Xi Jinping Kembali Terpilih, Tiongkok Menuju Era Totalitarianisme?

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Tiongkok Xi Jinping berpidato pada sesi pembukaan Kongres Partai Komunis Tiongkok Ke-20 di Balai Agung Rakyat, Beijing, (16/10/2022).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Xi Jinping kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk ketiga kalinya.

Ini membuat Xi menjadi pemimpin Tiongkok paling kuat dalam setengah abad terakhir.

Xi bisa kembali terpilih karena aturan maksimal menjabat dua periode telah diubah. Selain itu, dia juga punya kesempatan untuk menjabat seumur hidup.

Beberapa orang mengatakan terpilihnya Xi menandakan bahwa Tiongkok kini bergerak menuju era totalitarianisme.

Dalam pidatonya, Xi berjanji memimpin Tiongkok dalam mencapai tujuan besar negara itu, yakni "pembaruan nasional".

"Tujuan dan karakter partai ini, dan misi serta tanggung jawab kita, harus kita tancapkan dalam benak kita, dan bekerja dengan rajin dalam melaksanakan tugas kita untuk membuktikan [bahwa kita] layak mendapat kepercayaan besar dari partai dan rakyat kita," kata Xi di Balai Agung Rakyat, Beijing, dikutip dari The Times, (24/10/2022).

"Kini dengan percaya diri kita melangkah dalam perjalanan mengubah Tiongkok menjadi sebuah negara yang modern dan sosialis dalam segala aspek ... untuk mendukung pembaruan besar negara Tiongkok dalam semua bidang melalui jalan yang diambil Tiongkok menuju modernisasi."

Baca: Seniman Tiongkok Pakai APD Rangkap 27 untuk Memprotes Kebijakan Nol Covid

Sejak berkuasa pada tahun 2012, Xi memang memiliki kekuatan lebih besar daripada pemimpin Tiongkok lainnya sejak era Mao Zedong. Dia mengubah aturan mengenai batasan maksimal periode menjabat serta umur. Selain itu, dia juga menempatkan para loyalisnya untuk mengisi jabatan tinggi.

Baca: Tiongkok Tegaskan Berhak Gunakan Kekuatan Militer dalam Persoalan Taiwan

Dua pemimpin yang relatif moderat, yakni Li Keqiang yang menjadi perdana menteri dan Wang Yang yang mengepalai badan penasihat tinggi, kehilangan posisinya di Komite Tetap Politburo dan Komite Pusat.

Keduanya akan pensiun tahun depan dan tidak bisa menggoyahkan kepemimpinan Xi.

Beberapa pejabat lainnya tidak memiliki pengalaman dan karisma yang memungkinkan mereka menjadi pengganti Xi. Xi kemungkinan akan menjabat lagi setelah kongres tahun 2027.

"Saat ini dia (Xi) baru saja mencapai puncak kekuasaan. Masa depan Tiongkok akan menjadi sangat tidak pasti. Tidak jelas apakah Xi akan terus memegang kendali penuh atau mendelegasikan lebih banyak wewenang kepada rekannya yang tepercaya, yang menguasai seluruh jabatan penting. Dalam dua kasus itu, Xi adalah yang tertinggi dan menjadi satu-satunya pembuat keputusan, dan semua pemimpin menerapkan keputusannya dalam institusi yang berbeda-beda," kata Yhang Zhang, asisten profesor, pada American University di Washington, Amerika Serika (AS).

Baca: Tiongkok Peringatkan Ada Konsekuensi Besar jika Ukraina Gabung dengan NATO

Sementara itu, seorang peneliti politik yang tinggal di Tiongkok berkata kepada The Times bahwa terpilihnya Xi untuk ketiga kali menandakan awal era kekuasaan Xi yang totaliter. Dia khawatir Tiongkok akan menjadi negara yang ditinggali "mayat hidup" dan tidak ada yang berani menantang Xi.

"PKT akan menjadi partai politik yang sangat dipersonalisasi," kata dia secara anonim. "Partai ini kehilangan keteguhannya, dan ketidakpastian meningkat."

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Tiongkok di sini

 



Editor: Febri Ady Prasetyo

Berita Populer