17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Kasman Singodimedjo

Kasman Singodimedjo adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh Partai Masyumi dan Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ini diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2018.


zoom-inlihat foto
kasman-singodimedjo.jpg
Kolase foto (sangpencerah.id dan Harian Kompas/Istimewa)
Pahlawan Nasional, Mr. Kasman Singodimedjo, (1904-1982)

Kasman Singodimedjo adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh Partai Masyumi dan Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ini diangkat menjadi pahlawan nasional pada tahun 2018.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kasman Singodimedjo (Mr) adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah.

Kasman Singodimedjo lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1904 dan wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1982 dalam usia 78 tahun.

Tercatat Kasman pernah aktif dalam organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) sebuah organisasi pemuda yang berasaskan Islam dan berkiblat pada Haji Agus Salim.

Selain JIB, Kasman juga pernah diangkat menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) sebagai Kepala Batalion.

Kasman diangkat memimpin jabatan tersebut setelah diminta oleh pihak Jepang.

Kasman dipanggil oleh Sukarno pada malam hari setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan untuk bergabung menjadi anggota tambahan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tahun 1945.

Dalam PPKI, Kasman berperan untuk merayu Ki Bagus Hadikusumo, perwakilan kelompok Islam yang teguh pendiriannya dalam memasukkan tujuh kata Piagam Jakarta sebagai dasar negara.

Tujuh kata tersebut adalah kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya.

Selain itu, Kasman juga turut mewakili Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB), menjadi pimpinan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Menteri Muda Kehakiman dan Jaksa Agung.

Kasman dianugerahi gelar pahlawan nasional pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tahun 2018. [1]

Kasman Singodimedjo 2
Kasman Singodimedjo (https://historia.id)

  • Kehidupan Pribadi: Pendidikan #


Kasman adalah anak pertama dari tujuh bersaudara.

Tiga saudaranya meninggal sejak kecil, hanya empat yang mampu bertahan hidup hingga dewasa.

Ayah Kasman Singodimedjo berlatar belakang pegawai negeri dan pernah melakukan dinas di Bali serta Lampung Tengah.

Selain itu, ayahnya memutuskan hidup sebagai modin desa (petugas agama).

Sedangkan Ibu Kasman adalah seorang perempuan desa biasa dan buta huruf latin.

Kasman Singodimedjo pernah mendapatkan pendidikan dasar di sekolah Kristen swasta di Batavia bersama seorang adik perempuannya.

Adik Kasman, lebih dulu masuk ke sekolah dan berada di tingkat ketiga

Sedangkan Kasman masih berada di tingkat pertama.

Untuk menyusul ketertinggalan, Kasman mengikuti ujian khusus agar sama tingkat  dengan adiknya.

Kasman akhirnya melewati ujian tersebut, namun tetap merasa malu.

“Oleh karena itu setelah saya pikirkan secara mendalam, saya mengambil keputusan untuk pindah ke Purworejo,” kata Kasman dalam buku Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun, dikutip Historia dalam artikel Hendaru Tri Hanggoro, 'Buku Terbuka Benama Kasman Singodimedjo', (10/11/2018).

Selanjutnya, Kasman Singodimedjo bersekolah di Kutoarjo dan Magelang.

Kasman menumpang tinggal pada satu keluarga.

Sebagai imbalan, Kasman mengerjakan beberapa hal untuk keluarga tersebut.

Mulai dari mencuci pakaian, membersihkan peralatan makan, sampai mengepel lantai.

Di bidang pendidikan, Kasman melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia dan berhasil menyelesaikan sekolahnya dan menggondol gelar Meester in de Rechten (Mr.).

Selain pendidikan formal, Kasman pernah memperoleh pengajaran langsung dari pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan pada 1920-an. [2]

Kasman Singodimedjo 3
Kasman Singodimedjo pernah dipenjara pada tahun 1963 karena tuduhan percobaan pembunuhan pada presiden. Namun hal tersebut tidak pernah terbukti. Kasman tetap dipenjara sampai tahun 1966. (http://www.rmoljateng.com)

  • Riwayat Organisasi #


Pada 1924, Kasman kembali ke Batavia.

Kasman melanjutkan sekolah di STOVIA, namun tidak sampai selesai.

Pada masa ini, Kasman mulai terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kasman menjadi anggota pengurus Jong Islamieten Bond (JIB), yaitu sebuah organisasi pemuda berasas Islam yang berkiblat pada gagasan Haji Agus Salim.

Selain itu, Kasman ikut mengambil peran dalam penerbitan media cetak organisasinya, Het Licht.

Het Licht edisi Desember 1925 memuat beberapa tujuan pendirian JIB.

Antara lain mempererat hubungan golongan terpelajar dengan rakyat; menumbuhkan rasa kebersamaan antara golongan intelektual dari berbagai suku bangsa; dan menumbuhkan rasa simpati terhadap agama Islam dan toleransi pada pemeluk agama lain.

Selain itu, JIB juga turut serta dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928.

Malam hari setelah proklamasi kemerdekaan, Kasman dipilih Sukarno untuk menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Selain itu, Kasman juga sempat merangkap ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), sebuah lembaga parlemen sementara.

Kasman berhenti dari jabatan Ketua BKR yang dilepaskan pada 5 Oktober 1945 ketika BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Tidak hanya itu, Kasman pun juga tak terlalu lama memegang jabatan ketua KNIP karena digantikan oleh Sutan Sjahrir pada 16 Oktober 1945 ketika sistem pemerintahan Indonesia berubah dari presidensil ke parlementer.

Selanjutnya, Kasman menempati posisi baru sebagai Jaksa Agung.

Di lembaga Jaksa Agung, Kasman meletakkan dasar-dasar administrasi dan personalia untuk lembaga Kejaksaan Agung.

Memasuki dekade 1950-an, Kasman bergabung dan turut aktif dalam Partai Masyumi.

Dia menjadi anggota Konstituante wakil Masyumi.

Melalui sidang-sidang Konstituante bersama anggota Masyumi lainnya, Kasman berusaha memasukkan semangat Piagam Jakarta sebagai jiwa UUD yang baru dan berupaya memasukkan kembali tujuh kata agar Islam menjadi dasar negara pada sila pertama.

Namun demikian, usaha Kasman dan Masyumi gagal mengembalikan gagasan Piagam Jakarta.

Hal tersebut disebabkan karena Konstituante juga tidak pernah mencapai kesepakatan tentang dasar negara.

Pada dekade 1950an, Masyumi harus menghadapi masalah yang pelik.

Anggotanya terlibat dalam PRRI/Permesta sehingga memperuncing konflik mereka dengan Sukarno.

Masyumi menjadi partai terlarang pada awal 1960-an dan kemudian Kasman ditangkap pada November 1963 atas tuduhan upaya membunuh Presiden.

Tuduhan tersebut tidak terbukti sampai kini, namun Kasman tetap dipenjara hingga 1966, ketika kekuasaaan Sukarno melemah.

Bebas dari penjara tak membuat Kasman mempunyai dendam pada Sukarno.

Kesaksian sekretaris pribadi Kasman, A.M. Fatwa menerangkan bahwa Kasman ikut mengantar kepergian Sukarno ke peristirahatan terakhirnya di Blitar pada Juni 1970. [3]

  • Anggota PETA #


Sosok ketokohan Kasman Singodimedjo mulai menarik atensi publik pada 1940.

Kasman sempat berucap “Untuk Indonesia Merdeka!” dalam sebuah rapat Muhammadiyah di Bogor, Jawa Barat.

Ucapan Kasman tersebut secara tidak sengaja didengar oleh polisi rahasia Belanda (Politiek Inlichtingen Dienst/PID).

Kasman kemudian diciduk dan didakwa bersalah.

Hukumannya empat bulan penjara.

Nama Kasman selanjutnya muncul di sejumlah media cetak seperti Pemandangan, Pandji Islam, Adil, dan Berita NU.

“Nama Kasman tiba-tiba muncul menjadi buah pembicaraan di kalangan kaum pergerakan baik yang berasas nasionalisme maupun Islam,” kata Saifuddin Zuhri, mantan Sekjen Nahdlatul Ulama, dalam buku Hidup Itu Berjuang dikutip Historia dalam artikel Hendaru Tri Hanggoro, 'Buku Terbuka Benama Kasman Singodimedjo', (10/11/2018).

Pada masa kependudukan Jepang, namanya tidak beredar cukup lama.

Namanya muncul kembali ketika dirinya diangkat oleh Jepang sebagai daidanco atau komandan batalion pasukan Pembela Tanah Air (PETA).

Komandan Batalion adalah jabatan tertinggi untuk orang Indonesia di PETA.

Sebenarnya Kasman tak mau masuk PETA.

Kasman menolak segala macam bentuk penjajahan.

Agar gagal dalam tes, Kasman berusaha merekayasa kondisi fisiknya supaya tidak lulus tes kesehatan.

“Selama beberapa hari saya mengurangi tidur, sehingga badan saya tampak lesu, muka pucat dan mata menjadi kemerah-merahan. Saya juga berusaha agar air kencing saya menjadi kuning,” ujar Kasman.

Tapi hasil pemeriksaan kesehatan menyatakan Kasman sehat dan layak menjadi daidanco Jakarta.

Setelah masuk PETA, jaringan dan pengetahuan Kasman semakin luas.

Kasman makin tahu watak asli Jepang dan penderitaan rakyat akibat pendudukan Jepang.

Ketika pemimpin militer Jepang di Indonesia meminta seluruh anggota PETA untuk menyerahkan senjatanya, Kasman menolak perintah tersebut.

Tak kurang ide, Kasman kemudian mengajak daidanco lainnya untuk melakukan hal serupa dalam pertemuan para daidanco di Bandung.

Sebagian daidanco mengiyakan ajakannya, lainnya menolak.

Hal ini terjadi ketika Jepang berada di ujung kekalahan, pada 16 Agustus 1945.

Sehari setelah pertemuan para daidanco, Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Saat proklamasi, Kasman masih di Bandung.

Kemudian pada malam hari pukul 19.30, dia bergerak menuju Jakarta karena diangkat Sukarno menjadi anggota tambahan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). [4]

  • Peranan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) #


Kasman mempunyai peran yang begitu penting dalam PPKI.

Perbedaan pendapat kelompok nasionalis dan kelompok pemeluk Islam terkait perumusan dasar negara sulit untuk didamaikan.

Dalam hal ini Kasman berperan meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo, ketua umum Muhammadiyah sekaligus anggota PPKI, untuk melepas tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Tujuh kata tersebut muncul pada sila pertama setelah kata Ketuhanan yang mewajibkan pemeluk Islam menjalankan syariat Islam.

Tujuh kata itu diajukan oleh kelompok Islam dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Sebuah prestasi bagi Kasman karena ia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh KH. Wahid Hasyim dan Bung Hatta terhadap Ki Bagus.

Kasman berbicara dengan Ki Bagus dalam bahasa Jawa halus dan memintanya mengalah sementara selama enam bulan.

Kasman meyakinkan Ki Bagus bahwa kelompok Islam akan memperoleh kembali tujuh kata itu melalui sidang parlemen (Majelis Permusyawaratan Rakyat/MPR) enam bulan mendatang, seperti apa yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Ki Bagus pun mengalah dan bersedia menghapus tujuh kata itu. [5]

  • Wafat & Penghargaan #


Kasman wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1982 dalam usia 78 tahun.

Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Kasman Singodimedjo dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2018 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tertanggal 6 November 2018 . [6]

---

Tribunnewswiki.com terbuka dengan sumber, data-data baru dan usulan perubahan untuk memperkaya informasi.

---

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Kasman Singodimedjo
Lahir Desa Klapar, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, 25 Februari 1904
Wafat Jakarta, 25 Oktober 1982
Keluarga
Ayah H. Singodimedjo
Riwayat Pendidikan & Organisasi
Sekolah Dasar Kristen Swasta di Batavia
STOVIA (tidak selesai)
Sekolah Tinggi Huku, di Batavia (Gelar - Meester in de Rechten (Mr.))
Jong Islamieten Bond (JIB) (1924)
National Islamitische Padvinderij (Natipy) / Organisasi Kepanduan 91924-1942)
Anggota Muhammadiyah (1935)
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (1945)
Ketua dan Anggota Konstituante Partai Masyumi (1950)
Riwayat Jabatan Militer & Lembaga Negara
Daidanco / Komandan Batalion - Pembela Tanah Air (PETA)
Ketua - Badan Keamanan Rakyat (BKR) (1945)
Ketua - Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) (1945)
Jaksa Agung
Wakil Indonesia - Konferensi Meja Bundar (KMB)
Menteri Muda Kehakiman
Anggota Konstituante
Penjara
(1940: Empat Bulan) - Berucap 'Untuk Indonesia Merdeka'
(1959-1966) - Tuduhan Pembunuhan terhadap Presiden


Sumber :


1. historia.id
2. historia.id
3. tirto.id
4. tirto.id
5. tirto.id
6. setkab.go.id


Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved