Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Tari Klasik Gaya Yogyakarta adalah tarian khas yang berasal dari Yogyakarta yang masih dilestarikan hingga sekarang


zoom-inlihat foto
tari-klasik-gaya-yogyakarta.jpg
kratonjogja.id
Bedaya Tirta Hayuningrat yang ditarikan oleh putri-putri Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta adalah tarian khas yang berasal dari Yogyakarta yang masih dilestarikan hingga sekarang




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tari Klasik Gaya Yogyakarta adalah tarian khas dari Yogyakarta yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta disebut juga dengan Gaya Mataraman.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta sudah berkembang sejak berdirinya Keraton Yogyakarta.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta merupakan tarian yang memiliki banyak nilai historis, sosiologis, politis dan pendidikan. (1

Baca: Bali United Vs PSS Sleman: Kedua Tim Berebut Tiga Poin demi Perbaiki Klasemen Liga 1 2019

Baca: Mahershala Ali

  • Sejarah


Tari Klasik Gaya Yogyakarta dimulai saat perjanjian Giyanti yaitu tahun 1755.

Dalam perjanjian tersebut Keraton Mataram terbagi menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Dan pada 1756, yaitu perjanjian Jatisari, dibentuklah rencana masa depan masing-masing kerajaan untuk meneruskan warisan budaya Mataram.

Dan dalam pembentukan rencana tersebut Kasunanan Surakarta cenderung mengembangkan tari dengan corak baru, sedangkan Kasultanan Yogyakarta memilih melestarikan dalam tari klasik yang sudah ada. (1

Dari situ pula Tari Klasik Yogyakarta disebut dengan Joged (tari) Mataram.

Di Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I tidak hanya mencintai seni tari, tetapi ia juga merupakan penari yang handal.

Bahkan selama Sri Sultan Hamengku Buwono I memerintah, ia telah menciptakan beragam tarian seperti Beksan Lawung, Beksan Etheng, dan dramatari Wayang Wong.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta awalnya hanya tumbuh dan diajarkan di dalam Keraton, namun di 17 Agustus 1918 seni tari mulai diperkenalkan di luar keraton.

Pada saat itu dimulai dengan berdirinya perkumpulan Krida Beksa Wirama.

Perkumpulan tersebut didirikan oleh dua putera Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan mendapat restu dari Sultan sendiri. (2

Dalam perkembangannya, Tari Klasik Gaya Yogyakarta mencapai puncak di masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Pada saat itu Wayang Wong merupakan karya monumental yang sekaligus menjadi simbol legitimasi raja.

Wayang Wong juga menginspirasi lahirnya beksan-beksan (tari) lepas dengan mengambil ide dari tokoh kesenian tersebut.

Dari Wayang Wong, terciptalah berbagai bentuk koreografi mulai tarian tunggal hingga pasangan. (1

  • Bentuk


Bentuk karakter dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta dapat dibagi menjadi halus (alusan), gagah (gagahan), dan kasar.

Halus dapat dibagi menjadi tiga, yaitu halus luruh yang memiliki gerakan lembut dan pelan, halus mbranyak yang dinamis, dan halus tumanduk yang ada diantara luruh dan mbranyak.

Gagah dapat dibagi menjadi gagah lugu yang tampak bersahaja, dan gagah kongas yang penuh kebanggaan.

Kasar dapat dibagi menjadi kasar kesatria dan kasar raksasa.

Untuk ragam perwatakan tari klasik gaya Yogyakarta diambil dari perwatakan karakter-karakter yang ada di wayang kulit.

Pola gerak untuk karakter putri hanya satu yaitu ngenceng Encot atau Nggruda.

Dan untuk karakter putra, ada empat ragam pokok yang disebut Impur, Kambeng, Kalang Kinantang, dan Bapang.

Impur berkarakter halus, sedangkan Kambeng berkarakter putra gagah dan keduanya digunakan untuk menggambarkan watak sederhana, tidak banyak tingkah, dan penuh percaya diri.

Kalang kinantang berkarakter halus dan gagah yang digunakan untuk menggambarkan watak keras, angkuh, dan dinamis.

Bapang berkarakter gagah dan kasar dan digunakan untuk menggambarkan watak sombong sekaligus banyak tingkah.

Terdapat pula beberapa istilah seperti, Wanda yaitu menunjukkan ekspresi dan raut muka yang menggambarkan watak dan suasana hati seorang tokoh.

Biasanya dalam satu tokoh terdapat tiga Wanda, misalkan tokoh Kresna yang memiliki wanda Mangu, Gendreh, dan Gidrah.

Mangu untuk menunjukkan wibawa, Gendreh saat menunjukkan kepandaian bicara, dan Gidrah saat adegan perang atau terbang. (2)

Baca: Pala (Rempah-rempah)

 

  • Pedoman


Dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta terdapata dua pedoman, yaitu pedoman baku dan tidak baku.

Pedoman Baku, atau disebut pula dengan pathokan baku yaitu aturan Tari Klasik Gaya Yogyakarta yang mutlak dan harus diikuti oleh penari baik putra maupun putri yang ingin mencapai tingkat optimal dalam seni tarinya.

Beriktu adalah pathokan baku dalam Tari Klasik Khas Yogyakarta :

1. Sikap Badan (deg)

Sikap badan penari harus baik dipandang dari segala arah.

Badan penari harus selalu tegap (ndegèg) yaitu tulang belakang berdiri tegak, tulang belikat datar, bahu membuka, tulang rusuk diangkat, dada dibusungkan, dan perut dikempiskan.

2. Sikap Kaki

Bagian kaki penari dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian tungkai atas dan jari-jari kaki. Posisi kaki harus dengan ketentuan sebagai berikut:

  • Pupu mlumah atau tungkai atas terentang
  • Dhengkul megar atau lutut membuka
  • Suku malang atau kaki melintang
  • Driji nylekenthing atau jari-jari kaki diangkat ke atas

3. Mendhak

Mendhak yaitu posisi tungkai merendah dengan tekukan lutut yang dilakukan dalam keadaan tungkai atas terbuka.

Mendhak yang mapan memungkinkan gerakan tungkai lebih hidup sehingga tarinya kelihatan ébrah (besar) dan ruang geraknya menjadi luas.

4. Sikap tangan

Gerak tangan selalu dipusatkan pada pergelangan tangan sedangkan lengan hanyalah mengikuti saja.

Pemusatan gerak tangan pada pergelangan tangan ini dimaksudkan agar posisi tangan dan siku dapat stabil tidak mengembang maupun menguncup (megar-mingkup).

Tari
Salah satu jenis Beksan Mataraman.

5. Pacak gulu/gerak leher

Gerak leher dipusatkan pada tekukan jiling, yaitu persendian kepala dengan leher baik untuk tolehan maupun pacak gulu.

6. Gerak cethik

Cethik atau pangkal tungkai atas merupakan bagian yang sangat penting dalam gerak tubuh penari baik ke arah samping maupun ke bawah atau mendhak.

7. Pandangan mata (pandengan)

Pandangan mata dalam Tari Klasik Gaya Yogyakarta adalah kelopak mata terbuka, bola mata lurus ke depan menurut arah hadap muka, dan pandangan tajam, dengan jarak kurang lebih 3 kali tinggi badan.

Sedangkan utnuk pathokan yang tidak baku ada tiga yaitu luwes (tidak kaku dan mengalir), patut (serasi dan sesuai) dan resik (bersih dan cermat dalam melakukan gerakan). (3

Baca: Renault Triber

 

  • Macam


Tari yang lahir dan berkembang di Keraton Yogyakarta terbagi menjadi beberapa kategori seperti tari tunggal, Beksan, Srimpi, dan Bedhaya.

Tari tunggal adalah tarian yang hanya dibawakan oleh seorang penari, seperti tari Klana Raja, tari Klana Alus, dan tari Golek.

Beksan berarti tari, dan dapat dibagi menjadi Beksan Petilan yang dilakukan berpasangan dan Beksan Sekawanan yang didukung empat penari atau kelipatannya.

Ada berbagai macam beksan, yaitu Beksan Lawung, Beksan Anglingkusuma, Beksan Jangerana, dan Beksan Panji Ketawang.

Di antara tarian tersebut, Beksan Lawung adalah yang paling khusus karena menjadi tari kenegaraan, bahkan dianggap sebagai wakil dari Sultan saat ada resepsi perkawinan agung di Kepatihan.

Tari Srimpi adalah tarian lemah gemulai yang biasanya ditarikan oleh empat penari, kecuali Srimpi Renggowati yang ditarikan oleh lima orang.

Ada berbagai macam tari srimpi seperti Srimpi Pandelori, Srimpi Jebeng, Srimpi Muncar, dan Srimpi Pramugari.

Tari Bedhaya dibawakan oleh sembilan penari, dibandingkan dengan ragam tari lainnya, tari ini dianggap lebih tua dan sakral.

Terdapat beberapa tari Bedhaya seperti Bedhaya Semang, Bedhaya Bedah Madiun, Bedhaya Sinom, dan Bedhaya Tirta Hayuningrat.

Di antara tari-tari tersebut, terdapat dua tarian yang dianggap sakral dan hanya boleh ditampilkan di saat-saat tertentu yaitu Srimpi Renggowati dan Bedhaya Semang.

Selain itu juga terdapat dua genre dramatari, Wayang Wong dan Golek Menak.

Wayang Wong mengacu pada wayang kulit sedang Golek Menak mengacu pada wayang golek yang terbuat dari kayu. (2)

Baca: Tari Beksan Wanara

Baca: Gunung Panderman

  • Makna dan Filosofi


Tari Klasik Gaya Yogyakarta atidak hanya sebagai seni olah tubuh, melainkan juga mencerminkan filsafat hidup.

Jiwa dari Joged Mataram tersebut dibagi menjadi empat unsur sawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh.

Empat unsur tersebut tidak hanya dalam seni tari namun juga merupakan karakter rakyat Yogyakarta.

Sawiji yaitu fokus, konsentrasi penuh namun tidak tegang.

Greged yaitu semangat yang terkendali dan kesungguhan untuk mencapai suatu tujuan.

Sengguh yaitu rasa percaya diri tanpa kesombongan.

Ora mingkuh adalah ketangguhan, bertanggung jawab dan tidak berkecil hati dalam menghadapi masalah.

Tari Klasik Gaya Yogyakarta juga menekankan pada penjiwaan karakter yang dibawakan sehingga muncul istilah jogedan dan anjoged.

Jogedan berarti baru sebatas menggerakan badan sekadar mengikuti hafalan tari.

Sedangkan Anjoged adalah menari dengan penuh keyakinan dengan gerakan yang indah dan mantap bahkan ketika penari dalam keadaan diam. (2)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Abdurrahman Al Farid)

Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWiki

 



Nama Tari Klasik Gaya Yogyakarta
Jenis Tarian Tradisional
Asal Daerah Yogyakarta
   


Sumber :


1. blogkulo.com
2. www.kratonjogja.id
3. www.dictio.id








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Ramalan Zodiak Cinta Besok Senin

    Berikut ramalan zodiak cinta besok Senin 20 September
Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved