Kasus ini membuat geger, karena Aulia Risma yang tercatat sebagai mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di RS Kariadi, ditemukan tewas di kamar kosnya, Senin (12/8/2024) malam.
Di dekat jenazah Aulia, polisi menemukan jarum suntik, yang isinya obat penenang.
Aulia mengakhiri hidup karena diduga tidak kuat dibully atau dirundung selama menjalani masa PPDS Anestesi di Undip Semarang.
Menurut Budi, jika terbukti benar ada bullying di balik kasus ini, maka pelaku akan diberi sanksi tegas.
"Kalau ini benar- benar terjadi (perundungan) kita akan pastikan orang yang memperlakukan seperti ini akan berikan sanksi tegas," kata Budi dikutip dari Tribunnews.com.
Lebih lanjut Budi menegaskan jika Kementerian Kesehatan bisa mencabut Surat Izin Praktik (SIP) dan Surat Tanda Registrasi (STR), jika terbukti ada oknum yang melakukan tindak perundungan.
Baca: PNS Sejak 2020, Ini Keseharian Aulia Risma Dokter PPDS Anestesi UNDIP, Dikenal Ramah dan Sangat Baik
Saat ini Kementerian Kesehatan sudah mengirimkan audit dan bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk melakukan pemeriksaan.
Menurut Budi, pihaknya sudah menemukan buku catatan harian korban.
"Kita sudah menemukan buku catatan hariannya. Jadi kita bisa melihat perkembangan moral kejiwaan beliau seperti apa," ucapnya.
"Cukup detail ditulis di buku hariannya. Nanti kita akan confirm apakah hal ini benar-benar terjadi," lanjut Budi.
Menkes juga meminta agar kegiatan PPDS Anastesi Undip di RSUP Kariadi dievaluasi.
Terakhir, Budi menegaskan bahwa tidak boleh ada praktik bullying dengan alasan menciptakan tenaga yang tangguh dan tidak cengeng.
"Tidak ada lagi perilaku-perilaku bullying seperti ini dengan alasan menciptakan tenaga yang tangguh, menciptakan tenaga yang tidak cengeng. Kita bisa menciptakan tenaga yang tangguh tidak cengeng tanpa menyebabkan mereka mati,” ucapnya.
Baca: Isi Buku Harian Aulia Risma Lestari Dokter PPDS Anestesi UNDIP, Curhat Tak Kuat Hadapi Senior
Menurut Budi, PPDS Anestesi Undip di RSUP Dr Kariadi, Semarang hanya ditutup sementara.
Penghentian sementara ini, kata Budi bertujuan untuk mendalami kasus bunuh diri salah satu peserta didik diduga akibat perundungan atau bullying.
"Kita tidak ada niat ini untuk menutup selama-lamanya. Enggak," katanya.
Penghentian sementara dilakukan agar penyelidikan dapat berjalan lancar.
Mengingat, kata Budi adanya hambatan saat proses penyelidikan, yaitu mahasiswa angkatan bawah tak mau berbicara.
Oleh karena itu, ia mengimbau kepada kampus untuk menghentikan sementara progam pendidikan PPDS anestesi.
"Karena begitu mau memeriksa, semua murid-murid junior di sana diintimidasi, tidak boleh bicara," ujarnya.
Baca: Dikenal Cerdas, Ini Sosok Aulia Risma Lestari, Dokter PPDS Anestesi UNDIP Bunuh Diri karena Dibully
"Nah ini menurut saya tidak baik, karena masih berinteraksi di sana," imbuhnya.
Diharapkan dengan adanya penghentian sementara tersebut, penyelidikan dapat dilakukan dengan cepat, bersih dan transparan.
"Kita tidak ada niat untuk menutup selamanya, kita mau bikin situasi nyaman. Agar saat ada yang kita panggil, bisa bicara apa adanya tanpa takut diintimidasi. Diancam oleh senior, sehingga bisa mengambil tindakan yang tegas," tutupnya.
Kekinian, sedang heboh berita kematian seorang dokter muda peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah.
Dokter muda itu bernama Aulia Risma Lestari.
Dia ditemukan dalam kondisi tewas di kamar kosnyanya, di Lempongsari, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/8/2024) malam.
Aulia diduga bunuh diri dengan menyuntikan obat penenang secara berlebih.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang Kompol Andika Dharma Sena membenarkan peristiwa itu bahwa korban menyuntikkan obat ke tubuhnya sendiri.
"Benar bunuh diri, yang bersangkutan menyuntikkan obat ke badannya sendiri," ujarnya dikutip dari Kompas.com.
Menurut Sena, peristiwa itu ketahuan setelah pintu kamar kos korban terkunci dari dalam kamar untuk jangka waktu cukup lama.
Hal itu memicu kecurigaan dan akhirnya kunci dibuka paksa.
"Waktu kita buka, di dalam dibongkar dulu kuncinya," ujarnya.
Sementara itu, pihaknya masih mendalami informasi adanya dugaan perundungan yang menjadi penyebab korban nekat mengakhiri hidupnya tersebut.
"Terkait dengan informasi mengenai perundungan masih kita cek, karena yang bersangkutan itu informasinya memang sakit, dan yang bersangkutan itu ikut beasiswa," ucapnya.
"Informasinya yang bersangkutan sudah tidak kuat lagi atau bagaimana, mau kita cek lagi, benar apa tidak," imbuhnya.
Undip sendiri membantah telah terjadi bullying atau perundungan berujung meninggalnya Aulia.
Dalam surat resmi bertanda tangan rektor Undip Prof Suharnomo pada 15 Agustus 2024, tertulis bahwa hasil investigasi internal Undip menyatakan tidak ada perundungan yang terjadi.
"Dari investigasi internal kami, hal tersebut tidak benar," katanya dikutip dari Tribunnews.com.
Prof Suharnomo menuturkan, dokter muda itu memiliki masalah kesehatan yang membuat proses belajar di PPDS menjadi terganggu.
"Almarhumah selama ini merupakan mahasiswi yang berdedikasi dalam pekerjaannya," ujarnya.
"Namun demikian, Almarhumah mempunyai problem kesehatan yang dapat mempengaruhi proses belajar yang sedang ditempuh," lanjut Prof Suharnomo.
Namun, pihaknya enggan mengungkap masalah kesehatan yang dialami dokter Aulia dengan alasan privasi.
Ia mengklaim, selama proses pendidikan pengelola pendidikan program studi anestesi memantau secara aktif perkembangan kondisi yang bersangkutan.
Berdasarkan kondisi kesehatan itu, lanjut dia, maka dr Aulia sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.
Namun, lantaran dokter muda itu merupakan penerima beasiswa, maka niatan itu urung dilakukan.
"Secara administratif terikat dengan ketentuan penerima beasiswa, sehingga almarhumah tak jadi mundur," jelasnya.
Prof Suharnomo menyatakan, sangat terbuka dengan fakta-fakta valid lain di luar hasil investigasi yang telah dilakukan.
Menurutnya, Undip siap berkoordinasi dengan pihak manapun untuk menindaklanjuti tujuan pendidikan dengan menerapkan "zero bullying" di Fakultas Kedokteran UNDIP sejak 1 Agustus 2023.
"Tim Fakultas Kedokteran UNDIP bersama dengan tim RSUP dr Kariadi telah melakukan pertemuan dengan Bapak Dirjen Yankes dan menyampaikan klarifikasi mengenai hal-hal yang dimaksud," katanya.
"UNDIP siap berkoordinasi dengan pihak-pihat terkait untuk mengklarifikasi, mendiskusikan dan melakukan penanganan lebih lanjut," lanjutnya.
Sebelumnya, Plt Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat dr Siti Nadia Tarmizi, ungkap jika Kemenkes telah turun lakukan investigasi terkait kasus ini.
"Mudah-mudahan dalam seminggu ini sudah ada hasilnya," ujarnya.
"Walau PPDS ini program Undip, Kemenkes tidak bisa lepas tangan karena yang bersangkutan juga melakukan pendidikannya di lingkungan RS Kariadi sebagai UPT Kemenkes," tegas Nadia.
(tribunnewswiki.com/tribun network)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini