TRIBUNNEWSWIKI.COM – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa mahasiswa tidak perlu tergesa-gesa untuk lulus kuliah.
Hal itu ia sampaikan ketika ia mengisi kuliah umum mahasiswa baru Pascasarjana Fakultas Teknok Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selass (27/8/2019).
Baca: Lakukan Yoga Ekstrem, Seorang Mahasiswa Terjatuh dari Balkon Lantai 6
Baca: 6 Zodiak Paling Murah Hati dan Dermawan, Suka Memberi dan Menolong Orang Lain, Kamu Termasuk?
Pernyataan tersebut dia sampaikan untuk menanggapi pernyataan Dekan FT UGM, Nizam, yang sebelumnya mengatakan ada stigma “masuk UGM susah, keluar susah”.
“Menurut saya, menempuh pendidikan tidak perlu tergesa-gesa. Pendidikan harus dinikmati. Tiga anak saya di UGM, tidak ada satu pun yang saya perbolehkan untuk mengikuti akselerasi sejak SD, SMP, dan SMA,” ujar Basuki Hadimuljono melalui keterangan tertulis.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa saat menjalani kuliah pascasarjana di Amerika selama enam tahun, dia tidak pernah seharipun bolos.
Sebab, baginya, waktu tidak akan kembali lagi.
Baca: Setelah Menikah, Cut Meyriska dan Roger Danuarta akan Main Film Bareng
Baca: Masih Ingat Pluto? Dikeluarkan dari Tata Surya, Kini Dipercaya Lagi sebagai Sebuah Planet
Sehubungan dengan program pemerintah saat ini untuk mencapai sumber daya manusia (SDM) unggul Indonesia maju, hal itu harus dilakukan dalam menghadapi persaingan global antara yang cepat dan lambat, bukan lagi hanya antara yang besar dan kecil.
Maka dari itu, mahasiswa tidak hanya mengejar ijazah, tetapi juga harus menguasai substansi dan menikmati proses saat menempuh pendidikan.
“Smart is a must, but not sufficient. Pandai harus, tapi tidak cukup dengan menjadi pandai untuk berhasil. Selain smart, kita juga harus memiliki akhlakul karimah untuk bisa memenangkan kompetisi,” imbuh Basuki.
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 29 Agustus 1842, Perjanjian Nanking
Baca: Tes Kepribadian – Pilih Pohon Favoritmu dan Temukan Apakah Kamu Menarik Atau Sensitif
Dalam kesempatan itu, alumnus Fakultas Teknik UGM tahun 1979 ini juga menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur yang diamanahkan kepada Kementerian PUPR merupakan wujud dari penerjemahan visi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
“Kalau visi Presiden tentang pembangunan infrastruktur tidak berhasil, maka yang salah adalah menterinya yang tidak bisa melaksanakan visi Presiden,” ucapnya.
Dia pun menyinggung mengenai rencana pemindahan lokasi ibu kota negara (IKN) merupakan katalis peningkatan peradaban manusia Indonesia.
Pembangunan IKN juga dilakukan untuk memberi jaminan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Desain kota yang mencerminkan identitas bangsa, mulai dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45,” tuturnya.
Kuliah umum itu juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik UGM Nizam, Inspektur Jenderal Kementerian PUPR Widiarto, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII Semarang Akhmad Cahyadi, dan Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja.
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official