Informasi Awal
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Suyati atau Yati Pesek adalah seniman serba bisa dari Yogyakarta.
Nama "Pesek" yang melekat padanya merupakan julukan dari rekan-rekannya.
Aktris dan pelawak senior ini lahir di Yogyakarta pada 8 September 1952.
Ayahnya seorang pengrawit dan ibunya seorang penari.
Jiwa seni Yati Pesek tidak lepas dari warisan keluarga yang mana keduanya merupakan pemain wayang orang.
Ayahnya, Sujito, adalah seorang seniman karawitan atau gamelan Jawa.
Sang ibu, Sujilah, juga merupakan seorang penari yang turut menurunkan bakat seni kepada putrinya.
Melalui bimbingan ibunya, Yati mulai belajar tari sejak kecil dan memperdalam keahliannya di bawah asuhan R.M. Joko Daulat.
Yati Pesek telah meniti karier di dunia seni sejak tahun 1964.
Perjalanannya dimulai dari berbagai komunitas seni, seperti Wayang Orang Jati Mulya di Kebumen, Ketoprak Mudha Rahayu di Yogyakarta, hingga Ketoprak Siswa Budaya di Tulungagung.
Berdasarkan tesis milik Pujiyani yang disusun tahun 2015 berjudul Yati Pesek Seniman Serba Bisa dalam Seni Pertunjukan Populer, Yati adalah perempuan kelahiran 8 Agustus 1952.
Pada tahun 1980, Yati Pesek direkrut oleh Handhung Kussudiharja masuk dalam Sandiwara Jenaka KR yang ditayangkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) Yogyakarta setiap seminggu sekali selama sepuluh tahun.
Sejak itulah nama Yati Pesek mulai dikenal masyarakat, di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. (1)(2)(3)
Karier
Pada tahun 1964, Yati bergabung dengan komunitas Wayang Orang Jati Mulya dari Kebumen. Selanjutnya, Yati aktif berkegiatan dari satu tobong ke tobong yang lain. Tobong- tobong yang pernah Yati ikuti adalah Panca Murti pimpinan Timbul Suhardi (1966), Darma Mudha Yogyakarta pimpinan Yusuf Agil (1967), dan Sari Budaya Klaten pimpinan Aris Munandar. Yati juga bergabung dengan Wayang Orang Ajudan Jendral Komando Resort Militer (Ajen Rem) 081 Madiun pada 1968.
Pada tahun 1969, Yati bergabung ke dalam Ketoprak Mudha Rahayu dari Yogyakarta. Tahun berikutnya, ia memasuki kelompok Ketoprak Siswa Budaya dari Tulungagung pimpinan Siswanda HS.
Pada tahun 1980, Yati direkrut oleh Handung Kussudyarsana untuk masuk ke dalam Sandiwara Jenaka KR yang ditayangkan TVRI Yogyakarta setiap seminggu sekali selama sepuluh tahun. Nama Yati semakin dikenal ketika ia tampil bersama Marwoto dan Daryadi dalam acara Trio Jenaka KR.
Melihat potensi Yati yang semakin berkembang, menjadikan para sutradara film tertarik dengan gaya keaktoran Yati Pesek. Salah satunya ialah Arifin C. Noer yang merekrut Yati Pesek sebagai pemain dalam film Serangan Fajar pada tahun 1982. Kemudian, R. Suprantio menjadikan Yati sebagai pemain dalam serial televisi Kiprah Anak Dalang (1984).
Ketenaran Yati juga menarik perhatian dalang Ki Manteb Sudarsono yang sedang pentas di Taman Ismail Marzuki pada 1986. Yati hadir sebagai penonton, sehingga Ki meminta Yati naik ke atas panggung untuk bergabung dalam pentasnya. Secara spontan, terjadi komunikasi yang sinergis antara mereka, sehingga menjadi bentuk teatrikal yang menarik. Hal ini merupakan fenomena baru dalam pertunjukan wayang kulit dan sejak saat itu, hadirnya pelawak dalam pertunjukan wayang kulit disebut dengan istilah "bintang tamu".
Bagong Kussudiardja selaku pimpinan Ketoprak Sapta Mandala juga tertarik dengan popularitas Yati Pesek. Oleh karena itu, pada 1991, Bagong memprakarsai pembentukan Ketoprak Plesetan dan merekrut Yati bersama Marwoto dan Daryadi sebagai bintang tamu. Selanjutnya, mereka dikenal dengan sebutan "Trio Plesetan".
Pada tahun 1997 hingga 1999, Yati menjadi bintang iklan obat maag Konimaag yang diproduksi oleh Konimex di salah satu stasiun televisi swasta.
Pada 2003, Yati membuat pertunjukan Limbuk Cangik, yang kemudian mendapat kesempatan untuk tayang di Indosiar hingga 67 episode. (4)
Kabar Terbaru
Yati Pesek ternyata juga pernah menjadi korban mulut kasar Miftah Maulana atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Miftah.
Gus Miftah pernah mengolok-olok sinden senior Yati pesek dengan kata-kata tak pantas.
Alhasil pendakwah Gus Miftah kembali mendapat hujatan publik.
Publik dibuat geram di jagat media sosial usai muncul video percakapan Miftah Maulana atau Gus Miftah dengan pesinden legendaris sekaligus pelawak senior tanah air, Yati Pesek.
Miftah Maulana atau Gus Miftah melempar guyonan yang dianggap publik kelewat batas.
Ia membuat sebuah pengandaian terhadap Yati Pesek yang terdengar kurang ajar.
Dalam sebuah acara wayang, Miftah Maulana atau Gus Miftah sempat melemparkan sebuah guyonan dengan Yati Pesek, yang kala itu sudah berhijab.
"Kulo niku bersukur Bude Yati elek, nek ayu dadi lont* to niki, (Aku bersyukur Bude Yati jelek, kalau cantik jadi lont*)," seloroh Miftah Maulana atau Gus Miftah diikuti tawa para hadirin.
Mendengar ucapan itu, Yati Pesek tidak ikut tertawa.
Terlihat dari raut mukanya, ia marah.
Ia kaget mendengar Miftah yang berbicara kasar seperti itu.
"Saiki kok dadi suarane kongono. Untung Gus sampean kui saiki neng kene ora ustad kok ya, ora dadi kiai, dudu, (Kok sekarang omongannya jadi begitu. Untung Gus kamu sekarang di sini bukan jadi ustaz, bukan sedang jadi kiai)," tutur Yati.
Video itu dibagikan oleh akun @addtaufiq di X (dulu Twitter).
Akun tersebut membagikan video percakapan Miftah Maulana dengan Yati Pesek di panggung berdurasi 1 menit 35 detik.
Ia geram dengan pemilik pondok pesantren Ora Aji tersebut yang bermulut kasar.
"Maaf, saya tidak ada intensi apa pun ke Pak Miftah. Tapi saya ingin bertanya ke Bpk. Presiden @prabowo: kenapa orang seperti Pak Miftah diangkat jadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama? Video terlampir ini menimbulkan pertanyaan serius ttg kredibilitasnya ," tulisnya.
Sekitar pukul 15.57 WIB, postingan di akun tersebut sudah dilihat 547 ribu kali, disukai 4 ribu kali, di-retweet 2 ribu kali serta 434 komentar.
Warga net pun kembali mengecam tindakan sang pendakwah yang kelewat batas.
"Memang, lisan kita tuh suka nyeletuk sesuatu yang "biasa" kita ucapin... Isi pikiran dan hati kita... Itu pelecehan seksual loh. Juga, nggak pantes bilang jelek ke perempuan. Merasa normal, padahal pelecehan, penghinaan," tulis @Ariestanabirah.
"Pdhl sdh dijwb Ibu yatinya "suaramu saiki kok elek ta" ( suaramu skrng kok jelek sih..) tp dlm istilah jawa bukan merujuk suara ketika bernyanyi, tp ketika berbicara. Dari raut wajah Bu yati jg sdh terlihat sngt tersinggun," tulis @mereduzinopr.
"Mmg udah gak bisa ditolong mulut Miftah, rusak dari lahir. Merendahkan org lain apalagi kaum perempuan spt seniman senior Yati Pesek ini sdh sgt keterlaluan, sbg aktivis perempuan & DPR mbak @RahayuSaraswati hrs bersikap merebaknya guyonan sampah model Miftah spt ini," tulis @edjoy12. (5)