KISAH Viral Ayah Gendong Bayinya yang Pingsan Kena Gas Air Mata saat Bentrok di Rempang Batam

Penulis: Ika Wahyuningsih
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

KISAH Viral Ayah Gendong Bayinya yang Pingsan Kena Gas Air Mata saat Bentrok di Rempang Batam. Herman menggendong bayinya yang pingsan di tengah bentrokan warga Rempang dan aparat gabungan di Jembatan 4 Barelang, Batam, Kamis (7/9/2023). Bayinya pingsan karena gas air mata masuk ke dalam rumahnya lewah jendela yang terbuka.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Media sosialdibuat terenyuh dengan beredarnya foto viral seorang bapak yang gendong bayinya yang pingsan terkena gas air mata saat bentrok di Rempang Batam.

Suasana semakin tegang di sela bentrokan warga Rempang Galang dan aparat gabungan di area Jembatan 4 Barelang Batam.

Seorang pria keluar rumah membopong bayi yang masih berusia 8 bulan diikuti istrinya.

Pria tersebut berteriak sekencang-kencangnya meminta tolong karena anaknya pingsan.

Bayi tersebut pingsan seusai terkena gas air mata yang masuk ke dalam rumahnya melalui jendela.

Herman, warga Galang yang rumahnya berada tak jauh dari Jembatan 4 Barelang, Batam, panik dan ketakutan saat terjadi bentok antara massa dan aparat pada Kamis (7/9/2023).

Baca: Beredar Video Bentrokan Tentara India vs. Tiongkok, Tongkat & Batu Jadi Senjata

Baca: Tolak Kebijakan Nol Covid, Demonstran Bentrok dengan Polisi di Shanghai

Algifari, anaknya yang masih berusia 8 bulan pingsan dan bola matanya memutih.

Ia juga tak bisa bernapas karena pekatnya asap gas air mata yang dilepaskan aparat gabungan untuk meredam aksi massa warga Rempang yang memanas di areal Jembatan 4 pada Kamis (7/9/2023).

Warga Rempang Galang memblokade jalan.

Grafis Kerusuhan Pulau Rempang Batam. KISAH Viral Ayah Gendong Bayinya yang Pingsan Kena Gas Air Mata saat Bentrok di Rempang Batam (Tribun Jateng)

Mereka menghalangi masuknya aparat gabungan yang hendak memasang patok kawasan Rempang guna pembangunan proyek strategis sebagai upaya mendongkrak sektor pariwisata.

Dalam situasi yang tak kondusif, Herman menggendong anaknya merangsek keluar rumah.

Dia berteriak sekeras-kerasnya di tengah kekacauan tersebut.

"Anak saya enggak bisa bernapas, tolong anak saya," seru Herman sepanjang jalan diikuti sang istri di belakangnya.

Wanita yang mengenakan kaus merah muda tersebut tak kalah panik dengan Herman.

Sebagai ibu, ia mencemaskan anaknya.

"Ya, Tuhan anak saya, enggak bergerak," serunya.

Herman dan istrinya jadi sontak jadi pusat perhatian.

Bukan hanya warga yang unjuk rasa, tapi juga anggota Brimob Polda Kepri.

Anggota Brimob itu langsung membantu mengamankan Herman, istri, dan anaknya agar dapat pertolongan segera.

Herman lega setelah anaknya sadar dari pingsan seusai mendapat pertolongan.

Baca: Viral Antrean Vaksinasi di Batam Langgar Prokes, Ribuan Warga Saling Dorong dan Berdempetan

Herman yang ditemui di rumahnya mengatakan, saat kejadian anaknya pingsan dan bola matanya memutih.

"Saya kaget awalnya melihat anak saya pingsan dan matanya putih semua."

"Dia terkena gas air mata di rumah," sebut Herman seperti dilansir dari Tribunnews.com, Jumat (8/9/2023).

Asap gas air mata ini masuk ke rumah Herman melalui jendela kamar.

Kebetulan saat bentrokan terjadi, jendela kamar rumahnya terbuka.

"Angin mengarah ke jendela rumah."

"Kebetulan anak saya berada di dalam ayunan."

"Dia langsung terkena gas air mata," sebutnya.

Istrinya berteriak hingga Herman kaget dan masuk ke dalam rumah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Melihat anaknya yang sudah lemas, Herman meminta pertolongan dan anggota Brimob yang kemudian membantunya.

Algifari, bayi 8 bulan digendong oleh Herman, sang ayah. KISAH Viral Ayah Gendong Bayinya yang Pingsan Kena Gas Air Mata saat Bentrok di Rempang Batam (TribunBatam.id/Aminudin)

"Anak saya tolong pak, anak saya pingsan."

"Saya bilang gitu tadi."

"Kemudian dia bawa dan diberikan bantuan oksigen dan dikasih air," sebutnya.

Tidak lama kemudian korban sadar dan kembali dibawa ke rumah.

"Alhamdulilah, anak saya masih bisa diselamakan."

"Kami sudah sangat panik tadi," singkatnya.

Bantah Ada Korban Jiwa

BP Batam melalui Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol, Ariastuty Sirait membantah kabar miring yang menyebutkan adanya korban jiwa pada peristiwa pengukuran Kawasan Rempang oleh personel keamanan gabungan.

Hal ini seiring maraknya isu miring yang berhembus di media sosial saat masyarakat berusaha memblokade ratusan personel di areal Jembatan 4 Barelang, Kamis (7/9/2023).

"Kabar itu tidak benar."

"Tidak ada korban jiwa."

"Untuk balita dan pelajar yang terhirup gas air mata telah mendapat pertolongan dari aparat kepolisian serta tim medis," ujar Ariastuty.

Ia mengungkapkan, tindakan tegas dari personel keamanan gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Ditpam BP Batam, dan Satpol PP dilakukan akibat aksi provokatif yang dilakukan oleh oknum masyarakat yang tak bertanggung jawab.

Selain lemparan batu serta botol kaca ke arah petugas, beberapa masyarakat di areal Rest Area Simpang Rezeki juga mencoba melempari aparat dengan bom molotov saat hari mulai gelap.

Aksi anarki tersebut sangat disayangkan karena mampu melukai personel yang bertugas ataupun masyarakat sekitar yang berada di lokasi.

Baca: Ibu Kota Libya Diguncang Bentrokan Antarpartisan, 23 Orang Tewas

"Kami mengajak masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam menerima dan mencerna pesan yang tersebar di media sosial."

"Hal ini bertujuan agar masyarakat Kota Batam tak terprovokasi dengan situasi terkini di Pulau Rempang," pungkasnya.

KPAI Desak Aparat dan Pemkot Batam Tanggung Jawab

Komisioner KPAI Diyah Puspitarini menyesalkan jatuhnya korban anak-anak akibat bentrok antara masyarakat dengan aparat kepolisian dan Pemerintah Kota Batam di Rempang, Batam, Kepulauan Riau.

Anak-anak yang bersekolah terdampak gas air mata yang dilontarkan oleh pihak kepolisian.

Sejumlah pelajar SMPN 22 Batam di Tanjung Kertang Rempang Cate dilaporkan pingsan karena efek gas air mata yang mengarah ke sekolah, Kamis (7/9/2023). Mereka terdampak dari sikap tegas tim gabungan mengamankan lokasi Rempang untuk memasang patok. (TribunBatam.id/Bereslumbantobing)

"KPAI sangat menyesalkan hal ini terjadi yang mengakibatkan jatuhnya korban anak-anak," ujar Diyah kepada Tribunnews.com, Jumat (8/9/2023).

"Gas air mata yang dilayangkan oleh aparat jatuh di sekitar 30 meter gerbang sekolah ketika siswa masih aktif pembelajaran di dalam dan di halaman sekolah. Asap gas air mata tersebut masuk di lingkungan sekolah, dan aparat kepolisian yang mendemo," tambah Diyah.

Diyah menilai ada unsur kelalaian dari aparat keamanan sehingga menyebabkan anak-anak terkena gas air mata.

"KPAI melihat ada kelalaian atau kekerasan disengaja atau tidak disengaja dari aparat yang menjatuhkan gas air mata di sekitar sekolah yang berakibat pembelajaran terganggu dan beberapa siswa berjatuhan karena sesak nafas," tutur Diyah.

Diyah juga menyesalkan proses belajar mengajar di sekolah menjadi terganggu sehingga hak dasar anak mendapatkan pendidikan menjadi terabaikan karena gas air mata.

Selain itu, Diyah juga mengutuk keras kejadian ini yang mengakibatkan anak-anak mengalami trauma, ketakutan dan luka, sehingga membutuhkan perlindungan khusus.

"Sesuai pasal 59A, anak-anak dalam kondisi darurat harus mendapatkan penanganan yang cepat, pendampingan psikososial, pemberian bantuan sosial, dan pemberian perlindungan," tutur Diyah.

KPAI, kata Diyah, saat ini sedang berkoordinasi dengan Lembaga Negara HAM, KPAD Kota Batam dan juga pihak terkait untuk memastikan pendataan jumlah dan tindakan korban anak-anak yang harus mendapatkan penanganan intensif dari sisi medis.

"KPAI mendesak Pemerintah Kota Batam dan aparat bertanggung jawab terhadap kerusakan fisik, psikis serta kerugian kesehatan mental siswa serta memastikan anak-anak di sekolah diberikan pendampingan agar hilang trauma dan bisa belajar kembali dengan tenang," pungkas Diyah.

"Mendesak Dinas Pendidikan untuk memastikan kondisi terbaik anak jika anak akan melakukan pembelajaran kembali," tambah Diyah.

(TRIBUN JATENG/TRIBUNNEWSWIKI)

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dan Tribunnews dengan judul POTRET Herman Gendong Bayi 8 Bulan Saat Ada Bentrok di Batam, Algifari Pingsan Terkena Gas Air Mata dan Anak-anak di Pulau Rempang Terkena Gas Air Mata, KPAI Desak Aparat dan Pemkot Batam Tanggung Jawab



Penulis: Ika Wahyuningsih

Berita Populer