Meninggal di Solo, Inilah Perjalanan Hidup Dokter Lo Siaw Ging, Dermawan & Berjasa saat Kerusuhan 98

Penulis: Rakli Almughni
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dokter Lo Siaw Ging

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berikut ini adalah perjalanan hidup dokter yang dikenal dermawan bernama Lo Siaw Ging yang meninggal dunia di Solo.

Dokter Lo Siaw Ging telah meninggal dunia di Rumah Sakit Kasih Ibu Solo, Jawa Tengah, Selasa, 9 Januari 2024, siang.

Ia mengembuskan napas terakhirnya di usia 88 tahun.

Diketahui, dokter Lo Siaw Ging meninggal karena sakit yang sudah lama dideritanya.

Sebelum meninggal, pria yang akrab disapa dokter Lo ini sering keluar masuk rumah sakit.

Jenazah dokter Lo Siauw Ging sendiri dimakamkan di rumah duka Thing Ting Jalan Kolonel Sutarto Kecamatan Jebres, Solo.

Dokter Lo Siauw Ging (Tribun Jakarta)

Baca: Viral Kisah Nyata Wanita Nikah dengan Kakak Ipar, Kini Jadi Ibu Sambung Ponakannya di Umur 21 Tahun

Baca: Konflik Lagu Mungkinkah, Andre Taulany Merasa Dipalak Ndhank karena Dituntut Ganti Rugi Rp35 Miliar

Sosok dan biodata dokter Lo Siaw Ging

Dilansir dari Kompas,com, dokter Lo lahir di Kota Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Agustus 1934.

Ayahnya yang bernama Lo Bian Tjiang merupakan seorang pengusaha tembakau.

Sementara sang ibu, Liem Hwat Nio merupakan seorang dokter yang kemudian mendorong dirinya menekuni dunia kedokteran.

Dalam sebuah wawancara, dokter Lo pernah bercerita bahwa sang ayah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidup.

Walau saat itu dokter Lo sempat dibujuk untuk menjadi pedagang, seperti yang ditekuni keluarga besarnya.

"Ayah saya bilang, kalau memang jadi dokter ya ga usah mikir dagang, kalau dagang ga usah mikir dokter," kata dokter Lo, pada 14 Agustus 2015, dikutip dari Kompas.com.

Perkataan ayah tersebut mendorong dokter Lo untuk menolong orang sakit, sehingga ia tidak mengedepankan untung rugi.

Baca: Bukan 340 Ribu Hektar, Prabowo Ngaku Luas Lahannya Hampir 500 Ribu Hektar, Anies Baswedan Salah

Baca: Anies Baswedan Resmi Dilaporkan ke Bawaslu karena Buka Data Lahan Prabowo 340 Ribu Hektare & Rp700 T

Dokter Lo kemudian menekuni studi kedokteran.

Pada tahun 1963, dokter Lo resmi menyandang dokter dari Universitas Airlangga.

Dia juga menyebutkan sosok inspiratif lainnya yang juga yakni mentornya, Dr Oen Boen Ing, pendiri Rumah Sakit Dr Oen.

Dia yang menginsipirasi dokter Lo Siauw Ging untuk benar-benar mengabdi kepada pasien miskin.

Sikap dermawan dan penuh jiwa sosial yang ditularkan oleh Dr Oen, membuat dokter Lo lebih meyakini bahwa kesehatan adalah milik semua orang, termasuk orang miskin.

Ia juga pernah "marah" kepada pasiennya yang memaksa untuk membayar.

Meskipun saat itu, dokter Lo mengetahui bahwa si pasien tidak punya uang cukup untuk membeli obat.

Baca: Lagi Viral, Apa Itu Artinya Julukan Capres El Chudai, El Gemoy, dan El Chef? Ternyata Ini Maknanya

"Apa kamu sudah kaya dan bisa beli beras, kok mau bayar," ujarnya.

Tidak hanya itu, suami dari Maria Gan May Kwee tersebut juga tidak segan untuk memarahi orang tua pasien karena terlalu lama memeriksakan anak mereka yang sakit.

Itu pernah dialami warga Brengosan Solo, Yunita.

"Saya pernah dimarahi, pas itu anak saya panas tinggi dan setelah tiga hari tidak turun turun, saya bawa ke dokter Lo.

Sampai sana dimarahi, kok baru sekarang," kata Yunita pada 14 Agustus 2015.

Semasa hidupnya, ia harus menanggung kurang lebih Rp. 7-8 juta dalam sebulan untuk membantu pasiennya.

Namun dia bercerita, ada seorang donatur yang mengetahui kedermawanannya dan akhirnya tertarik membantu.

"Ada donatur yang berniat membantu saya, karena dengar saya kerjanya bantu pasien yang ndak mampu," katanya singkat.

Baca: Nasib Artis Cantik yang Dulu Hidup Hedon, Sekarang Pasrah Rahim Diangkat Meski Belum Menikah

Meski membantu pasien kurang mampu, dokter Lo mengaku tidak bisa membedakan mana pasien yang benar miskin atau tidak.

"Satu prinsip saya, kalau mau bayar ya terserah dan kalau ndak mampu ya bilang saja nanti dibantu sekalian obatnya.

Saya menghargai kejujuran, ada juga yang pura pura enggak punya uang dan ingin gratisan terus berobat ke saya, ya itu urusan dia sajalah," kata pria yang gemar membaca buku tentang kisah detektif tersebut.

Berjasa saat kerusuhan 1998

Salah satu warga sempat bercerita bahwa saat kerusuhan 98 di Solo, banyak warga keturunan Tionghoa mengungsi dan menutup usaha mereka.

Suasana mencekam dan mengancam warga keturunan Tiongha tersebut tidak menyurutkan Lo Siae Ging untuk melayani pasien.

Dokter lo justru memaksa untuk buka praktik meski sudah diingatkan warga untuk tidak buka praktek.

"Dokter malah sempat marah, katanya kasihan kalau ada pasien yang datang berobat kok tutup," kata Purwadi, warga Jagalan, Solo.

Saat itu warga justru berjaga didepan rumah dokter Lo.

Baca: Pantas Bidan Eka Anugrah Mampu Sumbang 100 Mobil Demi Dukung Anies Baswedan, Bukan Orang Sembarangan

Biar tak pikun, walau usianya sudah tergolong senja, namun dokter Lo tampak masih bersemangat melayani pasien-pasiennya.

Saat disinggung resep hidup untuk terus mengabdi ia mengatakan itu karena berkat Tuhan.

"Ya suatu karunia Tuhan Allah, di usia seperti saya ini masih diberi kesehatan.

Dan selain itu kalau ndak bekerja, pasti pikun. Jadi ada alasan egonya, biar ndak pikun ya saya bekerja," katanya.

Hanya hidup berdua dengan sang istri diakui Lo membuatnya lebih bisa fokus bekerja.

"Saya dan istri kan enggak punya anak, jadi itu ya membantu agar fokus," katanya.

Meski kedermawanannya sudah dikenal, dokter Lo menampik dirinya adalah tokoh inspiratif bagi Bangsa Indonesia yang akan berumur 70 tahun.

"Tokoh nasional apa, saya bukan siapa siapa, jangan dibesar besarkan.

Saya hanya bantu warga yang sakit," katanya.

(tribunnewswiki.com/kompas.com)

Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini



Penulis: Rakli Almughni
BERITA TERKAIT

Berita Populer