FBI Ungkap Potensi Bahaya TikTok, Sebut Alat Mata-mata Terhadap AS

Penulis: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Logo TikTok

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Biro Penyelidik Federal AS (FBI) menyatakan bahwa TikTok berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional di Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan oleh Direktur FBI, Christopher Wray dalam sebuah acara kunjungan ke Sekolah Tinggi Kebijakan Publik Gerald R.Ford di Universitas Michigan, AS.

Ia mengatakan, popularitas aplikasi TikTok memiliki dampak sangat besar.

Aplikasi tersebut memiliki pengguna aktif bulanan (Monthly Active Users/MAU) sebanyak 80 juta pengguna di AS, sedangkan jika diakumulasi secara global, TikTok memiliki satu miliar pengguna aktif.

Angka tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa perusahaan induk TikTok, ByteDance, akan memanfaatkan popularitasnya.

Yakni, merekomendasikan konten-konten yang bertentangan dengan kebijakan dan menggunakannya sebagai taktik memengaruhi pengguna di AS.

Ilustrasi TikTok (Pixabay)

Seperti media sosial pada umumnya, TikTok menerapkan sistem algoritma yang mampu menyuguhkan sejumlah konten sesuai dengan minat penggunanya.

Hal ini membuat FBI mengkhawatirkan bahwa pemerintah Beijing bisa saja ikut campur tangan bila mereka mau melakukan “operasi pengaruh”.

Dilansir KompasTekno dari Tech Spot, Sabtu (17/12/2022), Wray menegaskan bahwa China punya misi yang sangat bertentangan dengan kepentingan dan kebijakan yang diterapkan di AS.

“Seluruh alat untuk mengontrol dan “memata-matai” berada di tangan pemerintah yang tidak menerapkan nilai yang sama dengan kami. Ini yang harus menjadi perhatian kita” ujar Wray. Maka dari itu, penggunaan aplikasi TikTok tengah menjadi fokus utama dari pemerintah dan warga setempat.

Beberapa politisi di AS pun turut mengatakan hal yang senada, bahkan berpendapat  seharusnya penggunaan TikTok di AS perlu dilarang secara total.

Menanggapi pernyataan tersebut, pihak TikTok pun angkat suara.

Baca: TikTok Affiliate

Juru bicara TikTok, Brooke Oberwetter mengatakan, masukan dari dari Wray akan dijadikan bahan pertimbangan dan diskusi bersama pemerintah AS.

“Meski kami tidak dapat mengungkapkan diskusi yang dilakukan secara spesifik, kami yakin bahwa (diskusi tersebut) dapat menjawab kekhawatiran keamanan nasional dan membuat langkah signifikan menuju solusi (yang diharapkan),” ujar Oberwetter melalui e-mail, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari AP News.

Dalam sebuah sidang senat pada September lalu, Chief Operating Officer (COO) TikTok, Vanessa Pappasa menegaskan  perusahaan menjamin seluruh data pengguna AS dan pemerintah di China tidak diberi akses mengontrol data pengguna.

“Kami tidak akan pernah membagikan data, titik,” tegas Pappas.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Penulis: Putradi Pamungkas

Berita Populer