Dalam kunjungan ini, Jokowi menolak menggunakan jalur jalan yang sudah disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.
Dirinya memilih melewati jalan lain yang memang bukan merupakan jalur yang sudah disiapkan.
Jalanan tersebut adalah Jalan Terusan Ryacudu, Marga Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam perjalanannya, Jokowi yang menggunakan kendaraan dinas Mercedes-Benz S 600 Guard melintasi jalan beraspal yang mengalami kerusakan parah.
Tak hanya lubang ukuran besar yang digenangi air, jalan tersebut sebagian besar telah mengalami pengelupasan aspal.
Kendaraan dinas yang membawa Jokowi bersama Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan terlihat berjuang menerjang jalanan rusak yang dilewatinya.
Bahkan, saking parahnya, mobil Jokowi pun sampai tersangkut.
Setelah mengecek kondisi jalan, Jokowi melempar sindiran bahwa jalan yang dilewatinya mulus sampai-sampai ia tertidur.
Dalam kunjungan ini, Jokowi sempat ditawari menaiki helikopter untuk meninjau jalan rusak di Lampung.
Meski begitu, Jokowi menolak tawaran tersebut karena ia tidak bisa merasakan jalan yang rusak bila meninjaunya dari atas helikopter.
"Presiden ditawarkan heli itu justru balik bertanya, 'kalau saya naik heli, bagaimana yang bisa merasakan jalan yang rusak?'," kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin kepada wartawan, Jumat.
Jokowi akhirnya memilih menumpangi mobil dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Lampung.
"Waktu mendengar akan memakai heli itu, 'enggak usah, enggak usah pakai heli, saya naik mobil saja'," kata Bey.
Dalam peninjauan ini diketahui pula bahwa Pasukan Pengamanan Kepresidenan (Paspampres) menyarankan kendaraan sedan mercy yang ditunggangi Jokowi diganti.
Hal itu lantaran lampu indikator mobil sedan mercy menyala saat melewati jalan rusak.
Jokowi pun akhirnya mengganti kendaraan dinasnya dari sedan mercy ke Jeep.
"Saat melewati jalan bergelombang pada Jumat pagi itu, sampai ada (lampu) indikator mobil yang menyala. Karena kondisi jalan yang bergelombang dan berlubang-lubang ya," ujar Bey.
Bey tidak menjelaskan indikator apa yang menyala.
Namun, pihak Paspampres menyarankan agar tidak mengambil risiko.