17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Prof. DR. Moestopo

Prof. DR. Moestopo merupakan pahlawan nasional yang lahir di Kediri pada 13 Juni 1913. Ketika masa pendudukan Jepang, Moestopo mengikuti pelatihan PETA (Pembela Tanah Air) pada angkatan kedua. Pelatihan tentara PETA dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat.


zoom-inlihat foto
moestopoo.jpg
nusantara.news
Prof. Dr. Moestopo

Prof. DR. Moestopo merupakan pahlawan nasional yang lahir di Kediri pada 13 Juni 1913. Ketika masa pendudukan Jepang, Moestopo mengikuti pelatihan PETA (Pembela Tanah Air) pada angkatan kedua. Pelatihan tentara PETA dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat.




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Profesor DR. Moestopo merupakan pahlawan Nasional yang lahir di Kediri pada 13 Juni 1913.

Profesor DR.  Moestopo meninggal pada 29 September 1986 di Bandung pada usia 73 tahun dan mendapatkan pangkat Mayor Jenderal TNI.

Pertempuran Profesor DR. Moestopo pada saat itu Pertempuran Surabaya.

Profesor DR. Moestopo mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (1)

  • Perjuangan


Ketika masa pendudukan Jepang, Prof. DR. Moestopo mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (PETA) pada angkatan kedua.

Pelatihan tentara PETA dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Prof. DR. Moestopo diangkat menjadi Shudanco (Komandan Kompi) di Sudoarjo.

Baca: PAHLAWAN NASIONAL - Ilyas Yakub

Baca: FILM - 47 Meters Down (2017)

Kemampuan yang dimiliki Moestopo merupakan kemampuan yang melebihi seorang Shudanco, oleh karena itu Moestopo kemudian diangkat menjadi Daidanco (Komandan Batalion).

Moestopo kemudian ditempatkan di Gresik Jawa Timur.

Pada 18 Agustus 1945 setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Jepang kemudian membubarkan kesatuan PETA.

Kesatuan Prof. DR. Moestopo juga ikut dibubarkan dan senjata dari kesatuannya dilucuti.

Prof. DR. Moestopo tidak tinggal diam setelah dibubarkan, kemudian membentuk sebuah kesatuan yang dipimpin langsung olehnya.

Kesatuan tersebut bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur.

Prof. DR. Moestopo mengangkat dirinya sendiri sebagai Menteri Pertahanan At Interim Republik Indonesia.

Prof. DR. Moestopo melakukan hal tersebut agar dapat berunding dengan Komandan Tentara Sekutu dan Pimpinan Militer Jepang.

Tindakan Prof. DR. Moestopo tersebut sangat menguntungkan bagi Indonesia, karena kedaulatan Indonesia dapat tetap ditegakkan.

Sebagai menteri, Prof. DR. Moestopo menerima penyerahan kekuasaan Militer dan senjata dari Jepang.

Prof. DR. Moestopo memiliki andil yang besar dalam merebut senjata dari pasukan Jepang ketika pasukan mengepung markas besar Jepang yang dilakukan pada 1 Oktober 1945.

Namun Prof. DR. Moestopo meminta para pasukan untuk menunda penyerangan karena pada saat itu Jepang pasti akan membalas yang dpaat menyebabkan para pasukan meninggal.

Prof. DR. Moestopo menemui Mayor Jenderal Iwabe dan meminta senjata tersebut secara baik-baik.

Pada saat tersebut Iwabe menolak karena ketika Iwabe menyerahkan senjata kepada Prof. DR. Moestopo maka Iwabe yang akan disalahkan oleh sekutu.

Iwabe hanya dapat menyerahkan senjata kepada sekutu.

Namun pada saat itu Prof. DR. Moestopo menegaskan bahwa dirinya yang akan mempertanggungjawabkan kepada sekutu.

Akhirnya Iwabe bersedia menyerahkan senjatanya kepada Prof. DR. Moestopo.

Prof. DR. Moestopo menghambat pendaratan pasukan Inggris di Surabaya dan menentangnya.

Walauapun pada saat itu Soekarno sudah menyampaikan pesan agar pendaratan tersebut tidak dihalangi, namun Prof. DR. Moestopo tetap menghalanginya.

Prof. DR. Moestopo berdiri dalam mobil kap terbuka dan menyerukan kepada rakyat bahwa rakyat harus melawan Inggris.

Kemudian sebelum pasukan Inggris mendarat, Prof. DR. Moestopo berunding dengan komandan Inggris yakni Brigjen Mallaby.

Inggris mendapatkan izin untuk menempati daerah pelabuhan.

Pada 27 Oktober setelah kesepakatan dicapai, Inggris menduduki beberapa gedung dan memasuki kota tanpa izin, oleh karenanya pada 28 dan 29 Oktober terjadi pertempuran.

Inggris meminta bantuan kepada Soekarno agar menghentikan pertempuran tersebut.

Prof. DR. Moestopo dan pasukannya berangkat ke Mojokerjo dan menyiapkan basis gerilya.

Prof. DR. Moestopo kemudian pergi ke tempat perundingan Soekarno dengan pihak inggris.

Kemudian Prof. DR. Moestopo dipensiunkan dan diangkat menjadi Penasihat Agung Republik Indonesia.

Prof. DR. Moestopo kemudian diangkat menjadi Panglima Markas Besar Pertempuran Jawa Timur.

Pada tahun 1948 Prof. DR. Moestopo membawahi tiga KRU, satu di antaranya pasukan Siliwangi.

Ketika PKI menyerang Madiun, Moestopo mengerahkan pasukan Siliwangi.

Ketika terjadi Agresi Militer kedua Belanda, Prof. DR. Moestopo bergabung dengan Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD) Kolonel Nasution.

Pada saat itu, Prof. DR. Moestopo diberikan tugas oleh Nasution untuk mengurusi kesehatan.

Ketika perang kemerdekaan berakhir, Prof. DR. Moestopo diangkat menjadi Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat. (2)

Moestopo
Prof. Dr. Moestopo, semasa tuanya mendirikan lembaga pendidikan yang kini dikenal dengan Universitas Moestopo

  • Karier dan Karya


Bidang Pendidikan

  1. Ikut mendirikan “War Correspondence School”
  2. Ikut mendirikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti, USU, Fakultas Publisistik (kini Fakultas Ilmu Komunikasi) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjajaran.
  3. Mendirikan Universitas Prof. dr. Moestopo (Beragama).
  4. Turut membina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga yang dulunya Stovit (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi).
  5. Pendiri Post Graduate Study Ilmu Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta tahun 1972. Turut mendirikan dan memimpin Pendidikan Lanjutan Oral Surgery Fakultas Kedoteran Gigi Universitas Padjajaran.
  6. Pendiri dan Pembina Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
  7. Mendirikan Akademi Perawat Gigi, Akademi Pertanian, Sekolah Tehnik Gigi Menengah, Kursus Chair Side Assistant/Teknik Gigi/Dental Higienis Ys. UPDM.

Bidang Kemiliteran

  1. Cudanco tahun 1942
  2. Daidanco tahun 1942
  3. Turut mendirikan BKR
  4. Penaggungjawab Revolusi Jawa Timur
  5. Pemimpin Besar Revolusi Jawa Timur /Panglima Teritorial Jawa Timur /Menteri Pertahanan Ad-interin.
  6. Penasihat Agung Militer Presiden R.I., 30 September 1945.
  7. Penasihat Panglima Besar Jenderal Sudirman.
  8. Pemimpin Pertempuran Bandung Utara.
  9. Ahli Perang Gerilya.
  10. Panglima Divisi Siliwangi.
  11. Wakil Komandan Divisi Markas Besar Komando Jawa.
  12. Staf Spesial Duty dan Deputi KASAD.
  13. Wakil Ketua Front Pembebasan Irian Barat.
  14. Turut menyusun organisasi berdirinya militer modern TNI Angkatan Darat.
  15. Anggota Badan Pendiri Yayasan Pembela Tanah Air (PETA) 3 April 1982.

Bidang Pemerintahan

  1. Menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS)
  2. Ketua DHN Angkatan 45 bidang Pendidikan, Kebudayaan, Agama dan Kesehatan.
  3. Pembantu Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan
  4. Turut menyusun Undang-undang No. 22 Tahun 1962 tentang Pendidikan Tinggi di Indonesia.

Bidang Sosial

Moestopo mempunyai andil di kegiatan merehabilitasoi mental, mendidik serta memberikan keterampilan kepada bekas narapidana.

Para narapidana dididik kepribadiannya agar berguna untuk kehidupan dirinya, keluarga dan masyarakat. (3)

  • Pekerjaan


Tahun 1937-1941
Asisten Dosen Ortodonsiadan Konservasi Gigi Stovit Surabaya

Tahun 1941

  • Wakil Dekan Stovit Surabaya
  • Kepala Bagian Klinik Gigi CBZ (Rumah Sakit Umum) Surabaya.

Tahun 1942

  • Wakil Dekan Ika Daigagu Sikabu (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi Surabaya pada masa penjajahan Jepang)
  • Asisten Dosen Bagian Bedah Mulut Rumah Sakit Tentara Jepang di Surabaya.
  • Mengikuti Latihan Kemilitiran Cudanco di Bogor yang tergabung dalam latihan PETA (Pembela Tanah Air)

Tanggal, 18 Agustus -18 November 1945 : berpangkat Jenderal penuh dengan tugas

  • Kepala BKR (Badan Keamanan Rakyat)Karesidenan Surabaya.
  • Penanggungjawab Revolusi Jawa Timurdan menjabat sebagai Menteri Pertahanan Ad. Interim Republik Indonesia.

November 1945-1946

  • Penasehat Agung Militer Presiden Republik Indonesia
  • Penasehat Jenderal Sudirman, Panglima Tinggi Angkatan Darat.
  • Berpangkat Jenderal Mayor pada Kementrian Pertahanan Republik Indonesia.
  • Menjabat Komandan Resimen Siliwangi bandung Utara.

Tahun 1947 

  • Komandan Resimen Kratibo berkedudukan di Subang
  • Wakil Komandan Divisi Siliwangi Utara berkedudukan di Subang dan Bandung Utara.
  • Komandan Brigade Jakarta Raya dan Purwakarta.
  • Menjabat Panglima Pasukan Penggempur (Stoot Divisi) merangkap Panglima Teritorial Jawa Timur dan Komandan Markas Besar Pertempuran (MBP) Jawa Timur.

Tahun 1948 
berpangkat Kolonel (akibat rasionalisasi dengan jabatan Panglima Kesatuan Reserve Umum.

Tahun 1949

  • Inspektur Infantri MBKD (Markas Besar Komando Djawa)
  • Kepala Staf Special Duty MBKD di dalam Perang Gerilya clash II.
  • Komandan Kesehatan AD/MBKD.
  • Wakil Panglima MBKD.

Tahun 1951
Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat Merangkap sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang RSPAD Jakarta.

Tahun 1957 
Berpangkat Brigadir Jenderal/Wakil Ketua Front Pembebasan Irian Barat dan merangkat sebagai Deputi Special Duty (Tugas Khusus) MBAD (Markas Besar Angkatan Darat).

Tahun 1957–1958
Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Tahun 1961
Berpangkat sebagai Mayor Jenderal dengan jabatan :

  • Penasehat Menteri PTIP (Perguruan tinggi dan Ilmu Pengetahuan, sekarang Ditjen Pendidikan Tinggi Depdikbud)
  • Pembantu Menteri PTIP.

Tahun 1961–1968
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam – Universitas Padjadjaran Bandung.

Tahun 1961–1977
Guru Besar di Universitas Pajajaran Bandung, Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Pasundan Bandung dan beberapa akademi di Bandung.

  • Penghargaan


Dari Pemerintah Indonesia

  • Sebagai Pahlawan Nasional
  • Bintang Maha Putra Utama Republik Indonesia.
  • Bintang Gerilya
  • Bintang Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia.
  • Satya Lencana Kemerdekaan 1945 Republik Indonesia
  • Satya Lencana Prajurit Setia VII.
  • Satya Lencana Sapta Marga.
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan I.
  • Satya Lencana Perang Kemerdekaan II.
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) I.
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) II.
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) III
  • Satya Lencana Gerakan Operasi Militer (GOM) IV.
  • satya Lencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI.
  • Satya Lencana Satya dari UNPAD.
  • Bintang Karya Bhakti dari UPDM(B)
  • Satya Lencana Badan Keamanan Rakyat.

Dari Luar Negeri

  • Dari Pemerintah Yugoslavia : Yogoslavenska Narodna Armija (Non Blok)
  • Dari Pemerintah Jerman Barat : Um Internationale Fur Verdienste Partnershaft (Liberal).
  • Masyarakat Internasional : Lion International (dalam bidang sosial). (4)

(TribunnewsWiki/Sekar)

Jangan lupa Subscribe youtube channel TribunnewsWiki ya!



Nama lengkap Prof. DR. Moestopo
Lahir Kediri, 13 Juni 1913
Meninggal Bandung, 29 September 1986
Dikebumikan TMP Cikutra, Bandung, Jawa Barat
Perang Pertempuran Surabaya
Penghargaan Pahlawan Nasional Indonesia


Sumber :


1. www.merdeka.com
2. sosok-tokoh.blogspot.com
3. biografi-tokoh-ternama.blogspot.com
4. go-goblogsidin.blogspot.com


Editor: haerahr






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved