Konflik antara Hamas dan Israel juga disebut telah mengalihkan perhatian dunia dari perang Ukraina-Rusia yang masih berkecamuk.
Beberapa akun pro Ukraina di Twitter mengklaim bahwa satuan tempur Hamas yang menyerang Israel bisa jadi dilatih oleh tentara bayaran Grup Wagner dari Rusia.
Namun, akun-akun itu tidak memberikan bukti keterlibatan Wagner. Di samping itu, Wagner juga diketahui tidak berada di wilayah Palestina.
Sementara itu, ada pula yang menyebut bahwa hanya Rusia yang bisa melatih Hamas menggunakan pesawat nirawak untuk menargetkan kendaraan lapis baja Israel dan pos pengintaian.
Baca: Rusia Disebut Beri Hamas Senjata Rampasan dari Ukraina untuk Serang Israel
Lalu, apakah Rusia benar-benar terlibat langsung dalam serangan Hamas ke Israel?
Oleg Ignatov, seorang analis di lembaga Crisis Group, mengatakan hingga saat ini belum ada bukti bahwa Rusia terlibat langsung.
“Saya belum melihat bukti apa pun, saya belum melihatnya secara jelas,” kata Ignatov dikutip dari Newsweek, (10/10/2023).
“Sulit untuk membayangkan bahwa Rusia ikut serta dalam perencanaan serangan itu.”
“Tentu saja kita hidup di dunia yang tidak bisa mengesampingkan segala [kemungkinan]. Namun, saya belum melihat satu pun bukti.”
Baca: Tembakkan Ribuan Rudal ke Israel, Hamas Dapat Senjata dari Mana?
Rusia diketahui menjalin hubungan dengan Hamas. Pada bulan Maret 2023 Hamas mengirimkan delegasi ke Rusia untuk melakukan pembicaran dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.
Selepas pertemuan itu Lavrov memperingatkan bahwa “kesabaran Hamas terhadap Israel telah habis”.
Selain itu, beberapa pemimpin Hamas juga berkunjung ke Rusia pada bulan Mei dan September 2023.
Ignatov mengatakan adanya pembicaraan antara Rusia dan Hamas tidak bisa dimaknai bahwa Rusia memberikan bantuan langsung kepada Hamas.
“Rusia memiliki hubungan sangat baik dengan Hamas, dan setiap orang mengetahuinya,” ujar Ignatov.
Baca: HAMAS Serang Israel, Ketua Fraksi PKS: Indonesia Berdiri Tegak Dukung Perjuangan Bangsa Palestina
Baca: Bantu Israel Melawan Hamas, AS Kerahkan Kapal Induk Tercanggihnya, Gerald Ford
Menurut Ignatov, hal itu adalah bagian dari kebijakan Rusia mengenai persoalan Timur Tengah. Bagi Rusia, bisa berhubungan dengan setiap pihak adalah hal yang menguntungkan.
Ignatov mengatakan Rusia saat ini lebih suka terlibat dalam upaya pembicaraan perdamaian dibandingkan dengan mendukung salah satu pihak.
“Rusai akan lebih tertarik untuk ikut serta dalam perundingan yang memungkinkan.”
“Artinya, Rusia tidak akan tertarik untuk mendukung salah satu pihak.
Sementara itu, Intelijen militer Ukraina (UHR) mengklaim Rusia sengaja memberi Hamas senjata rampasan untuk menyerang Israel.
Senjata itu buatan Barat dan dirampas oleh Rusia dari pihak Ukraina di medan tempur.
Menurut UHR, Rusia memberikan senjata rampasan itu agar bisa membuat tuduhan palsu bahwa militer Ukraina menjual senjata bantuan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kepada Hamas.
Baca: Perang Makin Mencekam, 413 Warga Palestina dan 700 Warga Israel Tewas
Baca: PM Benjamin Netanyahu Bersumpah Balas Dendam Lebih Besar ke Hamas Imbas 300 Orang Israel Tewas
UHR mengatakan pemberian senjata itu akan mencoreng citra Ukraina dan membuat Barat berhenti membantu Ukraina.
“Provokasi lain dari musuh untuk mendiskreditkan Angkatan Bersenjata Ukraina dan membuat rekan-rekan di Barat menghentikan bantuan militer ke negara kita,” kata HUR dikutip Kyiv Independent.
Sementara itu, pada bulan Juni lalu elite militer Israel mengaku khawatir bahwa senjata buatan AS dan Barat yang dikirimkan ke Ukraina bisa jatuh ke tangan musuh Israel di Timur Tengah.
“Kami sangat khawatir bahwa beberapa senjata ini jatuh ke tangan Hisbullah dan Hamas,” kata salah satu komandan Israel kepada Newsweek secara anonim.
Baca berita lain tentang konflik Israel-Palestina di sini.