Keputusan Microsoft ini dianggap menjadi tanda bahwa perusahaan-perusahaan teknologi di Amerika Serikat (AS) kemungkinan masih akan terus melakukan PHK.
Sebelumnya, Amazon.com dan Meta Platforms yang menjadi induk Facebook juga sudah mengumumkan adanya PHK besar-besaran.
"Dari perspektif gambaran besarnya, PHK lain yang akan dilakukan di Microsoft menunjukkan bahwa situasinya tidak membaik, dan kemungkinan akan terus memburuk," kata Dan Morningstar, seorang analis di Morningstar, perusahaan jasa keuangan global, dikutip dari Channel News Asia.
Sky News melaporkan bahwa Microsoft berencana mengurangi sekitar 5 persen karyawannya atau kurang lebih 11.000 karyawan.
Adapun Bloomberg News pada hari Rabu, (18/1/2023), menyebut Microsoft akan mengurangi pekerjaan di divisi teknik, berdasarkan sumber yang didapatkan media itu. Bloomberg mengatakan jumlah karyawan yang akan di-PHK tahun ini jauh lebih besar daripada tahun lalu.
Baca: Sudah Berumur 27 Tahun, Browser Internet Explorer Dipensiunkan oleh Microsoft
Sementara itu, Insider melaporkan Microsoft bisa mengurangi rekrutmen karyawan hingga sepertiga.
Microsoft belum buka suara mengenai kabar PHK ini.
Baca: Microsoft: Hacker Rusia Sudah Jalankan Operasi Siber di Ukraina Setahun sebelum Invasi
Raksasa teknologi asal AS itu dilaporkan memiliki 221.000 karyawan penuh waktu. Sebanyak 122.00 di antaranya berada di AS, sisanya di negara lain.
Microsoft tengah berusaha mempertahankan peningkatan jumlah pengguna layanan Azure miliknya. Turunnya pasar komputer pribadi (PC) telah merugikan penjualan sistem operasi Windows buatannya.
Pada bulan Juli 2022 Microsoft dikabarkan mem-PHK sejumlah kecil karyawan. Sementara itu, pada bulan Oktober 2022 Axios melaporkan Microsoft telah mem-PHK kurang dari 1.000 karyawan di berbagai divisi.
Baca berita lain tentang Microsoft di sini.