Gempa letusan terekam 20 kali dalam periode pengamatan Minggu (5/2/2023) pukul 18.00 - 00.00 WIB dengan amplitudo maksimal 13-24 milimeter.
Kemudian, 21 letusan terekam dalam periode pengamatan Senin (6/2/2023) pukul 00.00 - 06.00 WIB dengan amplitudo maksimal 12 - 22 milimeter.
Secara visual, letusan asap teramati sebanyak tiga kali dengan tinggi kolom asap berwarna putih 500 meter cenderung mengarah ke timur laut.
Petugas Pos Pantau Gunung Api Semeru Mukdas Sofian mengungkapkan, selain gempa letusan, seismograf juga merekam ada gempa guguran sebanyak empat kali dalam 12 jam terakhir.
"Gempa guguran dua kali terjadi pukul 18.00-00.00 WIB, dan dua kali pada pukul 00.00 -06.00 WIB," kata Mukdas Sofian, Senin (6/2/2023), dikutip dari Kompas.com.
Kondisi aktivitas vulkanik Gunung Semeru belum memperlihatkan penurunan signifikan, setelah dua kali mengalami erupsi besar berupa Awan Panas Guguran (APG) pada 2021 dan 2022.
Hingga kini, status gunung tertinggi di Pulau Jawa ini masih bertahan di level III (Siaga).
Oleh karenanya, Mukdas mengimbau warga yang berada di sekitar lereng gunung untuk tetap waspada.
Sebab, aktivitas vulkanik setiap hari masih terjadi.
Sehingga potensi erupsi berupa APG dan lontaran batu pijar masih tinggi.
Terutama yang berada pada radius lima kilometer dari puncak kawah.
"Diharapkan, warga tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak karena rawan terhadap lontaran batu pijar," imbau Mukdas.
Baca: Korban Erupsi Gunung Semeru Bakal Miliki Rumah Baru
Kemudian, cuaca ekstrem yang mengguyur kawasan puncak Gunung Semeru juga memicu kawasan lereng rawan terlanda banjir lahar dingin dengan material pasir dan batu.
"Waspadai potensi banjir lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu ke puncak. Utamanya aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Sat dan Besuk Lanang," pungkas dia.