Materi Kuliah Sebut Ada 300 Juta Muslim Radikal, Mahasiswa Ini Laporkan Kampusnya ke Komisi HAM

Tayeba Quddus, salah seorang mahasiswa Holmesglen Insititute di Melbourne, melaporkan kampusnya karena materi perkuliahan yang mengandung kebencian


zoom-inlihat foto
tayeba-quddus.jpg
(ABC News: Mary Gearin)
Tayeba Quddus melaporkan kampusnya atas materi Islamofobia yang dibuat dalam slide pengajaran.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang mahasiswa Holmesglen Insititute di Melbourne, bernama Tayeba Quddus sempat terkejut ketika melihat materi kuliahnya tentang keberagaman menyebutkan bahwa terdapat "sebagian Muslim damai", dan ada hingga 300 juta Muslim yang "radikal dan ingin merusak dan membunuh".

Pernyataan yang dibuat dalam slide materi perkuliahan ini diunggah di portal daring Holmesglen Insititute dan belum disampaikan secara luas ke mahasiswanya.

Tayeba yang melihat ada pernyataan yang merujuk Islamophobia, kemudian bereaksi dengan melaporkan kampusnya ke komisi hak asasi manusia.

Pernyatan tersebut dibuat dari seorang aktivis yang (menurut Tayeba) adalah seorang anti-Muslim.

Baca: Usai Beraksi, Teroris Penembakan Selandia Baru Sempat Bertanya, Berapa Banyak yang Saya Bunuh?

Baca: Teroris Penembak Masjid Selandia Baru Kirim Surat dari Balik Penjara, Isinya Bernada Kebencian

Dilaporkan oleh ABC, Tayeba mengaku merasa kecil hati dan bingung dengan apa yang ia sebut sebagai "sickening in its bigotry (sikap kebencian yang memuakkan)"

Tayeba teringat teror yang terjadi di Christchurch, Selandia Baru, dan gerakan ekstremisme sayap kanan, serta kampanye politik yang menjelekkan sebagian besar Muslim.

Menurutnya, materi kuliah tersebut sangatlah tidak membantu dalam dialog dan justru semakin memperburuk keadaan mengingat iklim politik yang justru mendukung gerakan-gerakan tersebut.

Mahasiswi berusia 26 tahun itu sebelumnya sudah merasa terganggu saat diskusi di salah satu mata kuliah di Holmesglen Insititute di Melbourne.

Ia mengaku para mahasiswa memang diizinkan berbagi pemikiran mereka, namun menurutnya justru klise dan palsu tentang Muslim.

Baca: PB Djarum Stop Audisi, Pelatih Ungkap Fakta di Baliknya: Kita Benar-benar Murni Membina Atlet

Baca: Bocah di Bekasi Tewas usai Di-bully, Sempat Muntah hingga Kejang, Sang Ibu: Kebenaran akan Terungkap

Sebelumnya ia pernah mengadukan hal ini kepada dosennya, yang kemudian menerimanya, namun tetap memuatnya sebagai materi kuliah online.

Merasa tidak puas dengan sikap dosennya, Tayeba mengadukan masalahnya ke 'Victorian Equal Opportunity' dan 'Human Rights Commision', semacam lembaga/komisi hak asasi manusia di Australia.

Holmesglen Institute menarik materi kuliah ini dan meminta maaf kepada Tayeba.
Holmesglen Institute menarik materi kuliah ini dan meminta maaf kepada Tayeba. (www.abc.net.au)

Tanggapan Kampus

Dikonfirmasi oleh ABC, setelah pelaporan tersebut, tak lama kemudian, Holmesglen Institute menurunkan materi kuliahnya.

Selain itu, pihak kampus juga turut meminta maaf kepada Tayeba.

Tak hanya itu, pihak kampus juga berjanji untuk memberikan pelatihan kepada para dosen terkait isu ini.

Pihak Holmesglen Institute dalam sebuah pernyataan kepada ABC, menyatakan bahwa materi tersebut adalah tidak pantas.

Materi kuliah yang telah diunggah ke portal daring (online) para mahasiswa tersebut, belum disampaikan dalam mata kuliah.

Setelah pelaporan Tayeba, pihak kampus melakukan penyelidikan dan memutuskan untuk menghapusnya.

"Kami telah memanggil seseorang yang mengunggah untuk mengakuinya dan mengeluarkan permintaan maaf atas apa yang telah dilakukan ," kata pernyataan itu.

"Para dosen yang terlibat untuk sementara dihentikan dari kegiatan mengajar sampai investigasi selesai."





Halaman
1234
Editor: haerahr
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved