Utusan PBB: Protes Berdarah di Iran Tunjukkan Rezim Telah Kehilangan Kendali

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Para aktivis berunjuk rasa di dekat Gedung Putih, Amerika Serikat, untuk mengecam dugaan tindak kekerasan terhadap Mahsa Amini, (24/9/2022).

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Javaid Rehman, mengatakan protes besar-besaran di Iran merupakan ancaman besar bagi rezim yang berkuasa di negara itu.

Menurut Rehman, protes itu menunjukkan bahwa rezim tersebut mulai kehilangan kendali.

"Besarnya penindasan dan otoritarianisme serta kebrutalan yang sedang terjadi di Iran tidak boleh dilanjutkan, ini sesuatu yang saya harus sampaikan," kata Rehman dikutip dari Newsweek, (18/10/2022).

"Jika tidak, ada ancaman nyata bahwa orang-orang akan bangkit dan tidak akan bisa dikendalikan oleh otoritas Iran," kata dia menjelaskan.

Sebagai utusan PBB, Rehman ditugaskan memantau dan menyelidiki pelanggaran HAM di Iran serta melaporkannya situasi di sana kepada Majelis Umum PBB.

Aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran muncul setelah peristiwa kematian seorang perempuan Iran bernama Mahsa Amini (22). Amini meninggal beberapa hari setelah ditangkap oleh polisi moral di Iran. Dia dianggap melanggar aturan berpakaian di negara itu.

Baca: Dituding Menindas Wanita, Polisi Moral Iran Disanksi oleh Inggris

Ada laporan bahwa dia dipukuli dengan tongkat polisi. Namun, pihak berwenang membantahnya dan kemudian mengklaim bahwa Amini meninggal karena serangan jantung. Klaim ini diragukan oleh banyak pihak.

Baca: Viral Video Siswi di Iran Lepas Hijab & Lempari Kepala Sekolah

Kematian Amini membuat warga Iran menuntut adanya kebebasan serta penggulingan rezim yang saat ini berkuasa. Video yang beredar memperlihatkan para wanita Iran melepas hijab mereka dan membakarnya. Selain itu, mereka juga memotong rambut dan berteriak meminta pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dihukum mati.

Kemarahan juga ditujukan kepada Presiden Iran Ebrahim Raisi. Sejak berkuasa tahun 2021 lalu dia memperbanyak aturan berpakaian bagi wanita.

Kata Rehman, wanita dan remaja perempuan sudah ikut serta dalam protes seperti itu selama puluhan tahun. Namun, protes besar-besaran kali ini melibatkan lebih banyak orang yang menginginkan perubahan.

Sarah (22) adalah salah satu warga Iran yang muak terhadap aturan tersebut.

"Orang-orang muak terhadap rezim ini," kata dia. "Besarnya pemberontakan di berbagai kota memperlihatkan bahwa ada semangat persatuan dan ada harapan."

Baca: Tak Kenakan Hijab saat Makan di Kafe, Wanita Iran Ditangkap

Menurut dia, unjuk rasa di negaranya telah "melewati tonggak penting" dan mereka yang berdemonstrasi punya mimpi yang sama demi "kebebasan sebuah bangsa yang besar".

Aksi unjuk rasa di negara itu memunculkan banyak korban jiwa. Menurut Organisasi Mujahidin Iran, sudah ada sekitar 400 korban jiwa dalam aksi protes yang terjadi 191 kota. Puluhan ribu orang juga dilaporkan ditangkap.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Iran di sini



Editor: Febri Ady Prasetyo

Berita Populer