17 AGUSTUS – Serial Pahlawan Nasional: Ajun Inspektur Polisi Dua (Anumerta) Karel Satsuit Tubun

Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun atau yang lebih sering disebut KS Tubun merupakan seorang Pahlawan Revolusi. KS Tubun menjadi korban dalam tragedi berdarah Gerakan 30 September (G30S).


zoom-inlihat foto
ks-tubun.jpg
Istimewa
Pahlawan Revolusi, KS Tubun

Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun atau yang lebih sering disebut KS Tubun merupakan seorang Pahlawan Revolusi. KS Tubun menjadi korban dalam tragedi berdarah Gerakan 30 September (G30S).




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun atau yang lebih sering disebut KS Tubun merupakan seorang Pahlawan Revolusi.

KS Tubun menjadi korban dalam tragedi berdarah Gerakan 30 September (G30S).

Saat terjadi G30S, KS Tubun tengah berjaga di rumah Wakli Perdana Menteri Johanes Leimena.

Selain ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, nama KS Tubun juga banyak dipakai sebagai nama jalan di berbagai kota di Indonesia.

KS Tubun juga merupakan polisi pertama yang dianugerahi gelar pahlawan.

Bahkan sampai 50 tahun pasca meletusnya peristiwa G30S, KS Tubun menjadi satu-satunya pahlawan yang berlatar belakang polisi.

Hingga akhirnya pada 2015, Moehammad Jasin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. (1)

Baca: HARI KEMERDEKAAN - Serial Pahlawan Nasional: Ferdinand Lumbantobing

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Kapten CZI (Anumerta) Pierre Andries Tendean

  • Kehidupan Pribadi #


KS Tubun lahir di Tual, Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1928.

KS Tubun lahir dari keluarga yang serba berkecukupan, bahkan tidak jarang kekurangan.

Ayahnya bernama Primus Satsuit Tubun, seorang penganut agama Katolik yang ketat.

KS Tubun memiliki tiga orang saudara, tiga laki-laku dan dua perempuan.

Pada 1959, KS Tubun menikah dengan seorang gadis Jawa, Margaretha.

Dari pernikahan itu, KS Tubun dan Margaretha dikaruniai tiga orang anak di antaranya Philipus Sumarno, Petrus Indro Waluyo, Linus Paulus Suprapto. (2)

KS Tubun meninggal pada 1 Oktober 1965 sebagai korban tragedi berdarah G30S, dua pekan sebelum ulang tahunnya yang ke-37.

Saat itu, KS Tubun tengah berjaga di rumah Wakil Perdana Menteri Johanes Leimena.

Ketika pasukan penculik G30S hendak menculik Jenderal AH Nasution di Jalan Teuku Umar, sebagian pasukan hendak melumpuhkan pengawalan yang menjaga rumah Johannes Leimena yang letaknya berdekatan dengan rumah Nasution.

Saat itu, KS Tubun mendapat giliran untuk berjaga di pos jaga, sedangkan teman-temannya di tempat lain.

KS Tubun dikeroyok delapan orang penculik yang kemudian menghabisi nyawanya dengan peluru panas.

Pada 5 Oktober 1965, KS Tubun ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan Surat Keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/Komando Operasi Tinggi (KOTI) nomor 114/KOTI/1965 pada 5 Oktober 1965.

Selain itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Ajun Inspektur Polisi II.

KS Tubun dimakamkan ke Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan. (3)

KS Tubun1
Pahlawan Nasional, KS Tubun (pahlawancenter.com)

  • Riwayat Pendidikan #


Karena lahir dari keluarga kurang mampu, KS Tubun hanya sempat mengenyam pendidikan formal di SD Katolik di Tual, Maluku Tenggara.

KS Tubun menyelesaikan pendidikan dasarnya pada 1941.

Ketika KS Tubun masih bersekolah, ibunya meninggal dunia.

Sementara untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, KS Tubun harus pergi ke tempat lain yang tentu akan memakan banyak biaya.

Baru pada 1951, ketika Kepolisian Negara (sekarang Polri) membuka kesempatan para pemuda untuk menjadi anggota polisi, KS Tubun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

KS Tubun langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) di Ambon.

Sebelum diterima, KS Tubun harus mengikuti ujian saringan lebih dulu.

Ujian tersebut akhirnya dapat dilewati dengan baik, KS Tubun diterima di SPN.

Pendidikan di SPN berlangsung selama enam bulan, KS Tubun mengikutinya dengan tekun.

Selama masa pendidikan, bakatnya sebagai seorang polisi sudah kelihatan. (4)

KS Tubun2
Pahlawan Nasional, KS Tubun (Ist)

  • Riwayat Karier #


Selesai menjalani pendidikan polisis di SPN, KS Tubun kemudian menjadi anggota Brimob dengan pangkat Agen Polisi Kelas Dua (Prajurit Dua Polisi).

KS Tubun bertugas di Ambon selama beberapa bulan.

Setelah itu, KS Tubun kemudian pindah ke Jakarta dan tetap ditempatkan di kesatuan Brimob namun pangkatnya sudah dinaikkan menjadi Agen Polisi Kelas Satu (Prajurit Satu Polisi).

Tugas Brimob berbeda dengan tugas Polisi Umum.

Anggota-anggota Brimob dilatih untuk tugas-tugas tempur.

Untuk itu mereka memperoleh pendidikan khusus, begitu pula dengan KS Tubun.

Dalam tahun 1954, KS Tubun mendapat perintah untuk mengikuti pendidikan di Megamendung, Bogor selama tiga bulan.

Pada 1950-an, di beberapa daerah di Indonesia terjadi pemberontakan.

Pemberontakan DITIl (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Aceh meletus pada 1953.

Pemberontakan ini dipimpin oleh Teungku Daud Beureuh.

Pemerintah terpaksa menumpasnya dengan mengerahkan kekuatan bersenjata.

Kesatuan-kesatuan Brimob pun ikut dikerahkan.

Pada 1955 KS Tubun mengikuti pasukannya yang mendapat tugas melakukan operasi militer terhadap DI/TII di daerah Aceh.

Tiga bulan lamanya ia bertugas di daerah ini.

Pengalaman itu adalah pengalaman pertama baginya dalam tugas tempur.

Belum lagi pemberontakan DI/TII selesai ditumpas, terjadi pula pemberontakan lain.

Pada 1958, golongan separatis mengumumkan berdirinya PRRI/Permesta (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/ Perjuangan Semesta) di Sumatra Barat dan Sulawesi Utara.

PRRI/Permesta tidak mengakui pemerintah pusat di Jakarta.

Pemerintah terpaksa pula mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menumpas pemberontakan tersebut.

Kekuatan Brimob pun kembali diikutsertakan, termasuk KS Tubun di dalamnya ikut melakukan operasi militer di daerah Sulawesi Utara.

Sementara itu, pada 1959, pangkat KS Tubun dinaikkan menjadi Agen Polisi Kepala (Kopral Polisi).

Pada tahun ini pula ia menikah dengan gadis pilihannya, Margaretha, yang berasal dari Jawa.

Dari pernikahan itu mereka memperoleh tiga orang anak laki-laki yakni Philipus Sumarna, Petrus Waluyo, dan Paulus Suprapto.

KS Tubun kembali mendapat perintah untuk mengikuti operasi militer di Sumatra Barat.

Ia bertugas di daerah ini selama enam bulan sejak Maret 1960.

Selama bertugas di Sumatra Barat, KS Tubun memperoleh pengalaman yang sangat berharga.

Sebagai seorang Katholik yang taat, ia bergaul akrab dengan umat Islam yang fanatik.

KS Tubun menyadari bahwa kerukunan beragama dapat diwujudkan di kalangan bangsa Indonesia.

