"Bukan waktunya lagi untuk menyalahkan. Sekarang harus kompak. Bersatu," kata Hendropriyono.
Dengan sikap Prabowo Subianto tersebut, Hendropriyono mengimbau agar masyarakat tak mengkritik soal check and balances.
Hendropriyono menyebut tak ada salahnya Prabowo Subianto mendukung pemerintah meski posisinya berada di luar pemerintahan atau opisisi.
"Jangan lagi ada kritik-kritik, check and balances itu kalau normal, kalau keadaan normal, ini lagi enggak normal, semua harus bersatu padu," pungkasnya.
Baca: Prabowo Subianto Siap Berikan Lahan Miliknya di Penajam Panser Utara untuk Bangun Ibu Kota Baru
Baca: TERUNGKAP Penyebab Wajah Sandiaga Uno Kusut saat Pengumuman Pilpres: Diusir Prabowo? Ini 7 Faktanya
Karier Hendropriyono dan Prabowo Subianto di Kopassus
Dilansir oleh TribunTimur.com, Hendropriyono merupakan prajurit jebolan Kopassus.
Karier militernya diawali sebagai Komandan Peleton dengan pangkat Letnan Dua Infanteri di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang kini bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Ia kemudian menjadi Komandan Detasemen Tempur Para-Komando, Asisten Intelijen Komando Daerah Militer Jakarta Raya/Kodam Jaya (1986).
Hendropriyono kini dikenal sebagai tokoh intelijen di Tanah Air.
Sementara Prabowo Subianto juga punya pengalaman banyak di tanah Papua.
Prabowo merupakan salah satu prajurit jebolan Kopassus yang pernah memimpin operasi militer di Papua.
Operasi militer itu merupakan pembebasan sandera dari tangan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua.
Prabowo merupakan salah satu prajurit jebolan Kopassus yang pernah memimpin operasi militer di Papua.
Operasi militer itu merupakan pembebasan sandera dari tangan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Mapenduma, Papua.
Pada 9 Mei 1996, Kopassus yang dipimpin Prabowo menggelar operasi menyelamatkan 11 sandera Tim Ekspedisi Lorentz 1995.
Selama 130 hari sejak 8 Januari 1996, mereka disandera kelompok OPM.
Aksi penyanderaan itu menjadi alasan OPM untuk menuntut kemerdekaan dari Indonesia.
Kopassus turun tangan memburu OPM ke Mapenduma.
Operasi yang dipimpin Prabowo berlangsung selama lima hari.
Dalam kontak senjata, delapan orang anggota OPM ditembak mati sedangkan dua orang ditangkap hidup-hidup.
Sementara di pihak sandera, sembilan orang berhasil diselamatkan namun dua sandera terbunuh.
(TRIBUNJAKARTA.COM/TRIBUNNEWSWIKI.COM/Abdurrahman Al Farid)