Informasi tentang pemecatan itu disampaikan oleh CEO Meta Mark Zuckerberg dalam suratnya untuk para karyawan, (9/11/2022).
Pemecatan tersebut terjadi hanya seminggu setelah Twitter merumahkan sebagian besar karyawannya. Selain itu, ada sejumlah perusahaan teknologi yang juga melakukan pemecatan karyawan dalam jumlah besar.
Zuckerberg sendiri mengatakan telah melakukan rekrutmen besar-besaran setelah kebijakan karantina berakhir. Rekrutmen ini untuk mengantisipasi pertumbuhan perusahaan yang cepat.
"Sayangnya, ini tidak berjalan sesuai dengan yang saya perkirakan," kata Zuckerberg dalam pernyataannya, dikutip dari Associated Press.
"Tidak hanya perdagangan daring yang kembali ke tren sebelumnya, tetapi juga menurunnya makroekonomi, meningkatnya persaingan, dan hilangnya iklan membuat pendapatan kita jauh lebih rendah daripada yang saya perkirakan. Saya salah, dan saya harus bertanggung jawab atas hal itu."
Baca: Mirip dengan Twitter, Meta Induk Facebook Akan Lakukan PHK Besar-besaran
Seperti perusahaan media sosial lainnya, Meta mendapatkan keuntungan lebih banyak saat kebijakan karantina diberlakukan. Ini karena ada lebih banyak orang berada di rumah dan menggunakan gawai mereka.
Namun, ketika karantina berakhir, orang-orang mulai keluar dari rumah. Alhasil. pendapatan Meta mulai berkurang.
Selain itu, Meta telah menghabiskan dana lebih dari $10 miliar sekitar Rp157 triliun untuk proyek metaverse. Zuckerberg memprediksi metaverse nantinya akan menggantikan ponsel pintar sebagai alat utama orang untuk menggunakan teknologi.
Baca: 75 Persen Karyawan Twitter Dikabarkan Akan Dirumahkan oleh Elon Musk
Investor pun mulai khawatir dan ini menyebabkan saham Meta anjlok hingga lebih dari 71 persen pada awal tahun ini. Saham itu kini diperdagangkan pada harga yang sama dengan harga tahun 2015.
Melambatnya ekonomi dan prospek yang suram dalam periklanan daring juga mendera Meta. Padahal, periklanan daring menjadi sumber pendapatan terbesar induk Facebook itu.
Pada musim panas ini Meta telah melaporkan penurunan keuntungan tiga-bulanan (kuarter). Penurunan itu diikuti oleh penurunan yang lebih besar pada musim gugur.
Meta dan para pengiklan bersiap menghadapi kemungkinan resesi. Ada pula masalah yang harus dihadapi Meta berkaitan dengan perangkat privasi milik Apple. Perangkat itu membuat platform media sosial seperti Facebook dan Instagram kesusahan melacak keberadaan orang tanpa izin mereka dan menargetkan iklan kepada mereka.
Baca: Facebook & Twitter Hapus Akun Propaganda yang Dukung Kebijakan Luar Negeri AS
Selain itu, Meta juga harus menghadapi media sosial yang naik daun dalam beberapa tahun belakangan, yakni TikTok.
Zuckerberg mengatakan Meta kini berusaha mengurangi biaya di dalam seluruh bisnisnya. Selain mem-PHK karyawan, Meta juga menangguhkan rekrutmen pekerja hingga kuarter pertama tahun 2023.
Baca berita lain tentang Facebook di sini.