TRIBUNNEWSWIKI.COM – Setiap perusahaan memiliki aturan kerjanya masing-masing.
Google, sebagai salah satu perusahaan di bidang IT terbesar juga memiliki aturan yang cukup unik untuk para pekerjanya.
Baru-baru ini, Google mengumumkan aturan yang melarang Googlers, istilah untuk pegawai Google berdebat tentang isu politik di ruang kerja.
Tidak hanya itu, mereka juga dilarang berkomentar yang tidak pantas tentang informasi perusahaan.
Dikutip dari Kompas.com, menurut pihak perusahaan, aturan tersebut dibuat agar para pekerjanya bisa saling menghormati dalam komunikasi internal.
Baca: Jadwal Live Streaming dan Hasil Kualifikasi MotoGP Inggris 2019, Marquez dan Rossi Bersaing Ketat
“Jangan mengejek, nama panggilan, atau menyerang pribadi secara spesifik. Buatlah komentar yang menghormati tentang dan kepada rekan Googlers-mu,” tulis aturan baru itu.
Tahun lalu, aturan yang sedikit mirip juga sempat diberlakukan sejak kasus James Damore yang diketahui pernah mengedarkan memo setebal 10 halaman secara internal yang bernada seksis.
Ia mengatakan karyawan teknisi di Google kurang sesuai jika diisi perempuan.
Walhasil, Damore dipecat oleh CEO Google, Sundar Pichai.
“Saat berbagi informasi dan gagasan dengan kolega membantu membangun komunitas, mengganggu hari kerja dengan berdebat tentang politik atau isu terkini tidak (membangun komunitas),” tulis aturan terbaru Google untuk pegawainya.
“Tugas utama kita adalah bertanggung jawab dengan tugas yang telah diberikan saat direkrut, bukan untuk menghabiskan waktu berdebat tentang topik di luar pekerjaan,” tulis aturan lainnya.
Baca: Pemerintah Wajibkan Kendaraan Listrik Punya Suara, Ternyata Ini Alasannya
Menurut Google, aturan tersebut dilakukan demi menjaga kepercayaan pengguna dan integritasnya sebagai perusahaan teknologi kelas global.
“Bekerja di Google membutuhkan tanggung jawab yang besar. Sangat penting bagi kami menghormati kepercayaan itu dan menjunjung tinggi integritas produk dan layanan kami. Pedoman ini resmi dan berlaku saat keryawan Google berinteraksi di tempat kerja,” jawab perwakilan Google.
Google ternyata juga kerap mendapat kritikan dari pegawai internal maupun mantan pegawainya sendiri.
Kritikan tersebut di antaranya mereka menolak Google bekerja sama dengan badan imigrasi AS, seperti Immigration and Customs Enforcement (ICE) dan Customs and Border Protection.
Bagi mereka, hal itu dianggap melanggar hak asasi manusia, terkait perbatasan AS dengan negara Amerika Latin.
Mantan pegawai Google mengatakan, bekas kantornya sudah lama berusaha menekan diskusi di luar topik pekerjaan oleh karyawannya.
“Gagasan bahwa diskusi tentang kerja sama Google dan CBP serta ICE tidak terkait dengan pekerjaan mereka adalah tidak masuk akal,” ujarnya menanggapi isu memo aturan terbaru di internal Google, seprti dikutip KompasTekno dari The Verge, Minggu (25/8/2019).
Baca: Kronologi Lengkap Pria Gendong Jenazah di Tangerang karena Ambulans Puskesmas Tak Bisa Dipakai
Kendati demikian, Google mengklaim bahwa aturan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi ruang berpendapat soal politik para pegawainya.
“Tujuan kami bukan untuk meredam diskusi internal atau membatasi Googlers menyuarakan pendapatnya,” jelas perwakilan Google.
Dalam aturan terbarunya, Google juga mengatakan bahwa karyawannya boleh blak-blakan soal topik pekerjaan termasuk masalah gaji, jam kerja, syarat dan ketentuan kerja, atau segala bentuk pelanggaran hukum yang berlaku.
Hal tersebut juga dijamin perlindungannya oleh undang-undang perburuhan AS.
Kendati demikian, Google juga menekankan batasan perlindungan hukum, apabila karyawan mengungkapkan sesuatu hal yang rahasia tentang perusahaan.
Kemungkinan yang dimaksud adalah pengungkapan proyek rahasia seperti proyek Maven dengan militer AS atau Dragonfly, mesin pencarian khusus yang konon dibuat untuk China.
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)