Setelah beberapa bulan terakhir landai, belakangan, kasus harian Covid-19 di Tanah Air kembali mengalami peningkatan melewati angka 5.000, bahkan 8.000 kasus.
Tren ini pun mendapat perhatian khusus dari pemerintah.
Sejumlah kebijakan dilakukan demi menekan angka penularan virus corona.
Kenaikan angka Covid-19 terlihat sejak Oktober 2022.
Ini terlihat dari tren kasus harian yang berada di kisaran 3.000 kasus.
Pada Rabu (16/11/2022), pasien Covid-19 bahkan menembus 8.000 kasus dalam sehari, tertinggi sejak Maret 2022.
Tercatat, DKI Jakarta berada di urutan puncak wilayah yang mencatatkan kasus virus corona tertinggi.
Baca: Kasus Covid-19 Mulai Naik, Kenali Gejala Barunya
Berikut tren kasus virus corona yang dicatat Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam sepekan terakhir:
11 November 2022
Kasus harian: 6.247 kasus
Kasus aktif: 47.893 kasus
Kematian: 46 kasus
12 November 2022
Kasus harian: 6.179 kasus
Kasus aktif: 49.300 kasus
Kematian: 33 kasus
13 November 2022
Kasus harian: 4.877 kasus
Kasus aktif: 49.794 kasus
Kematian: 36 kasus
14 November 2022
Kasus harian: 4.408 kasus
Kasus aktif: 49.960 kasus
Kematian: 54 kasus
15 November 2022
Kasus harian: 7.893 kasus
Kasus aktif: 53.774 kasus
Kematian: 41 kasus
16 November 2022
Kasus harian: 8.486 kasus
Kasus aktif: 57.951 kasus
Kematian: 54 kasus
17 November 2022
Kasus harian: 7.822 kasus
Kasus aktif: 60.471 kasus
Kematian: 38 kasus
Merespons hal ini, pemerintah menempuh sejumlah langkah termasuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Tanah Air.
PPKM Jawa-Bali berlaku 14 hari yakni 8-21 November 2022.
Adapun, PPKM di luar Jawa-Bali berlangsung selama 28 hari yaitu 8 November-5 Desember 2022.
Selama masa PPKM tersebut, seluruh daerah berstatus level satu.
Sementara, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman memprediksi, tren kenaikan Covid-19 akan berlangsung beberapa waktu ke depan, bahkan hingga akhir Januari 2023.
Terlebih, dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi libur panjang Natal dan Tahun Baru.
"Sangat mungkin naik hingga Januari 2023 karena juga saat ini gelombang yang terjadi disebabkan lebih dari satu subvarian," kata Dicky kepada Kompas.com, Kamis (17/11/2022).