Awal 1960-an ditandai dengan peristiwa besar di tanah air, yakni usaha membebaskan Irian Barat dari Penjajahan Belanda.

Usaha-usaha perundingan yang dilakukan pemerintah RI dengan Belanda pada waktu-waktu sebelumnya menemui kegagalan.

Tanggal 19 Desember 1961, pemerintah mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora).

Intinya ialah merebut Irian Barat dengan kekuatan senjata.

Kesatuan-kesatuan tempur dikirim ke Irian Barat untuk melakukan tugas-tugas tempur.

Begitu pula halnya dengan kesatuan Brimob yang sudah berpengalaman dalam berbagai pertempuran.

KS Tubun juga ikut dalam tugas membebaskan Irian Barat.

Akhimya Belanda bersedia berunding dan menyerahkan Irian Barat kepada Indo­nesia sekalipun secara resmi Irian Barat sudah menjadi wilayah RI, namun keamanan di daerah tersebut masih rawan.

Kelompok yang pro Belanda mencoba melancarkan pemberontakan.

Untuk menumpasnya pemerintah terpaksa mengerahkan pasukan bersenjata.

Dalam rangka menumpas pemberontakan ini, KS Tubun mendapat tugas selama 10 bulan.

Pada waktu itu, pangkatnya sudah naik menjadi Brigadir Polisi (Sersan Polisi).

Kenaikan pangkat itu diterimanya bulan November 1963.

Selesai menjalankan tugas di Irian Barat, KS Tubun dikembalikan ke induk pasukannya di Kedung Halang, Bogor.

Sejak awal 1965, KS Tubun tidak pernah lagi mendapat tugas ke luar daerah.

Tetapi keberanian yang diperlihatkannya dalam tugas-tugas tempur menarik perhatian atasannya.

Karena itu, mulai April a965 ia mendapat kehormatan menjadi anggota pasukan pengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Johannes Leimena.

Pada waktu itu, ia bertempat tinggal di Kedung Halang, sedangkan tempat tugasnya di Jakarta.

Karena itu, ia selalu bolak-balik antara Kedung Halang dan Jakarta.

Tugas itu dilaksanakannya sampai ia meninggal akibat ditembak oleh pasukan penculik G30S. (5)

Ketika sedang tidur di pos jaga, dua orang pasukan penculik menghampiri pos dan membangunkan KS Tubun.

Saat itu, KS Tubun mengira sedang diganggu oleh teman-temannya.

Namun pasukan penculik tersebut kemudian menendang KS Tubun hingga akhirnya ia terbangun dan menyadari kalau yang mengganggu bukanlah kawannya.

Karel kemudian berkelahi dengan para pasukan penculik itu.

Namun karena melawan delapam orang, KS Tubun akhirnya tumbang dan ditembak hingga membuatnya meninggal dunia. (6)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Info Pribadi
Nama Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) (Anumerta) Karel Satsuit Tubun
Nama Panggilan KS Tubun
Lahir Tual, Maluku Tenggara, 14 Oktober 1928
Meninggal Jakarta, 1 Oktober 1965
Makam Taman Makam Pahlawan (TMP) Utama Kalibata, Jakarta Selatan  
Riwayat Pendidikan Sekolah Dasar Katolik, Tual, 1941
Sekolah Kepolisian Negara, 1951  
Riwayat Karier Anggota Polri
Polisi Brimob Pangkat Agen Polisi Kelas Dua
Polisi Brimob Pangkat Agen Polisi Kelas Satu
Polisi Brimob Brigadir Polisi
Polisi Pangkat Ajun Inspektur Dua Polisi  
Keluarga
Ayah Primus Satsuit Tubun  
Pasangan Margaretha Waginah
Anak Philipus Sumarno
Petrus Indro Waluyo
Linus Paulus Suprapto


Sumber :


1. tirto.id
2. pahlawancenter.com
3. tirto.id
4. pahlawancenter.com
5. pahlawancenter.com
6. tirto.id


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved