TRIBUNNEWSWIKI.COM – Kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman yang biasa dijadikan obat tradisional di Kalimantan dan daratan Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Thailand, dan Myanmar.
Berdasarkan sebuah kajian ilmiah, kratom telah menjadi tanaman yang dikonsumsi masyarakat Thailand bagian selatan dan Malaysia bagian utara.
Dikutip dari Kompas.com, Senin (2/9/2019), Kratom dipercaya dapat membantu mengurangi rasa sakit, membuat rileks, mencegah kelelahan, dan membantu pecandu opium untuk berhenti.
Manfaatnya juga konon sudah tersebar sampai ke seluruh dunia, hingga sangat populer di Amerika Serikat.
Namun, legalitas kratom saat ini dipertanyakan banyak negara, dan Indonesia lewat Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang memroses kratom menjadi obat-obatan terlarang Golongan I.
Lantas, apa saja sebenarnya manfaat, efek samping, dan risiko dari mengonsumsi kratom berdasarkan studi?
Sebelum ke sana, kratom sendiri merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan kopi (Rubiaceae).
Tanaman yang tumbuh di wilayah tropis ini bisa tumbuh dengan tinggi 4 sampai 16 meter.
Para petani kratom biasa memanfaatkan daunnya yang memiliki lebar melebihi telapak tangan orang dewasa.
Sejauh ini, ada sekitar 300.000 petani di Kalimantan yang mengandalkan kratom sebagai mata pencaharian.
Dalam satu hari, tiga petani bisa memetik 200 kilogram daun kratom yang jika kering akan susut menjadi sepersepuluhnya.
Daun kering tersebut kemudian dibentuk menjadi remahan hingga berbentuk mirip daun teh hijau kering.
Baca: Alasan Maluku Dijadikan Tempat Syuting Film Komedi Kapal Goyang Kapten
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 2 September 1666, Kebakaran Besar London
Manfaat dan efek samping daun kratom
Banyak jurnal ilmiah yang telah meneliti dan mengkaji tentang manfaat dan efek samping kratom.
Penelitian itu dilakukan baik oleh ahli dalam negeri mapun dari internasional.
Dalam jurnal berjudul Manfaat Biokimia, Diagnosis, dan Evaluasi Risiko Klinis Kratom yang terbit di National Center of Biotechnology Information (NCBI), edisi April 2017, ahli dari AS menemukan, efek samping kratom tergantung pada dosis pemakaian.
Studi yang dilakukan Dimy Fluyau dari Universitas Emory Atlanta, dan Neelambika Revadigar dari Universitas Columbia New York, meninjau 195 artikel penelitian tentang kratom sejak 2007 hingga 2017 untuk menganalisis manfaat, risiko, dan evaluasi diagnosis kratom.
Analisis data menunjukkan, kratom memiliki beberapa manfaat seperti efek stimulan dan obat penenang, serta mengurangi rasa nyeri.
“Namun, kratom dapat menyebabkan kolestasis intrahepatik (kondisi yang memengaruhi aliran empedu hati), kejang, aritmia, mengganggu fungsi memori, koma, hingga kematian,” tulis ahli dalam laporan mereka.
Selain itu, kratom juga berdampak pada psikologis dan medis.