sudah lima tahun lamanya sejak keluarga Hayfa hancur karena tindakan genosida ISIS terhadap orang-orang Yazidi di Irak utara dan Suriah.

Dilaporkan oleh ABC, sekitar 7.000 (tujuh ribu) anggota etnis dan agama yang minoritas di sana dibunuh, sementara 3.000 (tiga ribu) lainnya hilang.

Dituturkan olehnya saat penangkapan terjadi, ia sedang hamil tua dan berada di Desa Kocho, tempat di mana ia, suami, dan, putra pertamanya tinggal

Hayfa Adi bersama anaknya yang bersekolah di taman kanak-kanak di Toowoomba, Queensland, Australia
Hayfa Adi bersama anaknya yang bersekolah di taman kanak-kanak di Toowoomba, Queensland, Australia (ABC News: Nic Coleman)

 

 

 

Baca: Mia Khalifa Buka Fakta Honor Main Film Porno, Alasan Jadi Aktris hingga Pernah Diancam Dibunuh ISIS

Berawal dari makan siang

"Saya sudah menyiapkan makan siang untuk" katanya.

"Sekitar tengah hari, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu."

"Paman dari suami saya berlari ke arah kami sambil berkata, 'ISIS ada di Kocho'."

Kelompok ISIS tersebut kemudian menggiring 1.200 penduduk kota menuju sebuah bangunan sekolah setempat.

Di bangunan sekolah setempat ini, para warga disuruh masuk Islam, namun tidak ada yang mau.

Kemudian berdasarkan kesaksiannya, para suami dibawa ke suatu tempat tertentu.

Hayfa menerima laporan dari saksi mata, menurutnya para pria tersebut dibawa pergi dan ditembak.

Terlepas dari kebenaran laporan yang ia dapatkan, Hayfa tetap yakin pada harapannya bahwa ia akan melihat suaminya kembali sedia kala dan bahagia dalam hidupnya.

Dirinya diperdagangkan

Pada suatu hari di bulan Agustus 2014, sesuai penuturan Hayfa kepada ABC, selama lebih dari dua tahun ia bersama dengan para perempuan Yazidi (suatu kelompok dengan gabungan ajaran Syiah dan Sufi Islam) diperdagangkan di antara para militan ISIS di Irak dan Suriah

Diakui olehnya bahwa ia diperjual belikan sekitar 20 kali.

"Banyak orang membawa saya, menyiksa saya, memukul saya," ungkap Hayfa.

Ditutukan olehnya, ia sempat berontak terhadap kelompok yang menawannya kapanpun ia punya kesempatan

Ia juga sempat menolak perintah mereka untuk membuka pakaiannya saat ditawarkan ke calon pembeli

"Saya menolak untuk menunjukkan tubuh saya kepada mereka," katanya.

"Kami harus menunjukkan tangan kami"

"(Berkulit) putih dianggap baik. Dan mereka akan melihat apakah rambut kami indah dan panjang."

Berulang kali diperkosa

Hayfa menuturkan bahwa dirinya berulang kali diperkosa.

Ia mengaku ketakutan terbesarnya adalah kehilangan anak-anaknya.

"Mereka mengambil putra pertama saya selama satu bulan karena saya tak mau tidur dengan penculik saya," kata Hayfa.

"Mereka mengikat tangan dan kaki saya, menutup mata saya dan menyumbat mulut saya. Mereka memukul saya dan membuat saya terkunci di sebuah ruangan."

Agar anak-anaknya selamat, Hayfa mengaku rela tidur bersama penculiknya.

"Saya membiarkan mereka tidur bersama saya supaya saya bisa mendapatkan anak saya kembali."

Hari kebebasan

Pada suatu waktu mertua (orangtua dari suaminya) membayar seorang penyelundup untuk membeli dirinya.

Pembelian dirinya adalah pembelian kebebasannya.

Akhirnya, Hayfa dan putra-putrinya berhasil melarikan diri dari kamp ISIS.

Mereka (Hayfa dan anak-anaknya) tiba di Toowomba, Queensland, Australia, dengan menggunakan visa kemanusiaan pada tahun lalu (2018).

Komunitas Yazidi di Australia telah mencapai lebih dari 800 orang.

Ia bercerita bahwa di Australia, dua anaknya dapat belajar di taman kanak-kanak dan sekolah setempat.

Sementara, Hayfa belajar bahasa Inggris di TAFE (semacam sekolah kejuruan)

"Saya sangat nyaman di sini bersama anak-anak saya," kata Hayfa.

"Yang paling penting adalah kehidupan anak-anak saya, bukan hidup saya. Dan tentu saja jika suami saya kembali, hidup saya akan benar-benar indah."

Tanggapan Australian Red Cross

Terkait dengan hilangnya suami Hayfa, seorang petugas Australian Red Cross (Palang Merah Australia), Sue Callender menerangkan bahwa menemukan Ghazi (suami Hayfa) kemungkinannya adalah kecil sekali.

Sue Callender adalah bagian dari Tim Penelusuran lembaga kemanusiaan yang bekerja untuk menghubungkan kembali orang-orang yang telah dipisahkan oleh konflik, migrasi atau bencana.

"Ghazi hilang di sebuah daerah bernama Kocho dan kami tahu bahwa banyak Yazidi ditangkap di Kocho dan juga banyak yang dieksekusi dengan mengerikan," kata Sue

"Kami hanya berharap, demi Hayfa, dia (Ghazi) dapat ditemukan hidup-hidup"

"Tapi itu tak mungkin terjadi."

Lima tahun setelah "Pembantaian Kocho" oleh militan ISIS terhadap kelompok Yazidi, penggalian 17 tempat yang diduga kuburan massal di sekitar kota itu telah dimulai.

Putra Hayfa Adi bersekolah di wilayah Toowoomba. (ABC News: Nic Coleman)

Masih ada kemungkinn tubuh Ghazi (apabila dinyatakan terbunuh) bisa digali dengan bantuan DNA putra-putranya.

"Perasaan saya campur aduk," kata Hayfa.

"Saya sangat takut suami saya ada di antara mereka yang mati, bahwa semua pria mati. Hati saya hancur."

"Seluruh dunia melihat apa yang terjadi pada para perempuan, para perempuan Yazidi. Apa yang terjadi pada para pria? Mati?." tutur Hayfa.

Hayfa juga menerangkan bahwa ISIS telah mengambil harga diri mereka.

Kesediannya untuk diwawancara salah satunya agar publik tahu kisah yang dialaminya, dan kejadiannya tidak berulang.

"ISIS menghancurkan rumah kami dan mengambil martabat kami. Kami benar-benar lelah, itu sebabnya saya ingin menceritakan kisah saya, sehingga mereka tak akan melakukan ini lagi."

Baca: Mia Khalifa Buka Fakta Honor Main Film Porno, Alasan Jadi Aktris hingga Pernah Diancam Dibunuh ISIS

Baca: Materi Kuliah Sebut Ada 300 Juta Muslim Radikal, Mahasiswa Ini Laporkan Kampusnya ke Komisi HAM

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved