Kecelakaan lalu lintas dapat memunculkan perasaan gelisah dan pengingkatan denyut jantung ketika menghadapi hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa tersebut.
Misalnya ketika sang korban mendengar klaskson atau decit rem kendaraan, secara otomatis hal tersebut akan mengaktivasi rasa takut.
Selain itu, korban kecelakaan juga dapat merasa berada di ujung maut ketika berkendara.
Mungkin dia jadi akan mudah kaget ketika berada dalam kendaraan.
Orang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas juga akan lebih berhati-hati dan cenderung mengawasi sekitar, terutama pada sumber-sumber potensi ancaman.
Misalnya saja ketika ada orang yang mengemudi sangat kencang.
Kecelakaan lalu lintas juga dapat membuat korbannya lebih suka menghindar.
Hal tersebut dilakukan karena kecemasan yang seringkali timbul setelah peristiwa kecelakaan lalu lintas.
Hal tersebut terjadi secara alami jika orang yang pernah menjadi korban kecelakaan menghadapi situasi atau pengalaman serupa.
Semua respons tersebut bisa terjadi sebagai respons alami terhadap peristiwa traumatis.
Sebab, tubuh didesain untuk tetap awas terhadap potensi ancaman di lingkungan sekitar dan mencegah kita mengalami peristiwa serupa.
Gejala-gejala ini idealnya berkurang seiring berjalannya waktu, namun tetaplah waspada.
Baca: Ahli Sebut Human Error Penyebab Kecelakaan Tol Cipularang, Sopir Sering Netralkan Tuas Transmisi
Jika hal tersebut semakin sering dialami oleh seseorang yang pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, maka ia akan berpotensi mengalami PTSD.
Ada beberapa pengobatan efektif untuk penderita PTSD.
Satu pendekatan yang mungkin cukup membantu adalah terapi pembukaan.
Opsi lainnya adalah terapi kognitif, terapi perilaku, dan pengobatan.
Dengan mengambil langkah dini terhadap gejala kecemasan, maka seseorang bisa mencegah munculnya efek-efek buruk pasca-peristiwa kecelakaan lalu lintas.
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official