Profil #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kiai Haji Samanhudi adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pengusaha asal Surakarta.
Kiai Haji Samanhudi adalah pendiri Sarekat Dagang Islam.
Kiai Haji Samanhudi dilahirkan dari ayah yang bernama Haji Muhammad Zen, adalah seorang pengusaha batik di Lawiyan, Surakarta.
Kiai Haji Samanhudi dilahirkan di Karanganyar, Wilayah Kesultanan, Surakarta pada tahun 1868 dan meninggal dunia di Klaten, 28 Desember 1956.
Nama kecil Kiai Haji Samanhudi adalah Sudarno Nadi.
Namanya berubah menjadi Haji Samanhudi setelah ia menunaikan ibadah Haji ke Makkah pada tahun 1904. (1)
Baca: Museum Haji Samanhoedi
Masa Kecil #
Kiai Haji Samanhudi dilahirkan tahun 1878 dengan nama kecil Sudarno Nadi di Laweyan, Surakarta.
Kebanyakan penduduk Laweyan hidup sebagai saudagar atau pengusaha batik.
Kiai Haji Samanhudi mendapat pendidikan agama dari Kyai Jadermo di Surabaya.
Kiai Haji Samanhudi juga bersekolah di Sekolah Dasar Bumiputera Kelas Satu.
Beranjak dewasa, Kiai Haji Samanhudi terjun ke dunia perdagangan batik.
Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang dari berbagai kota seperti Purwokerto, Bandung, Surabaya, Banyuwangi, Arab dan Cina membuat pengetahuan Samanhudi menjadi banyak.
Samanhudi menyadari pemerintah jajahan lebih suka membeli dari pedagang asing dan merugikan pedagang Indonesia. (1)
Sarikat Dagang Islam #
Di Sala terdapat perkumpulan bernama Kong-Sing yang bekerjasama dalam perdagangan bahan batik dan soal tolong-menolong jika ada yang meninggal.
Awalnya Kong-Sing terdiri dari orang-orang Cina dan Jawa, namun lama-kelamaan jumlah orang Cina menjadi lebih besar.
Samanhudi dan kawan-kawan-kawannya lalu keluar dan mendirikan perkumpulan Mardi Budi (Memelihara Akhlak) dengan tujuan persaudaraan.
Pada 1911, perkumpulan itu berganti nama menjadi Sarikat Dagang Islam (SDI) karena tujuan perkumpulan sudah berganti.
Delapan orang pendiri dan pengurus SDI adalah Sumowardoyo, Harjosumarto, Martodikoro, Wiryotirto, Sukir, Suwandi, Suryopranoto, dan Jerman.
Orang-orang Cina banyak yang tidak senang dengan Sarikat Dagang Islam dan konflik pun membara hingga ke Surabaya, Semarang dan Kudus.
Maka pada tanggal 10 Agustus 1912 residen Surakarta mengundang wakil Pemerintah Kasunanan dan Ketua SDI untuk menyampaikan larangan penerimaan anggota baru dan pengadaan rapat.
Ketetapan itu disusul dengan penggeledahan polisi di rumah anggota-anggota pengurusnya.
Namun penggeledahan polisi berbuah tangan kosong.
Akhirnya pihak Kraton Surakarta mencabut larangan terhadap SDI.
SDI aktif kembali pada 26 Agustus 1912.
Baca: Kampung Wisata Batik Kauman
Serikat Islam #
Pada 10 September 1912, Serikat Dagang Islam berganti nama menjadi Serikat Islam (SI).
Tujuan penggantian nama ini adalah untuk memajukan perdagangan, memberi pertolongan kepada para anggotanya yang mendapat kesukaran, memajukan kepentingan jasmani dan rohani kaum bumiputera, dan memajukan kehidupan agama Islam.
Namun pengesahannya ditolak oleh pemerintah.
Gubernur Jenderal Indenburg berpendapat bahwa SI akan menentang pemerintah.
Meski begitu, SI tetap berjalan dan bahkan menjadi besar dengan anggota 80.000 orang.
Kongres keI diadakan untuk menetapkan susunan organisasi SI.
Pimpinan SI untuk seluruh Indonesia dipegang oleh Sentral Komite Serikat Islam Hindia Timur berkedudukan di Surakarta.
Ketuanya adalah Kyai Haji Samanhudi dengan wakil ketua, Umar Said Cokroaminoto yang merangkap ketua Pengurus Besar Jawa Timur, Sulawesi, Bali dan Lombok, dan memimpin surat kabar Hindia Timoer.
Samanhudi adalah pemrakarsa sekaligus pendiri Serikat Islam pelopor pergerakan politik umat Islam di Indonesia.
Kepemimpinan berpindah ke Umar Said Cokroaminoto setelah organisasi itu menjadi besar.
Pada tahun 1918, anggota SI mencapai 450.000 orang.
Cokroaminoto kemudian dijuluki Belanda sebagai De ongekroonde koning van Jawa (raja tak bermahkota di Jawa).
Kiai Haji Samanhudi mengundurkan diri dari pimpinan Sentral Komite SI.
Di hari tuanya, Kiai Haji Samanhudi mengalami kebangkrutan pada perusahaan batiknya.
Bahkan, tempat tinggalnya berpindah-pindah dari satu anaknya ke anak lain.
Kiai Haji Samanhudi wafat pada 28 Desember 1956.
Pahlawan Nasional #
Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 590 tahun 1961 tanggal 9 November 1961 memberi anugerah gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Kiai Haji Samanhudi.
Museum Haji Samanhudi didirikan di Jalan KH Samanhudi, No 75, Sondakan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta untuk mengenang jasa-jasanya semasa hidup. (3)
(TribunnewsWiki/Indah)
Jangan lupa subscribe official Youtube channel TribunnewsWiki
| Nama | Kiai Haji Samanhudi |
|---|
| Lahir | Laweyan, 8 Oktober 1868 |
|---|
| Meninggal | Bandung, 28 Agustus 1956 |
|---|
| Istri | Clara Charlotte Deije, Johanna Mussel, Haroemi Wanasita |
|---|
Sumber :
1. sosok-tokoh.blogspot.com
2. www.biografipahlawan.com
3. pahlawancenter.com