Sapi (Hewan Ternak)

Sapi merupakan hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri dan digunakan untuk membajak sawah dinamakan lembu.


Sapi (Hewan Ternak)
Tribunpalu.com/Abdul Humul Faaiz
Safran ketika memberi makan sapi miliknya di Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. 

Sapi merupakan hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri dan digunakan untuk membajak sawah dinamakan lembu.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Sapi merupakan hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae.

Sapi yang telah dikebiri dan biasanya digunakan untuk membajak sawah dinamakan lembu.

Sapi sebagai hewan ternak biasanya untuk dimanfaatkan susudan dagingnya sebagai pangan manusia.

Namun ada juga bagian tubuh sapi lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti kulit, jeroan, tanduk, sampai kotorannya.

Si sejumlah tempat, sapi juga biasa dimanfaatkan untuk penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam atau pembajakan, serta alat industri lain seperti peremas tebu.

Karena begitu banyak manfaatnya, sapi telah menjadi bagian penting dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.

Kebanyakan, sapi ternak merupakan keturunan dari jenis liar yang dikenal sebagai Auerochse atau Urochse yang dalam Bahasa Jerman berarti sapi kuno.

Sapi ini memiliki nama ilmiah Bos primigenius yang sudah punah di Eropa sejak 1627.

Meski begitu, terdapat beberapa spesies sapi liar lain yang keturunannya didomestikasi, termasuk sapi bali yang juga diternakkan di Indonesia. (1)

Baca: Tidak Usah Khawatir Darah Tinggi Usai Makan Daging Kurban, Gunakan Bahan-bahan Ini untuk Netralisir

Baca: Resep Tongseng Kambing Agar Tidak Amis

Sapi1
Peternakan Sapi Bali (POS KUPANG/NOVEMY LEO)

  • Sejarah Sapi di Indonesia


Pada 1917, pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole secara besar-besaran dari India.

Untuk menghasilkan sapi dengan kualitas unggul, pada 1936 pemerintah Hindia Belanda mengharuskan semua sapi jantan Jawa dikebiri, sedangkan sapi betinanya harus dikawinsilangkan dengan sapi Ongole yang telah diimpor.

Kebijakan itu pun dapat menghasilkan sapi-sapi unggul hasil persilangan di berbagai daerah.

Usaha untuk mengembangbiakkan sapi juga sudah dilakukan sejak awal 1950-an.

Saat itu Presiden Soekarno tengah mengerjakan tahapan pembangunan bernama Rencana Kesejahteraan Istimewa pada 1950.

Seorang ahli ternak asal Denmark, Prof B Seit tengah memperkenalkan metode inseminasi buatan kepada para dolter hewan di Indonesia.

Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan (FKH LPP) Bogor, tempat Seit bekerja, lantas diserahi tugas pemerintah untuk mendirikan stasiun Inseminasi Buatan di beberapa wilayah sentra peternakan sapi susu.

Para dokter yang telah dilatih kemudian berpencar ke berbagai daerah di jawa dan Bali untuk mendirikan stasiun inseminasi buatan.

Ada yang ke Ungaran dan Kedu di Jawa Tengah, Pakong dan Grati di Jawa Timur, Cikole di Jawa Barat, serta Baturati di Bali.

Pun FKH LPP Bogor sendiri difungsikan sebagai stasiun untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya.

Para dokter hewan itu bertugas melakukan inseminasi.

Sayangnya pelaksanaan program ini tidak intensif, pelayanan inseminasi buatan sifatnya hilang timbul.

Akibatnya masyarakat kurang menaruh kepercayaan dan akhirnya program itu hanya bertahan dua tahun.

Namun balai-balai inseminasi buatan yang didirikan telah berjasa membantu mengembangbiakkan sapi, meski baru sebatas sapi penghasil susu.

Pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto kemudian menganggap program inseminasi buatan sebagai langkah strategis untuk mendongkrak perkembangbiakan sapi peternakan rakyat.

Keberhasilan ekspor kemudian memicu pemerintah untuk menyediakan lebih banyak sapi yang siap dipasok ke luar negeri.

Pemerintah pun kembali menggalakan inseminasi buatan di berbagai daerah.

Ketika melakukan evaluasi pada 1970, pemerintah menyimpulkan bahwa semen atau sperma cair perlu diganti dengan semen baku yang lebih awet dipakai dan dibawa ke berbagai lokasi inseminasi.

Pada 1973, pemerintah Selandia Baru memberikan sumbangan semen beku secara cuma-cuma kepada pemerintah Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, inseminasi buatan telah berhasil mendongkrak perkembangbiakan sapi dalam negeri sejak dekade 1960.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor sapi potong pada tahun 1968 sebanyak 34.541 ekor.

Jumlah ini naik menjadi 72.490 ekor pada tahun 1970.

Untuk menyebarluaskan sapi-sapi jenis unggul dan sapi-sapi hasil persilangan, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan Dan Kesehatan Hewan.

Di dalamnya termaktub upaya pemerintah untuk menyebarkan ternak secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Istilahnya “pewilayahan ternak”.

Usaha mengimpor sapi unggulan kembali dilakukan ketika Soeharto mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri, terutama Australia.

Di Tapos, sapi-sapi tersebut hendak dikawinkan dengan sapi-sapi lokal Indonesia untuk mendapat bibit berjenis sapi unggul.

Taun 1978 merupakan tahun terakhir Indonesia mengekspor sapi potong dengan jumlah hanya 400 ekor.

Sejak saat itu, peternakan rakyat lebih banyak memasok kebutuhan daging dalam saja, bahkan keran impor daging dari Australia mulai dibuka.

Tapos tampaknya menginspirasi pengusaha ternak untuk melakukan impor bibit.

Tercatat mulai tahun 1990, Indonesia mulai melakukan impor sapi bakalan.

Menurut ahli peternakan dari Universitas Padjajaran, Sri Rahayu, impor sapi bakalan mulai dilakukan sejak tahun 1990 sejumlah 8.061 ekor.

12 tahun kemudian angka ini melonjak drastis hingga 429.615.

Karena krisis, pemerintah pernah mengurangi impor sapi bakalan pada 1997 sampai 2001.

Akibatnya sapi-sapi lokal terkuras oleh permintaan sehingga dalam kurun waktu yang singkat populasinya menurun drastis.

Pada 2002, Indonesia kemabli meningkatkan impor sapi bakalan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi.

Indonesia sangat bergantung dengan impor daging asal Australia.

Australia merupakan sumber dari 90,06 persen impor sapi hidup dan 46,70 persen impor daging sapi dan jeroan.

Selandia Baru merupakan sumber impor 32,52 persen daging sapi dan jeroan.

Negara-negara lain yang termasuk eksportir daging sapi ke Indonesia, dengan jumlah yang lebih kecil adalah Amerika Serikat dan Kanada. (2)

Sapi2
Sapi jenis simental milik Presiden Jokowi yang dibeli dari Sulistiyo Hadi saat dibawa dari Kompleks Kantor Kepatihan ke Masjid Nur Maunah, Gunungkidul. (KOMPAS.com/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA)

  • Jenis-jenis Sapi di Indonesia


1. Sapi Limousine (Limosin)

Sapi Limosin merupakan sapi dari bangsa Bos taurus yang dikembngkan pertama di Prancis.

Sapi Limosin merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari Simmental.

Sapi Limosin memiliki bulu berwarna cokelat tua kecuali di sekitar ambing yang berwarna putih serta lutut ke bawah dan sekitar mata yang berwarna lebih muda.

Sapi Limosin memiliki tubuh berukuran besar, panjang, padat, dan kompak.

Sapi Limosin merupakan tipe sapi besar, mempunyai volume rumen yang besar, memiliki kemampuan menambah konsumsi di luar kebutuhan yang sebenarnya sehingga menuntut tata pemeliharaan yang lebih teratur.

Keunggulan sapi jenis ini adalah pertumbuhannya yang sangat cepat.

Secara genetik, sapi Limosin merupakan sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin.

Di Indonesia, sapi Limosin kerap disilangkan dengan sapi peranakana Ongole, sapi brahman, atau sapi Hereford.

Meski harganya mahal, namun dari hari ke hari permintaan hasil ternak sapi Limosin terus meningkat.

Bahkan para peternak dan pedagang kerap kewalahan memenuhi permintaan karena stok dan suplai yang masih sangat terbatas.

Kualitas daging sapi Limosin juga dinilai lebih baik dan lezat jika dijadikan makanan.

Sapi Limosin juga lebih tahan terhadap serangan berbagai macam penyakit, terutama antraks yang kerap merugikan banyak peternak.

2. Sapi Brahman

Sapi Brahman merpakan keturunan sapi zebu atau Bos indiscuss.

Sapi Brahman berasal dari India, namun kemudian masuk ke Amerika Serikat pada 1849 dan berkembang pesat di sana.

Tidak hanya itu, di AS, sapi Brahman juga ditingkatkan mutu genetiknya, dan setelah berhasil kemudian diekspor ke berbagai negara.

Sapi Brahman mulai menyebar ke Australia dan kemudian masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Sapi Brahman memiliki ciri khas berpunuk besar dan berkulit longgar, memiliki gelambir di bawah leher sampai perut lebar dengan banyak lipatan-lipatan.

Sapi Brahman juga memiliki telinga panjang yang menggantung dan berujung runcing.

Sapi ini merupakan tipe sapi potong terbaik utnuk dikembangkan.

Sapi Brahman juga tidak terlalu selektif terhadap makanannya, jenis pakan apapun akan ia makan, termasuk pakan yang jelek sekalipun.

Sapi Brahman juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

Di Australia, sapi Brahman kerap disilangan dengan sapi dari bangsa lain seperti Simmental, Hereford, dan Limousin, hasilnya kemudian dinamakan Brahman Cross.

Hasil persilangan ini juga sudah masuk ke Indonesia sejak 1985 melalui program bantuan Asian Development Bank (ADB).

Sapi Brahman cocok dikembangkan di tempat dengan iklim tropis seperti Indonesia.

Sapi Brahman Cross pada awalnya merupakan bangsa sapi Brahman Amerika yang diimpor Australia pada tahun 1933.

Mulai dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre Rockhampton Australia, dengan materi dasar sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25% sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman cross cenderung lebih mirip sapi Brahman Amerika karena proporsi darahnya lebih dominan.

3. Sapi Simmental

Sapi Simmental merupakan bangsa Bos taurus yang berasal dari daerah Simme di Switzerland.

Namun saat ini Simmental berkembang lebih cepat di benuar Eropa dan Amerika.

Sapi Simmental merupakan sapi perah dan pedaging dengan warna bulu cokelat kemerahan, di bagian muka dan lutut ke bawah serta ujung ekor berwarna putih,

Sapi Simmentar jantan dewasa dapat mencapai berat badan hingga 1.150 kg, sedangkan untuk betinanya bisa mencapai 800 kg.

Bentuk tubuh sapi Simmental kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di tempat dengan iklim sedang.

Presentase karkas sapi jenis ini tinggi dan mengandung sedikit lemak.

Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur.

4. Sapi PO (Peranakan Ongole)

Sapi Peranakan Ongole atau PO merupakan hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole dengan sapi betina lokal di Jawa yang berwarna putih.

Sapi PO yang murni, saat ini sudah mulai sulit ditemukan karena telah banyak disilangkan dengan sapi Brahman.

Sapi PO merupakan sapi lokal berwarna putih, berkelasa, dan memiliki gelambir.

Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja dengan tenaga yang kuat serta memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan.

Soal reporduksi, sapi PO memiliki aktivitas reporduksi yang cepat, sapi PO jantan juga memiliki semen yang baik.

Sapi PO memiliki bentuk muka agak cembung serta pendek dengan lingkar mata berwarna hitam.

Sapi PO bermoncong rata dengan warna hitam, memiliki tanduk berwarna gelap dan lengkungannya mengarah ke belakang.

Sapi PO betina memiliki tandik lebih panjang ketimbang sapi PO jantan.

Sapi PO memiliki tulang belikat yang besar, pusar pankang dan berwarna putih.

Selain itu, sapi jenis ini juga memiliki posisi uyeng-uyeng yang tidak segaris lurus dengan posisi pusar.

Ciri lain dari sapi PO adalah terletak pada bentuk telinga yang berdiri, agak lebar, dan bisa bergerak dengan leluasa.

Lehernya yang panjang dan bergelambir warna putih tebal dari depan membelah dua.

Sapi PO mempunyai bentuk punuk yang besar tegak serta menonjol ke belakang dan tidak jatuh.

Berat sapi PO yang baru lahir bisa mencapai 28 kg.

5. Sapi Ongole

Sapi Ongole merupakan keturunan sapi liar dari bangsa Bos indicus yang berhasil dijinakkan di India.

Di Indonesia, sapi Ongole dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Sumba Ongole (SO) dan Peranakan Ongole (PO).

Sumba Ongole adalah keturunan murni sapi Nellore dari India yang didatangkan tahun 1914.

Sapi ini dikembangkan secara murni di Pulau Sumba dan merupakan sumber indukan sebagian besar Ongole di dalam negeri.

Persilangan antara Sumba Ongole dengan sapi setempat di Jawa menghasilkan anakan yang mirip sapi Ongole sehingga sapi ini disebut dengan sapi Peranakan Ongole.

Sapi Peranakan Ongole merupakan sapi yang banyak dicari di pasaran saat hari raya Kurban.

Di beberapa daerah di luar pulau Jawa, sapi jenis Peranakan Ongole merupakan sapi dengan populasi terbesar kedua setelah sapi Bali. 

Ciri khas sapi Ongole adalah berbadan besar, berpunuk besar, bergelambir longgar, dan berleher pendek. Kepala, leher, gelambir, dan lutut berwarna hitam, terutama sapi jantan. 

Sapi Ongole memiliki kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau kehitaman.

Sedangkan kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. 

Sapi Ongole memiliki kepala pendek dengan profil melengkung, mata besar dengan sorot yang tenang. 

Sapi Ongole memiliki tanduk yang pendek, dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang ketimbang pada sapi jantan.

Telinga yang dimiliki sapi jenis ini berukuran panjang dan menggantung.

Sapi Ongole merupakan sapi yang lambat proses dewasanya, biasanya ia akan mencapai dewasa pada umur empat sampai lima tahun.

Bobot maksimal sapi dewasa jenis ini adalah 600 kg dan sapi betina dewasa 400 kg.

Persentase karkas 45-58% dan perbandingan daging serta tulang 4,25 :1. 

6. Sapi Madura

Sapi Madura merupakan jenis sapi potong asli Indonesia yang pada awalnya banyak ditemukan di Madura.

Saat ini, sapi Madura sudah menyebar ke seluruh wilayah di Jawa Timur.

Sapi Madura pada mulanya terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu, yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak.

Karakteristik sapi Madura sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas; bertanduk khas dan jantannya bergumba.

Tanduk pada sapi Madura jantan berukuran antar 15 sampai 20 cm, sedangkan pada betinanya berukuran 10 cm.

Meski berukuran kecil, namun sapi Madura memiliki punuk.

Secara umum, sapi Madura memiliki beberapa keunggulan di antaranya mudah dipelihara, mudah berkembang biak, tehan terhadap berbagai penyakit, serta tahan terhadap pakan kualitas rendah.

Karena itu, sapi Madura banyak diminati para peternak bahkan para peneliti dari negara lain.

Selain mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, sapi juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positif terhadap kelestarian sapi Madura.

Sapi Madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai "Sapi Kerapan" yang menjadi salah satu aset pariwisata penting di Pulau Madura.

7. Sapi Bali

Sapi Bali yang memiliki nama latin Bos sondaicus telah dipelihara dan dibudidayakan oleh masyarakat sejak 3.500 SM di sekitar pulau Jawa, Lombok, dan Bali.

Sejarah sapi Bali berawal dari banteng yang berhasil dijinakkan berabad-abad yang lalu.

Abad ke-19 sapi Bali mulai menyebar ke Lombok, kemudian abad ke-20 masuk ke Sulewasi Selatan, dan sejak tahun 1962 masuk ke wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Tidak hanya menyebar di Indonesia, sapi ini diketahui juga menyebar sampai ke Australia, Malaysia, dan Filipina. 

Sapi Bali yang berasal dari banteng mengalami beberapa perubahan.

Perubahan tersebut terjadi karena cara hidupnya dan bukan karena pengaruh kawin silang dengan sapi jenis lain.

Salah satu perubahan tersebut adalah ukurannya yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan banteng, terutama pada bobot dan tinggi badan. 

Di Bali, sapi ini diternakan bukan hanya untuk diambil dagingnya semata, tapi juga dimanfaatkan untuk membajak di sawah dan sebagai sumber pupuk organik.

Reproduksi sapi Bali dkenal dengan sangat baik, sapi Bali betina sudah dapat dikawinkan saat sudah mencapai umur 2-2,5 tahun.

Pada umur itu, sapi sudah memiliki organ yang sangat sempurna, jarak sapi Bali melahirkan anak berkisar antara 12-14 bulan.

Sapi Bali memiliki tingkat karkas yang tinggi dibandingkan dengan sapi lokal yang lain, yaitu sekitar 53,26%, Peranakan Ongole 46.9%.

Perbandingan antara daging dan tulang yaitu sekitar 4,4 :1. 

Kendati mengalami perubahan ukuran dan bobot badan, secara kesuluruhan ciri-ciri sapi bali masih sama dengan banteng sebagai moyangnya.

Saat lahir, anak sapi Bali berwana sawo matang merah mengkilap dengan garis hitam di punggung yang terlihat jelas.

Setelah dewasa, sapi betina tetap berwarna sawo matang kemerahan, sedangkan sapi jantan berwarna hitam.

Jika dikebiri, sapi jantan memiliki bulu berwarna sawo matang kemerahan seperti sapi betina. (3)

Sapi3
Pengembangbiakan sapi di PT SUJ Metro (Tribun Lampung/Indra Simanjuntak)

  • Kandungan Gizi Daging


Dalam 100 gram daging sapi mengandung kalori sebesar 288 kalori atau energi sebesar 1.205 kj.

Dalam 100 gram daging sapi juga terdapat 19,54 gram lemak dan 87 mg kolesterol.

Sedangkan untuk protein, 100 gram daging sapi mengandung protein sebesa 26,33 gram.

Selain itu, daging sapi juga memiliki 384 mg Sodium dan 315 mg Kalium tanpa memiliki karbohidrat. (4)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Sapi
Kategori Hewan Ternak
Kingdom Animalia
Filum Chordata
Kelas Mammalia
Ordo Artiodactyla
Famili Bovinae
Genus Bos
Spesies Bos Taurus  


Sumber :


1. pippeternakan.pertanian.go.id
2. historia.id
3. peternakganteng.blogspot.com
4. www.fatsecret.co.id


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved