17 AGUSTUS - Seri Tokoh Nasional: Ali Sastroamidjojo

Ali Sastroamidjojo merupakan politisi dan nasionalis yang lahir di Magelang pada 21 Mei 1903.


17 AGUSTUS - Seri Tokoh Nasional: Ali Sastroamidjojo
kavling10.com
Ali Sastroamidjojo 

Ali Sastroamidjojo merupakan politisi dan nasionalis yang lahir di Magelang pada 21 Mei 1903.




  • Profil


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ali Sastroamidjojo merupakan politisi dan nasionalis yang lahir di Magelang pada 21 Mei 1903 dan meninggal di Jakarta pada 13 Maret 1976 di umur 72 tahun.

Sejak muda, Ali Sastroamidjojo sudah terlibat dalam pergerakan nasional yang menghendaki agar Indonesia terlepas dari penjajahan Belanda.

Ali Sastroamidjojo meneyelsaikan pendidikannya di Belanda.

Ketika kembali ke Indonesia, Ali Sastroamidjojo berpikir untuk menjadi redaktur Janget, surat kabar mingguan berbahasa Jawa. (1)

Ali Sastroamidjojo

  • Peran


Ali Sastroamidjojo memiliki peran penting dalam mendorong terselenggaranya Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan di Bandung.

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : Malang Bumi Hangus (31 Juli 1947)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Tokoh Nasional: Emma Poeradiredja

Ali Sastroamidjojo merupakan Perdana Menteri Indonesia yang meyakinkan negara Asia Afrika untuk bersatu menyelesaikan permasalahan dunia pada saat itu.

Ali Sastroamidjojo berkeinginan menyelenggarakan KAA, karena pada saat itu terjadi perang dingin di Asia.

Semenjak menjadi aktivis mahasiswa, Ali Sastroamidjojo memiliki visi untuk membentuk sebuah kerjasama politik antar negara Asia dan Afrika.

Pda 1923 ketika bersekolah di Belanda, Ali Sastroamidjojo telah mengamati dan bertemu dengan berbagai aktivis yang anti kolonial Asia dan Afirka serta membangun gerakan politik transnasional di Eropa.

Setelah Indonesia merdeka, Ali Sastroamidjojo selalu mendapatkan jabatan yang berhubungan dengan dunia internasional.

Ali Sastroamidjojo kemudian mengikuti Konferensi Antar-Hubungan Asia di New Delhi pada 1947.

Ali Sastroamidjojo pernah menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Amerika pada 1950 hingga 1953.

Ali Sastroamidjojo berperan dalam memperluas dan melekatkan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan negara-negara Asia-Afrika.

Ali Sastroamidjojo memupuk hubungan baik dengan mendatangi kediaman duta besar Asia dan Afrika secara bergiliran sebulan sekali.

Pengalamannya sebagai duta besar membuat Ali Sastroamidjojo semakin yakin untuk melaksanakan kerjasama antara negara Asia dan Afrika.

Saat dilantik pada 1953, Ali Sastroamidjojo menekankan bahwa perang dingin yang terjadi tidak dapat diredakan jika Indonesia hanya menjalankan diplomasi tanpa melibatkan negara-negara lain yang memiliki nasib sama.

Oleh sebab itu, Ali Sastroamidjojo mengungkapkan jika kerjasama politik sangat diperlukan.

Menjalin hubungan dengan negara Asia dan Afrika dapat memperkuat tercapainya perdamaian dunia.

Perang Vietnam pada 1954 mendorong perdana menteri di Asia mencari solusi agar hal tersebut tidak menyebabkan konflik yang lebih luas.

Perdana Menteri Sri Lanka mengusulkan agar negara yang baru saja merdeka seperti India, Indonesia, Pakistan, dan Burma, membahas mengenai perang dingin di Asia.

Ketika diberi undangan, Ali Sastroamidjojo meminta agar Indonesia diberi kesempatan menyelenggarakan sebuah Konferensi negara Asia dan Afrika yang kemudian disetujui oleh Kotelawa.

Ali Sastroamidjojo kemudian mengungkapkan gagasannya pada Konferensi Kolombo yang berlangsung sejak akhir April hingga awal Mei 1954.

Empat perdana menteri yang hadir sempat skeptis atas usulan Ali Sastroamidjojo karena menyelengarakan konferensi besar bukanlah perkara mudah.

Namun ketika Ali Sastroamidjojo mengungkapkan alasannya dan Indonesia bersedia menjadi tuan rumah, Perdana Menteri Burma U Nu menyetujui usulan tersebut.

Persetujuan penyelenggaraan KAA menjadikan Ali Sastroamidjojo sebagai ketua pelaksana dan bertugas mengirim undangan kepada negara-negara Asia dan Afrika.

Keberhasilan penyelanggaraan KAA di Bandung merupakan buah dari pikiran dan jasa Ali Sastroamidjojo. (2)

  • Masa Muda


Pada September 1927, Ali Sastroamidjojo sempat ditahan bersama Muhammad Hatta, Abdoel Madjib Djojoadhiningrat, dan Pamontjak.

Pada saat itu, Ali Sastroamidjojo dituding telah menghasut orang-orang agar ikut memberontak pemerintah kolonial.

Saat ditangkap, Ali Sastroamidjojo baru berusia 24 tahun dan akan menghadapi ujian.

Walaupun dikawal sipir penjara dan menyandang status tahanan, namun Ali Sastroamidjojo berhasil lulus ujian.

Ketika di Belanda, Ali Sastroamijoyo juga aktif berorganisasi dalam Perhimpunan indonesia yang sebelumnya bernama Indische Vereniging.

Tulisannya di koran seperti Indonesia Merdeka kerap membuat Belanda marah.

Ali Sastroamidjojo kemudian memutuskan kembali ke Indonesia dan membuka kantor pengacara bersama teman-temannya.

Namun Ali Sastroamidjojo memutuskan meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih berjuang di jalan politik guna membebaskan bangsanya dari Belanda.

Terjun ke dunia politik, Ali Sastroamidjojo kemudian bergabung dengan PNI.

PNI merupakan partai yang didirikan oleh Bung Karno dan memiliki cabang di berbagai daerah.

Ali Sastroamidjojo menjadi Ketua PNI cabang Solo.

Pada Kongres PNI 1928, Ali Sastroamidjojo menentang usulan Soekarno agar anggota PNI memakai seragam.

Menurut Ali Sastroamidjojo hal tersebut tidak sesuai dengan kepribadian nasional.

Ali Sastroamidjojo lalu mengusulkan untuk menggunakan sarung, tanpa menggunakan alas kaki seperti sepatu dan sandal.

Sehingga PNI akan tampak seperti organisasi revolusioner.

Usulan Ali Sastroamidjojo ini membuat Soekarno marah.

Bagi Soekarno, penggunaan sarung seperti pada zaman dahulu.

Menurut Soekarno mengenakan seragam akan membuat martabat rakyat Indonesia sejajar dengan Belanda.

Pertumbuhan PNI yang pesat membuat Belanda akhirnya menangkap Soekarno dan tiga kawannya.

Ketika Soekarno ditangkap, PNI menjadi tidak stabil dan dilarang.

Beberapa bekas pimpinan PNI memutuskan untuk mendirikan partai lain, seperti Pertindo.

Ali Sastroamidjojo lalu memutuskan bergabung dengan Pertindo dan sempat bergabung dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). (3)

  • Politisi dan Diplomat


Setelah kemerdekaan Indonesia, Ali Sastroamidjojo ditunjuk menjadi Menteri Penerangan.

Di bawah Kabinet Amir Sjarifuddin, Ali Sastroamidjojo ditunjuk sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketika menjabat, Ali Sastroamidjojo membuat Undang Undang pokok mengenai pendidikan dan pengajaran.

Rancangan Undang Undang yang dibuat oleh Ali Sastroamidjojo dianggap progresif pada zaman tersebut.

Pada 1950, Ali Sastroamidjojo dipercaya menjadi dubes pertama Indonesia untuk AS.

Pada 1953, Ali Sastroamidjojo ditunjuk sebagai Perdana Menteri dan menerapkan politik bebas aktif.

Politik luar negeri Indonesia yang diterapkan Ali Sastroamidjojo semakin anti-kolonialis dan anti-imperialis.

Ali Sastroamidjojo juga sukses menyelenggarakan pemilu pertama.

Pada saat itu, Ali Sastroamidjojo menjadi juru kampanye PNI dan berhasil mendapatkan 119 kursi.

Kabinet Ali Sastroamidjojo juga berhasil membatalkan hasil Konferensi Meja Bundar pada April 1956 di mana Pemerintah Indonesia menolak membayar utang warisan konolialisme Belanda. (4)

(TribunnewsWiki/Sekar)

Jangan lupa subscribe youtube channel TribunnewsWiki ya!



Nama Ali Sastroamidjojo
Tanggal lahir Magelang, 21 Mei 1903
Meninggal Jakarta, 13 Maret 1976
Istri Titi Roelia
Partai Politik Partai Nasional Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
Masa Jabatan 3 Juli 1947 – 4 Agustus 1949


Sumber :


1. biografi.kamikamu.net
2. tirto.id
3. www.berdikarionline.com
4. lutfi-fpk11.web.unair.ac.id








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved