17 AGUSTUS 1945 - Pernak-Pernik Proklamasi: Mikrofon

Mikrofon atau pengeras suara mempunyai peran penting saat Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi.


zoom-inlihat foto
mikrofon-proklamasi.jpg
(cloudfront.net)
Ir. Soekarno saat sambutan dan membacakan teks proklamasi.

Mikrofon atau pengeras suara mempunyai peran penting saat Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Mikrofon atau pengeras suara mempunyai peran penting saat Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi.

Berkat mikrofon itu, seluruh dunia bisa dengan jelas mendengar kata demi kata proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Sekitar pukul 07.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945, panita kemerdekaan berencana akan meminjam mikrofon.

Panitia kemerdekaan yang terdiri para golongan muda dan golongan tua ini kemudian berencana menyewa mikrofon.

Sayangnya, semua habis disewa.

Kemudian dua orang diutus oleh panitia kemerdekaan untuk mencari mikrofon, yakni Wilopo dan Njonoprawoto.

Persoalan mikrofon yang menjadi benda bersejarah dalam proses terjadinya proklamasi ini menjadi diskursus sejarah pernak-pernik proklamasi.

Baca: 17 AGUSTUS 1945 - Pernak-Pernik Proklamasi: Mesin Tik

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Bahasa Nasional: Bahasa Indonesia

Baca: 17 AGUSTUS - Kronik Jelang Proklamasi: 15 Agustus 1945

Baca: 17 AGUSTUS - Kronik Jelang Proklamasi: 16 Agustus 1945

  • Ir. Soekarno: Mikrofon Hasil Curian dari Jepang


Terdapat cerita khusus mengenai siapa pemilik mikrofon tersebut dan dari mana asalnya.

Salah satunya adalah pernyataan Soekarno sendiri di pidatonya.

Di hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta 5 Oktober 1966, Soekarno menyampaikan betapa bernilainya mikrofon saat peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Menurut Soekarno, dengan mikrofon itu seluruh manusia di muka bumi menjadi tahu bahwa Indonesia sudah merdeka.

“Kita telah memiliki pada tanggal 17 Agustus 1945 itu microphone. Satu-satunya hal boleh dikatakan, materiel yang telah kita miliki, satu microphone, yang dengan microphone ini kita dengungkan ke hadapan seluruh manusia di bumi ini bahwa kita memproklamasikan kemerdekaan kita,” kata Sukarno yang dikutip dari buku '17-8-1945, Fakta, Drama, Misteri' karya Hendri F. Isnaini terbitan Change (2015) dalam Kompas.com.

Soekarno sempat menyebutkan dari mana mikrofon yang digunakan saat membaca teks proklamasi.

Menurut Soekarno, mikrofon itu merupakan hasil curian dari stasiun radio milik Jepang.

“Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan proklamasi itu,” kata Soekarno. [1]

  • Sudiro: Mikrofon itu Milik Gunawan


Pernyataan Soekarno dalam pidatonya tahun 1966 ini kemudian dibantah oleh Sudiro.

Sudiro adalah tokoh yang ikut andil memperjuangkan kemerdekaan dan merupakan mantan sekretaris Menteri Luar Negeri pertama RI Achmad Soebardjo.

Sudiro merasa yakin betul mikrofon itu bukan hasil curian.

Dalam ceramahnya pada 6 September 1972 di Lembaga Pembinaan Jiwa ‘45 Jakarta, Sudiro menyinggung mikrofon yang dikatakan Soekarno hasil curian.

“Itu tidak betul!” kata Sudiro.

Kata Sudiro, pemilik mikrofon itu adalah warga negara Indonesia bernama Gunawan.

  • Kesaksian Sudiro: Penggunaan Mikrofon saat Proklamasi

Saat persewaan mikrofon habis, panitia kemerdekaan kemudian mengutus dua orang untuk mencari mikrofon, yakni Wilopo dan Njonoprawoto sekitar pukul 07.00 WIB, tanggal 17 Agustus 1945.

Mereka kemudian mendatangi rumah seseorang yang bernama Gunawan untuk meminjam mikrofon.

Keduanya tidak memberitahu untuk keperluan apa mereka meminjam mikrofon.

Mikrofon milik Gunawan kemudian dipinjamkan kepada mereka berdua.

Namun demikian, Wilopo dan Njonoprawoto tidak bisa menyeting mikrofon.

Sehingga, Gunawan menyuruh saudaranya, Sunarto untuk membantu.

Saat di mobil, Sunarto baru diberitahu bahwa mikrofon itu akan digunakan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sunartolah yang memasang mikfrofon tersebut di Pegangsaan Timur Nomor 56.

“Standar (kaki atau dudukan) didirikannya di ruang muka terbuka, dan versterker diletakkan di dalam kamar muka sebelah kiri dari ruang terbuka itu,” kata Sudiro. [2]

  • Sosok Gunawan


Dituturkan oleh Sudiro mengenai sosok Gunawan dalam ceramahnya di Lembaga Pembinaan Jiwa ‘45 Jakarta.

Gunawan merupakan pemilik Radio Satriya, yang bertempat tinggal di Jalan Salemba Tengah 24 Jakarta (sekarang menjadi rumah sakit MH Thamrin Salemba).

Mikrofon itu, menurut Sudiro adalah buatan Gunawan sendiri.

Sudiro yakin bahwa Gunawan lah yang merancang corong maupun dudukannya.

Selain itu, Gunawan juga merancang verstekker atau amplifier (penguat suara).

“Mulai dari corong maupun standarnya (kakinya). Begitu pula verstekker serta band-nya yang dibuat dari zilverpapiar, selubung rokok. "Semuanya itu adalah hasil kecerdasan otak dan ketrampilan tangan seorang Indonesia yang bernama Gunawan itu”, kata Sudiro.

Dalam buku karya Hendri F. Isnaeni berjudul '17-8-1945, Fakta, Drama, Misteri', terbitan Change (2015), juga menuliskan mengenai kesaksian Gunawan.

Gunawan mengakui bahwa mikrofon yang digunakan saat Proklamasi Kemerdekaan itu buatannya sendiri.

Mikrofon, kata Gunawan dibuat ala kadarnya.

Saat itu kondisi memang serba sulit.

“Magnetnya saya buat dari dua buah dynamo sepeda, sementara band-nya hanya dari grenjeng (kertas perak pembungkus rokok),” kata Gunawan.

Keluarga Gunawan berbisnis menyewakan mikrofon dan amplifier serta perlengkapannya. [3]

  • Kemana Mikrofon setelah Proklamasi ?


Setelah upacara proklamasi selesai, mikrofon dikembalikan kepada Gunawan.

Menurut Sudiro, mikrofon tersebut dibawa pergi Gunawan yang pindah ke Solo di awal tahun 1946.

Setelah dari Solo, Gunawan beserta keluarga pindah ke Yogyakarta.

Sejak digunakan Soekarno, Gunawan menyimpan mikfrofon tersebut dan tak pernah menggunakannya, apalagi meminjamkannya pada orang lain.

Hanya sesekali dipamerkan pada teman dan sahabat-sahabatnya.

Sudiro mengatakan, pada akhir 1949 keluarga Gunawan kembali ke Jakarta karena dianjurkan Pemerintah.

“Mikrofon beriwayat itu dibawanya, tapi versterker-nya telah rusak dan ditinggal di Yogyakarta,” kata Sudiro.

Putra dari Gunawan, Gunarso mengungkap mikrofon itu kerap ditawar orang, tapi Gunawan enggan menjualnya.

“Ada seorang India dari suku Sikh yang datang malam-malam, menyatakan keinginannya menukar mikrofon itu dengan sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol,” kata Gunarso (anak Gunawan).

Gunawan tetap menolak tak mau menjual.

Gunawan selalu ingat bahwa mikrofon tersebut punya nilai sejarah yang tak ternilai.

Harjoto melalui Darmosugondo akan menyerahkan mikrofon tersebut kepada Soekarno saat merayakan ulang tahunnya di Tokyo, Jepang.

Harjoto berharap Soekarno menyimpannya di Monumen Nasional, namun rencana itu tak terlaksana, sehingga keberadaan mikrofon tersebut masih menjadi misteri.

“Sejak saat itu, Harjoto tak tahu lagi, dimana mikrofon itu berada,” kata Sudiro.

Sementara, Gunarso (putra Gunawan) hanya berhasil mengamankan standar (kaki) mikrofon itu.

Gunarso menuturkan, sebelum sang ayah meninggal, beliau menitipkan pesan untuk mencari di mana keberadaan mikrofon tersebut.

“Ayah saya (Gunawan) sebelum meninggal (November 1982) berpesan agar kita mencari di mana benda (mikrofon) bersejarah itu berada,” tutur Gunarso.

Gunarso menyatakan, keluarganya tak keberatan apabila mikrofon tersebut dimuseumkan. "Justru kita bangga." [4]

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data dan sumber baru serta usulan perubahan untuk memperkaya informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Benda Mikrofon
Menurut Soekarno Hasil Curian dari Kantor Berita Jepang
Menurut Sudiro Milik Gunawan, seorang pemilik Toko Radio Satriya
   


Sumber :


1. nasional.kompas.com
2. nasional.kompas.com
3. nasional.kompas.com
4. nasional.kompas.com


Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Fathul Amanah






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved