Adapun individu-individu yang ditipu, jika mereka mencari pekerjaan dan memiliki informasi kontak yang tersedia secara online, mereka dapat dengan mudah ditemukan oleh para penjahat, kata Kotsianas.
Sedangkan FBI tidak akan memberikan perkiraan berapa banyak orang yang telah ditipu atau berapa banyak uang yang telah mereka hilangkan.
Namun Kotsianas mengatakan K2 telah berbicara kepada sekitar 100 korban.
Beberapa telah kehilangan sekitar 3.000 dolar AS atau sekitar Rp 42 juta (kurs Rp 14 ribu/dollar AS), yang biasanya merupakan tiket pesawat dan pengemudi Indonesia.
Dalam kasus lain, Kotsianas menyebut diperkirakan kerugian para korban telah mencapai 150 ribu dollar AS (Rp 2,1 miliar) bagi mereka yang melakukan beberapa perjalanan ke Indonesia dan percaya bahwa mereka sangat terlibat dalam proyek-proyek yang kemudian terbukti tidak ada.
Baca: Garuda Indonesia Imbau untuk Tak Ambil Foto di Kabin, Kaesang Pangarep: Apa Foto Kami akan Dicekal?
Baca: Tommy Sugiarto
Baca: Warga Bali Heboh Kumpulkan Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Canggu
Baca: Tanaman Ciplukan
Baca: Hari Emoji Sedunia
Rata-rata, Kotsianas menambahkan, para korban yang ia kenal kehilangan antara 15 ribu dollar AS (Rp 210 juta) hingga 20 ribu dollar AS (Rp 280 juta).
Beberapa panggilan telepon berbelok ke arah yang eksplisit secara seksual, kata Kotsianas, yang telah memicu lonceng peringatan untuk beberapa target.
"Jika hal-hal seperti itu terjadi, jelas itu harus menjadi bendera merah," tambahnya.
Kotsianas mengklarim pihaknya telah melakukan beberapa uji tuntas dalam mencoba memverifikasi identitas penelepon untuk mencegah banyak orang lain terjebak dalam skema tersebut.
"Untuk setiap orang yang kami dengar dari siapa yang pergi ke Indonesia," katanya, "ada 20 yang mendapat telepon."
(tribunnewswiki.com/haerahr)