Mengenal Etilen Glikol, Bahan yang Dilarang oleh BPOM yang Terdapat dalam Obat Sirup

Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi obat batuk sirup. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang peredaran obat batuk mengandung dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG) yang diduga memicu gagal ginjal akut seperti di Gambia, Afrika.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Etilen glikol saat ini ramai menjadi perbincangan setelah terbitnya larangan penggunaannya dalam obat sirup oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Larangan ini muncul setelah adanya temuan kasus gagal ginjal akut atau acute kidney injury (AKI) yang masih belum diketahui penyebabnya

Etilena glikol (Nama IUPAC: 1,2-etanadiol) adalah senyawa organik yang digunakan sebagai bahan mentah dalam pembuatan fiber poliester, indutri fabrik, serta polietilena tereftalat (PET) yang digunakan pada botol plastik.

Etilen glikol adalah molekul individu dengan rumus C2H6O2.

Baca: BPOM Setujui Peredaran Paxlovid, Obat COVID-19 Baru dengan Efikasi 89 Persen

Baca: Apa Itu Paracetamol ? Obat Demam yang Kini Ramai Diperbincangkan Lantaran Isu Gagal Ginjal Akut

Sudah lama senyawa ini dipakai untuk bahan campuran pendingin mesin, karena titik bekunya sangat rendah dan titik didihnya lebih tinggi daripada air.

Senyawa ini tak berwarna dan tak berbau.

Etilena glikol cukup beracun dengan LDLO = 786 mg/kg untuk manusia.

Bahaya utama terletak pada rasa senyawa ini yang manis.

Oleh sebab itulah, anak-anak dan hewan sering tak sengaja mengonsumsinya melebihi dosis maksimal yang diperbolehkan.

Ketika terhirup, etilena glikol teroksidasi menjadi asam glikolat dan kemudian menjadi asam oksalat, yang bersifat racun.

Etilen glikol dan produk sampingnya yang beracun akan menyerang sistem saraf pusat, jantung dan ginjal serta dapat bersifat fatal jika tidak segera ditangani.

Ilustrasi Etilen Glikol (CANVA)

Produk antibeku yang digunakan pada kendaraan mengandung propilen glikol sebagai pengganti etilen glikol karena lebih aman, disebabkan rasanya yang tidak enak.

Etilen glikol pada suhu kamar berbentuk cair sedikit kental mirip dengan sirup.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Robby Noor Cahyono, Kamis (13/10/2022).

"Penggunaan utamanya adalah sebagai zat antibeku dalam pendingin," kata Robby dikutip dari Kompas.com.

Etilen glikol adalah senyawa yang digunakan untuk bahan baku industri serat polister.

Tak hanya itu saja, senyawa ini juga dipakai untuk bahan membantu dalam produk pestisida, karet, dan sebagainya.

Bahaya etilen glikol

Etilen glikol berbahaya jika dikonsumsi atau masuk ke dalam tubuh.

Robby menjelaskan, setelah tertelan etilen glikol akan menyerap melalui lambung dalam waktu sekitar 1 hingga 4 jam.

Kemudian 80 persen atau lebih etilen glikol secara kimiawi diubah menjadi senyawa beracun.

"Toksisitas (tingkat merusak) etilen glikol dikategorikan ke dalam tiga tahap tumpang tindih yang luas dari efek kesehatan yang merugikan," ungkap dia.

Tahap pertama atau tahap neurologis berlangsung dari 30 menit sampai 12 jam setelah mengonsumsi senyawa ini.

Kemudian tahap kedua atau tahap cardiopulmonary terjadi antara 12 dan 24 jam setelah konsumsi, sedangkan tahap ketiga atau tahap ginjal berlangsung antara 24 dan 72 jam setelah menelan etilen glikol.

Baca: Menko Luhut dan Menkes Budi ke AS, Jajaki Molnupiravir, Proxalutamide dan AT-527 untuk Obat Covid-19

Baca: BPOM Setujui Peredaran Paxlovid, Obat COVID-19 Baru dengan Efikasi 89 Persen

Menurut data yang dipublikasikan, kata Robby, dosis etilen glikol yang mematikan pada manusia dewasa dengan berat 70 kg, sekitar 100 ml.

"Atau 1,6 g/kg berat badan, perhitungan dosis dalam ml/kg hingga mg/kg berdasarkan kepadatan EG=1,11 g/l," terang dia.

Konsumsi senyawa ini ke dalam tubuh membawa efek sambungan jangka pendek yang berlangsung kurang dari 8 jam.

Keracunan etilen glikol dini mirip dengan keracunan etanol, tetapi tidak ada aroma alkohol pada napas pasien.

Efek samping tersebut antara lain depresi sistem saraf pusat, kemabukan euforia, pingsan, depresi pernapasan, mual dan muntah bisa terjadi akibat iritasi gastrointestinal atau saluran pencernaan.

Selain itu, dalam kondisi keracunan parah, senyawa ini bisa menyebabkan koma, hilangnya refleks, kejang, maupun iritasi pada jaringan yang melapisi otak.

Tak sampai di situ, produk sampingan metabolisme beracun dari etilen glikol juga menyebabkan penumpukan asam dalam darah atau asidosis metabolik.

Menurut Robby, asidosis metabolik umumnya terjadi setelah keracunan etilen glikol.

Namun, tidak terjadinya penumpukan asam dalam darah tidak menghilangkan keracunan senyawa ini.

"Zat beracun ini juga memengaruhi sistem kardiopulmoner dan dapat menyebabkan gagal ginjal," tutur Robby.

Oleh karena itu, keracunan senyawa ini dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapat penanganan medis.

"Keracunan etilen glikol yang tidak diobati bisa berakibat fatal," ungkap Robby.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka)



Penulis: Ika Wahyuningsih
Editor: Febri Ady Prasetyo
BERITA TERKAIT

Berita Populer