Seperti yang diketahui, sejumlah tahanan Palestina dibebaskan oleh Israel.
Setelah dibebaskan, mereka memberikan wawancara kepada jurnalis.
Israel sebelumnya melarang mereka untuk memberikan wawancara, namun beberapa tahanan berhasil melakukan wawancara dengan sejumlah media.
Pembebasan ini adalah bagian dari kesepakatan dengan kelompok Hamas Palestina untuk gencatan senjata selama 4 hari di Jalur Gaza.
Raghad Al-Fanni (25), tahanan Palestina yang dibebaskan, tidak mengetahui dia termasuk dalam daftar pembebasan di hari pertama.
Ia dipenjara oleh Israel setelah ditangkap di pos Tayyara di Tulkarem dalam perjalanan ke Ramallah pada Oktober 2022.
Raghad mengatakan kondisi penjara Damoun, tempat ia ditahan, tidak sama seperti bulan-bulan sebelum tanggal 7 Oktober 2023.
"Bagian tempat saya berada ditekan lebih dari satu kali. Mereka menyemprot kami dengan gas, memukuli banyak tahanan perempuan dan mengurung banyak orang di sel isolasi," katanya kepada Arab World News Agency pada Minggu (26/11/2023).
Petugas penjara Israel melarang narapidana perempuan membeli makanan di kantin dan merampas semua barang mereka.
"Kami tidak diberi air minum bersih dan jelas bahwa administrasi penjara membalas dendam pada kami," kata Raghad.
Ia juga menceritakan beberapa praktik Israel di penjara terhadap tahanan Palestina.
Israel hanya menyediakan makanan yang sangat sedikit dan kualitasnya buruk.
"Ruangan yang dulunya menampung 6 tahanan perempuan sekarang berisi 11 tahanan perempuan. Bagian tempat saya berada dapat menampung 60 tahanan perempuan dan sekarang menampung 88 tahanan perempuan," katanya, dikutip dari Al Arabiya.
Sebelum Raghad dibebaskan dari penjara, Israel mengancam akan menangkap kembali mereka jika terjadi penampilan seremonial, membawa spanduk, bendera Palestina atau berbicara kepada media.
Kekerasan di Penjara Israel Meningkat setelah 7 Oktober 2023
Tahanan Palestina lain yang dibebaskan, Yousef Burqan (16), seorang penduduk dari Al-Thawri di Yerusalem yang diduduki, mengatakan ia dipukuli oleh otoritas penjara Israel sebelum dibebaskan pada Sabtu (25/11/2023).
Remaja lainnya, Qusay Taqatqa (17) dari Betlehem, mengatakan ia dan rekan-rekannya di penjara mendengar operasi Hamas pada 7 Oktober 2023 melalui siaran berita.
Setelah itu, pihak Israel menarik televisi dan radio dari dalam sel penjara dan perlakuan mereka berubah total terhadap para tahanan.
"Perlakuan petugas penjara sangat biadab selama 50 hari. Mereka merampas semua barang kami dan melarang keluarga mengunjungi kami," katanya.
Tahanan lainnya, Omar Al Shwaiki mengatakan Israel menangkapnya saat berusia 15 tahun.