17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perjanjian Bongaya (18 November 1667)

Perjanjian Bongaya (atau Perjanjian Bungaya) melibatkan Kerajaan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan VOC. Perjanjian Bongaya terjadi pada 18 November 1667 di daerah Bungaya.


zoom-inlihat foto
perjanjian-bongaya.jpg
historyofcirebon.id/library.lontar.org
Perjanjian Bongaya

Perjanjian Bongaya (atau Perjanjian Bungaya) melibatkan Kerajaan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan VOC. Perjanjian Bongaya terjadi pada 18 November 1667 di daerah Bungaya.




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Saat Sultan Hasanuddin naik tahta pada November 1653, hubungan Kerajaan Gowa dengan Belanda memang sedang memanas.

Kala itu Gowa merupakan kerajaan besar dan menguasai lalu lintas perdagangan di wilayah Indonesia bagian timur dengan bahan dagang utama, rempah-rempah.

VOC menganggap kerajaan Gowa adalah rintangan mereka dalam melakukan monopoli.

Gowa menganut politik bebas dalam hal perdagangan yang artinya mereka berdagang dengan siapa saja, dan VOC melarang Gowa berdagang dengan bangsa Eropa lainnya.

Namun larangan VOC tersebut diabaikan.

Ditambah lagi dengan pemberontakan Arung Palakka (Aru Palaka) yang kemudian berpindah pihak ke VOC.

Beberapa kali VOC melakukan serangan yang berhasil digagalkan oleh Gowa.

Dengan menghimpun kekuatan dari Bone, Buton, dan pasukan VOC, pertahanan Gowa akhirnya runtuh.

Pertempuran dahsyat itu menimbulkan kerugian besar untuk Gowa.

Perjanjian Bongaya ditawarkan oleh VOC sebagai penutup peperangan habis-habisan antara VOC dan Gowa.

Isi perjanjian Bongaya sangat menguntungkan VOC dan merugikan rakyat Gowa.

Perjanjian Bongaya merupakan deklarasi kekalahan Gowa dari VOC, serta pengesahan Monopoli VOC di Sulawesi Selatan. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Sultan Hasanuddin

Baca: Kabupaten Gowa

Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin (historyofcirebon.id)

  • Isi Perjanjian


Pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin menandatangin perjanjian Bongaya.

Beberapa isi perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut:

1. Semua petinggi dan rakyat VOC Eropa yang saat ini atau sejak masa lalu kabur dan masih berada di Makassar, agar diserahkan ke laksamana.

2. Semua peralatan baik senjata ataupun non senjata yang masih ada yang sebelumnya diambil dari kapal Leeuwin di Don Duango dan kapal Walvisch di Selayar supaya dikirim ke VOC.

3. Bagi seseorang yang terbukti membunuh orang pihak Belanda agar secepatnya dihukum dan diadili oleh perwakilan Belanda.

4. Keharusan bagi raja dan bangsawan Makassar bagi siapa saja yang memiliki hutang untuk melunasinya dan mengganti rugi apabila melakukan kerusakan kepada VOC.

5. Pengusiran semua orang Eropa terlebih Portugis dan Inggris dari Makassar, dan tidak diperkenankan masuk atau bertransaksi jual beli di dalamnya.

6. Pembebasan VOC dari Bea Cukai dan pajak Ekspor impor

7. Pelarangan India, Jawa, Melayu, dan Aceh menjual kain dan semua barang dari China. Hanya VOC saja yang berhak untuk menjualnya. Apabila ketahuan, maka barangnya tersebut akan disita dan pelakunya dihukum.

8. Semua benteng yang berada di sepanjang pinggir pantai Makassar harus dirobohkan seperti Barombong, Pa’nakkukang, Garassi, Mariso, Boro’boso kecuali Sombaopu.

9. Pemberlakuan uang koin Belanda di wilayah Makassar.

10. Kerajaan Gowa harus menutup negerinya dari semua bangsa asing kecuali Belanda.

11. Selama perjanjian ini disumpah, dibubuhi cap dan ditanda tangani, maka pihak Makassar harus mengirimkan 2 penguasa pentingnya dengan Laksamana ke Batavia dalam penyerahan perjanjian ini menuju Petinggi Hindia Belanda. Apabila perjanjian disepakati atau disetujui, maka petinggi Hindia Belanda berhak untuk menahan dua penguasa tersebut (Makassar) sesuai hingga waktu yang dia inginkan.

12. Pembayaran ganti rugi kerajaan Gowa kepada Belanda sebanyak 250.000 rijksdaalders selama 5 musim berturut-turut.

13. Semua pihak baik kerajaan Gowa dan Belanda harus bersumpah, menanda tangani perjanjian ini pada hari Jumat, 18 November 1667. (2)

Perjanjian Bongaya
Perjanjian Bongaya (uniqpost.com)

  • Dampak Perjanjian


Perjanjian Bungaya yang berisi hal-hal yang merugikan rakyat Gowa membuat Sultan Hasanuddin bertekad untuk mengalah dan menanti waktu terbaik untuk menyerang kembali.

Sesuai siasat, Sultan Hasanuddin mulai menyiapkan pertempuran pada tahu 1668.

Namun sebagian besar pasukan Belanda terkepung oleh pasukan Gowa dan berhasil dilumpuhkan.

Setelah pertempuran berhenti untuk sementara waktu, Speelman kemudian meminta bantuan dari Batavia.

Perundingan damai yang ditawarkan oleh VOC, ditolak Hasanuddin hingga dua kali

Setelah bantuan dari Jakarta datang, Speelman kembali menyerang Gowa dan berhasil mengalahkan Sultan Hasanuddin.

Sultan Hasanuddin terpaksa turun tahta pada 29 Juni 1669 dan sejak saat itu Kerajaan Gowa mengalami kemunduran. (3)

(TribunnewsWiki/Indah)

Jangan lupa subscribe channel YoutubeTribunnewsWiki



Nama Perjanjian Bongaya
Kategori Peristiwa Bersejarah
Waktu 18 November 1667
Tempat Desa Bungaya
Pihak Terkait Kerajaan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan VOC








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved