Keindahan Paris kini terganggung oleh sampah-sampah itu. Sejumlah warga ibu kota Prancis buka suara tentang kondisi ini.
"Saya melihat tikus-tikus," kata Vincent Salazar, 62 tahun, seorang seniman asal Paris, dikutip dari Associated Press, (21/3/2023). Tumpukan sampah terlihat di pojok bangunan tempat tinggal Salazar.
Namun, dia dan sejumlah warga Paris yang mendukung aksi mogok para tukang sampah. Dia juga tidak terlalu memikirkan bau sampah itu.
Dia menentang keputusan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk meningkatkan usia pensiun bagi para tukang sampah, dari 57 tahun menjadi 59 tahun. Usia pensiun bagi sebagian besar pekerja bidang lainnya juga dinaikkan dari 62 tahun menjadi 64 tahun.
Macron turut menjadi sasaran atas ketidakpuasan warga Paris. Di media sosial muncul poster yang memperlihatkan Macron tengah memungut sampah atau berada di atas tumpukan sampah.
Baca: Trump Sesumbar Mengaku Tahu Kehidupan Pribadi Macron lewat Data Intelijen
Wali Kota Prancis mendukung aksi mogok itu. Sementara itu, Dewan Kota menolak memerintahkan untuk mengeluarkan truk sampah. Disebutkan masih ada 9.300 ton sampah yang menumpuk di jalanan.
Aroma busuk dari sampah makin tercium oleh warga Paris. Bangku-bangku di kafe yang letaknya dekat dengan tumpukan sampah pun terlihat kosong.
Seorang pelayan di kafe Bistro du Dome mengatakan jumlah pelanggan kafe itu turun sekitar 50 persen dalam 10 hari terahkir. Jumlah pengunjung di kafe dan restoran lain juga berkurang.
Baca: Junta Militer Burkina Faso Minta Tentara Prancis Pulang ke Negaranya
Franck Jacquot, 51 tahun, yang menjalankan bisnis bar kecil di Paris mengaku tidak terganggu oleh dampak sampah itu.
"Itu tidak mengganggu saya karena hal itu demi tujuan baik," kata Jacquot. Di dekat bar miliknya terlihat ada tumpukan sampah.
Pekan lalu terjadi dua protes di Place de la Concorde. Polisi menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air. Beberapa pengunjuk rasa membakar tumpukan sampah yang ditemui di jalan.
"Sampah adalah cara yang bagus untuk melancarkan protes. Sampah memiliki dampak besar," kata Tony Gibierge, 36 tahun, warga Paris yang membuka restoran di kota itu.
Dia menjadi salah satu dari para pengunjuk rasa yang melancarkan protes secara damai di Paris dan kota lainnya.
Baca: Presiden Prancis Macron Sebut Rusia Negara Penjajah Terakhir
Baca berita lain tentang Prancis di sini.