17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pangeran Mohammad Noor

Pangeran Mohammad Noor adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Seseorang yang juga merupakan Gubernur pertama Kalimantan ini diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2018


zoom-inlihat foto
pangeran-mohammad-noor-1.jpg
Kolase foto (wikipedia.org)
Pahlawan Nasional - Ir. Pangeran Mohammad Noor (1901 - 1979)

Pangeran Mohammad Noor adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Seseorang yang juga merupakan Gubernur pertama Kalimantan ini diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2018




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mohammad Noor adalah tokoh perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Provinsi Kalimantan (dulu bernama Borneo).

Mohammad Noor lahir di Martapura, Kalimantan Selatan pada 24 Juni 1901 dan wafat pada 15 Januari 1979.

Mohammad Noor adalah seorang teknokrat, birokrat, dan ikut berjuang di pertempuran militer.

Selain itu, ia juga diangkat sebagai Gubernur Kalimantan yang pertama.

Lahir dari keluarga keturunan bangsawan, Mohammad Noor pada masa kecilnya hidup bersama dengan kalangan rakyat biasa.

Dalam perjuangan revolusi, ia membantu Bung Hatta untuk mengkoordinir pasukan di Kalimantan melawan serdadu Belanda.

Hingga akhir hayatnya, ia bekerja sebagai wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Pada tahun 2018, Mohammad Noor diberi gelar Pahlawan Nasional di Istana Merdeka oleh Presiden Joko Widodo berkat jasa-jasanya. [1]

Pangeran Mohammad Noor 2
Makam Pangeran Mohammad Noor, Gubernur Kalimantan pertama. (https://bontangpost.id)

  • Kehidupan Pribadi: Pendidikan #


Ayah Mohammad Noor bernama Pangeran Ali dan ibunya bernama Ratu Intan.

Keduanya adalah keturunan dari bangsawan Banjar, cucu dari cucu Raja Banjar Sultan Adam al-Watsiq Billah, dan cicit dari Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana bin Sultan Adam.

Ayah Mohammad Noor adalah seorang Kepala Distrik yang disebut “kiai” dan kerap berpindah dinas dari satu kota ke kota lain.

Mohammad Noor kecil tumbuh dan berkembang dalam lingkungan dengan norma-norma berdasarkan jenjang kelembagaan adat leluhur.

Ketika dewasa, Mohammad Noor menerima gelar “pangeran”.

Meski hidup dalam lingkungan ningrat, Mohammad  Noor sering menyelinap dan bermain dengan anak-anak sebayanya dari kalangan rakyat biasa.

Bersama dengan anak-anak sebayanya, Mohammad Noor mencari burung burak-burak di semak-semak pohon karamunting di kota Amuntai, Hulu Sungai Utara.

Dari kebiasaan berbaur inilah muncul rasa empati terhadap rakyat kecil dan kaum papa.

Hal utama yang paling melekat nurani Mohammad Noor adalah ketika menyaksikan secara langsung penderitaan rakyat yang mengerjakan jalan poros Tapus-Sungai Buluh.

Ia langsung menyaksikan bagaimana seseorang harus menyelam untuk mengambil tanah ke dalam air bau yang berwarna hitam-coklat dengan dada dan kaki telanjang.

Pada masa kecilnya, Mohammad Noor dididik secara Islami oleh kedua orang tuanya.

Tidak hanya pendidikan agama, Mohammad Noor juga sukses menyelesaikan pendidikan formal. [2]

Pangeran Mohammad Noor 3
Ir. Pangeran Mohammad Noor dan Istrinya, Gusti Aminah. (https://www.kanalkalimantan.com)

  • Riwayat Pendidikan #


Mohammad Noor memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar di Amuntai dan Kotabaru (1911).

Selanjutnya ia masuk sekolah do Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Banjarmasin (1917).

Setelah dari HIS, Mohammad Noor menyelesaikan pendidikan di Hogere Burger School (HBS) Surabaya (1923).

Kemudian, Noor melanjutkan kuliah di bidang teknik dan berhasil meraih gelar insinyur di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) pada 1927.

THS kini adalah Institut Teknologi Bandung. [3]

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Sultan Iskandar Muda

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Tjilik Riwut

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Harun Bin Said

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Kasman Singodimedjo

  • Riwayat Pekerjaan #


Setelah mendapatkan ijasah insinyur di THS, Mohammad Noor kemudian bekerja pada Ministery van Verker en Waterstaat di Irrigatie Afd Berantas, di kota Tegal tahun 1927 hinggai 1929.

Masih di tempat yang sama, Mohammad Noor kemudian ditempatkan di Malang (1929-1931) serta di Batavia pada 1931-1933.

Periode 1931-1933, Mohammad Noor terpilih sebagai Lid Volksraad dalam dua periode mewakili daerah Kalimantan dan ditempatkan di Banjarmasin.

Kemudian setelah itu, Mohammad Noor bekerja berpindah-pindah tempat dari Batavia, Bandung, Lumajang, hingga Banyuwangi sampai 1942.

Pada tahun 1942, ketika Jepang menduduki Indonesia, Mohammad Noor ditempatkan sebagai kepala Irrigatie Afd. Pakalen dan diangkat sebagai wakil sekjen Dobuku (Departemen Perhubungan/ Pekerjaan Umum) hingga 1945.

Ia juga ditunjuk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili Kalimantan.

Setelah peristiwa pengakuan kedaulatan oleh Belanda tahun 1949, Mohammad Noor menjadi Gubernur Kalimantan. [4]

Jabatan gubernur disandang Noor hingga 1950.

Pada 1956-1959, Noor sempat menjadi Menteri Pekerjaan Umum era Kabinet Ali Sastroamidjojo II.

Ketika menjadi Menteri Pekerjaan Umum (1956-1959), sebagian kecil cita-cita besar untuk membangun Kalimantan ia wujudkan.

Mohammad Noor mulai mengawali penggalian terusan untuk perluasan daerah sawah pasang surut dan pembangunan waduk Riam Kanan.

Di masa Orde Baru hingga akhir hayatnya, Noor mengabdi sebagai wakil rakyat Kalimantan dalam DPR/MPR. [5]

  • Riwayat Perjuangan Masa Revolusi #


Selain sebagai teknokrat dan birokrat, Mohammad Noor juga ikut berjuang pada masa Revolusi.

Pada periode ini, Noor menyebut ada dua strategi berjuang, yaitu Periode Infiltrasi Bersenjata dan Periode Infiltrasi Politik.

Dalam autobiografinya berjudul Ir. PM Noor: “Teruskan... Gawi kita balum tuntung” (1981) yang dikutip Tirto dalam artikel Abdani Solihin, "Pahlawan Nasional 2018: M. Noor, Pelopor Infrastruktur Kalimantan", ia menjelaskan bahwa dalam Periode Infiltrasi Bersenjata, ia menjalin kerja sama dengan pimpinan angkatan laut, darat, dan udara dalam menjalankan strategi infiltrasi bersenjata ke Kalimantan (Selatan, Tengah, Timur, dan Barat).

Dalam kerja sama itu, Mohammad Noor melakukan koordinasi dengan infiltran pejuang kemerdekaan melalui berbagai ekspedisi lintas laut dan udara.

Mohammad Noor juga menginisiasi untuk membentuk pasukan “MN 1001” di bawah komando Tjilik Riwut dan namanya diabadikan menjadi nama pasukan itu (MN artinya Mohamad Noor).

Mohammad Noor melakukan segala macam cara untuk merebut Kalimantan dari Belanda.

Kolonel A.H. Nasution pun juga ikut mengeluarkan instruksi dan strategi infiltrasi bersenjata ke Kalimantan.

Bekerjasama dengan Laksamana Moh. Nazir, Mohammad Noor membentuk Divisi IV ALRI untuk Kalimantan di Malang.

Di bawah koordinasi Mohammad Noor, aktivitas BPOG (Badan Pembantu Oesaha Gubernur), dan markas besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, melakukan beberapa ekspedisi lintas laut dikirim ke Kalimantan untuk membantu perjuangan kemerdekaan.

Beberapa ekspedisi tersebut terdiri dari rombongan Rahadi Usman (1945), rombongan Firmansyah (1946), rombongan Kapten Muljono (1946), rombongan Tjilik Riwut (1946), rombongan Mustafa Ideham (1946), dan rombongan Danussaputera (1949).

Selain lewat laut, Mohammad Noor juga turut membentuk beberapa pasukan udara.

Mohammad Noor membentuk tentara payung (para troops) bersama Komodor S. Suryadarma.

Penerjunan pertama atas instruksi Mohammad Noor dilakukan di bawah nama sandi MN 1001 dari pesawat Dakota C-47 dilakukan di daerah Pangkalan Bun.

Kemudian Periode Infiltrasi Politik dilakukan Mohammad Noor dengan mendirikan yayasan sebagai kedok perjuangan.

Noor sebagai pendiri dan ketua, sedangkan anggotanya adalah Sukardjo Wirjopranoto dan Supomo.

Nama yayasan tersebut adalah Yayasan Dharma.

Didirikan pada 10 November 1947 dan menerbitkan sebuah mingguan bernama Mimbar Indonesia.

Tujuan didirikannya Mimbar Indonesia adalah untuk memberikan penerangan serta menanamkan semangat dan keyakinan bernegara ketika Republik diduduki Belanda.

Mimbar Indonesia juga bertujuan mempersatukan kembali daerah-daerah yang bernaung di bawah Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) yaitu negara federal bentukan Belanda yang terbentuk akibat konsekuensi Perjanjian Linggarjati.

Dalam strategi politik yang dibuat Mohammad Noor, ia selanjutnya langsung diperintah Wakil Presiden RI Mohamad Hatta sebagai pemimpin “Panitya Pemikir Siasat”.

Beberapa pekan sebelum Proklamasi Kemerdekaan, Mohammad Noor mendapat instruksi untuk menemui seorang pemimpin Indonesia di Hotel Oranje Surabaya. [6]

Rencananya, si pemimpin tersebut akan berkunjung ke Banjarmasin dan Mohammad Noor harus menemaninya.

Berbekal pakaian selama satu pekan, perasaan Noor galau karena ia tak mengetahui tokoh yang akan didampinginya.

Saat pertemuan, sosok itu menyapanya ketika mereka berdua berjabat tangan.

“Saya Bung Hatta”.

Bung Hatta melanjutkan, ”Kita akan berangkat ke Banjarmasin”.

Perjalanan sekitar 60 km yang ditempuh dari lapangan terbang ke Banjarmasin, Mohammad Noor mendapat instruksi dari Bung Hatta untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya sebagai insinyur irigasi untuk menjadikan padang alang-alang di Kalimantan Selatan sebagai lahan persawahan yang subur.

Mohammad Noor selanjutnya bertekad mewujudkan obsesi Hatta itu. [7]

  • Wafat dan Penghargaan #


Hingga akhir hayatnya, Mohammad Noor mengabdi menjadi wakil rakyat di daeah Kalimantan.

Pada tanggal 15 Januari 1979, di Jakarta Mohammad Noor menghembuskan napas terakhirnya.

Ia dimakamkan di Komplek Pemakaman Sultan Adam, Martapura, Kalimantan Selatan.

Mohammad Noor dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo tahun 2018 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tertanggal 6 November 2018. [8]

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Mohammad Noor
Nama & Gelar Ir. Pangeran Mohammad Noor
Lahir Martapura, Kalimantan Selatan, 24 Juni 1901
Wafat 15 Januari 1979
Istri Gusti Aminah (11 orang anak)
Ayah Pangeran Ali
Ibu Ratu Intan
Bangsawan Keturunan Bangsawan Banjar, Keturunan Raja Banjar Sultan Adam al-Watsiq Billah, dan keturunan dari Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana bin Sultan Adam
Riwayat Pendidikan
Sekolah Dasar di Amuntai dan Kotabaru (1911)
Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Banjarmasin (1917)
Hogere Burger School (HBS), Surabaya (1923)
Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) (1927)
Riwayat Pekerjaan
Ministery van Verker en Waterstaat di Irrigatie Afd Berantas, Kota Tegal (1927-1929)
Ministery van Verker en Waterstaat di Irrigatie Afd Berantas, Malang (1929-1931)
Ministery van Verker en Waterstaat di Irrigatie Afd Berantas, Batavia (1931-1933)
Lid Volksraad Daerah Kalimantan (1931-1933)
Kepala Irrigatie Afd. Pakelen (1942)
Wakil Sekjen Dobuku - Departemen Perhubngan/Pekerjaan Umum (1942-1945)
Anggota - Wakil Kalimantan - Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
Pendiri dan Ketua - Yayasan Dharma (1947)
Pendiri - Mingguan Mimbar Indonesia (1947)
Pemimpin - Panitya Pemikir Siasat
Wakil - Menteri Perhubungan dan Pekerjaan Umum (1945 - 1949)
Gubernur - Kalimantan (1949)
Menteri Pekerjaan Umum (1956-1959)
Pasukan Bentukan
MN - 1001
Divisi IV ALRI untuk Kalimantan
Pasukan Payung (para troops)


Sumber :


1. historia.id
2. tirto.id
3. tirto.id
4. tirto.id
5. tirto.id
6. tirto.id
7. historia.id
8. setkab.go.id


Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Semesta Mendukung (2011)

    Semesta Mendukung adalah sebuah film drama keluarga Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved