Tak hanya itu, mereka juga dituding telah menelantarkan anak-anak tersebut.
Hal ini diungkap melalui penelitian yang dipimpin oleh tim dari Universitas Birmingham di Inggris.
Menurut penelitian itu, sejumlah tentara dan polisi di bawah PBB dilaporkan telah melecehkan anak-anak, memperkosa wanita, dan terlibat dalam praktik "survival sex" atau prostitusi demi mendapatkan kebutuhan hidup.
Dikutip dari The Times, (15/8/2022), para peneliti mewawancarai anak-anak dari pasukan penjaga perdamaian yang berumur 6 hingga 19 tahun.
Mereka berujar ibu mereka ditinggalkan dalam kondisi miskin dan kini menghadapi diskriminasi.
Sementara itu, ayah mereka telah meninggalkan Kongo dan tidak memberikan nafkah.
Baca: Republik Demokratik Kongo
Peneliti turut mewawancarai 60 wanita yang telah melahirkan anak-anak pasukan penjaga perdamaian.
Hasil studi ini pertama kali terbit di laman The Conversation.
Para ayah biologis disebut berprofesi sebagai tentara, polisi, pilot, sopir, juru masak, dokter, dan fotografer dari 12 negara, termasuk Afrika Selatan, Tanzania, Maroko, Uruguay, Nepal, dan Bangladesh.
Beberapa pekan ini juga ada sejumlah unjuk rasa yang digelar untuk menentang kelanjutan misi PBB di Kongo.
PBB sendiri sudah buka suara untuk menanggapi kasus ini.
"Sangat mengutuk perilaku orang-orang yang melanggar dan merusak nilai-nilai organisasi ini dengan melecehkan dan memanfaatkan mereka yang mencari perlindungan PBB," demikian pernyataan PBB.
Bulan lalu seorang pejabat Inggris bernama Christian Saunders telah ditunjuk untuk "meningkatkan respons PBB terhadap eksploitasi seksual dan pelecehan".
Baca: Wabah Ebola Kembali Muncul di Kongo di Tengah Pandemi Covid-19, Bagaimana Gejala dan Penyebarannya?
Menurut Kirstin Wagner, salah satu anggota peneliti, menentukan jumlah anak biologis pasukan perdamaian adalah hal yang mustahil.
Ini karena pasukan tersebut telah beroperasi di sana selama 20 tahun.
"Kemungkinan ada ribuan anak yang ditinggalkan di Kongo oleh pasukan penjaga perdamaian," kata Wagner.
"Sebagian dari masalah itu ialah beberapa orang yang dikerahkan tampaknya menganggap misi ini sebagai kesempatan untuk 'berwisata seks' dan melakukan kejahatan seksual yang sepertinya tidak mungkin mereka lakukan di negara mereka sendiri."
Peneliti mengaku telah melakukan 2,858 wawancara terhadap warga Kongo.
Baca: Pemerintah Republik Kongo Siap Tebang Hutan Afrika Demi Perusahaan China, Ini Kata Greenpeace
Para ibu menganggap hubungan seksual mereka dengan personel PBB sebagai sesuatu yang transaksional, demi mendapatkan makanan, pakaian, dan uang.
Terkadang tentara juga mendapatkan seks setelah berjanji membayar biaya sekolah para anak perempuan.
PBB hanya mencatat 426 laporan resmi tentang anak biologis tentara penjaga perdamaian.
Juru bicara PBB menyebut pihaknya telah berusaha lebih keras untuk mencegah eksploitasi perempuan dan menyelidiki pelakunya.
Baca berita lainnya tentang PBB di sini