Menurut Zelenskiy, perintah mengungsi itu merupakan "keputusan pemerintah" Ukraina.
"Segalanya sedang diatur. Dukungan penuh, bantuan penuh—logistik dan keuangan. Kita hanya memerlukan satu keputusan dari rakyat sendiri, yang belum membuanya untuk diri mereka sendiri," kata Zelenskiy dikutip dari CNN International.
"Makin cepat dilakukan, makin banyak orang yang saat ini meninggalkan Donetsk, makin sedikit waktu yang dimiliki Rusia untuk melakukan pembunuhan," kata dia.
Dia juga mendesak warga Ukraina untuk meyakinkan sesamanya untuk meninggalkan Donbas yang kini menjadi medan tempur.
"Terutama jika mereka berkeluarga dan punya anak," ujar Zelenskiy.
Baca: Rusia Disebut Rekrut Relawan untuk Perang di Ukraina, Iming-imingi Gaji Tinggi
Zelenskiy menyebut masih ada ratusan ribu orang dan puluhan ribu anak di Donbas.
Awal pekan lalu pasukan Ukraina mengaku berhasil menghalangi upaya tentara Rusia menyerbu beberapa distrik di Donetsk.
Menurut pihak Ukraina, ada serangan rudal gencar di garis pertempuran di Ukraina timur. Namun, pasukan Rusia tidak bergerak maju.
Baca: Mata-Mata Ukraina Disebut Tawari Pilot Rusia Rp30 Miliar untuk Antar Jet Tempur
Wakil Perdana Menteri Ukraina Irya Vereshchuk mengatakan saat ini ada 52.000 anak di Donetsk.
Menurutnya di sana juga tidak ada pasokan gas. "Tidak ada penghangat di Donetsk pada musim dingin," kata Vereshchuk.
Dia berujar pemerintah Ukraina telah membuat pusat koordinasi untuk membantu mengevakuasi warga Donetsk ke wilayah yang lebih aman.
Evakuasi ini akan dilakukan menggunakan kereta api dan bus.
Orang-orang yang menolak evakuasi harus menandatangani formulir penolakan evakuasi wajib.
Dalam formulir itu, mereka menyatakan paham akan segala konsekuensi yang muncul jika tetap berada di zona perang.
Baca: Presiden Ukraina: Perang Melawan Rusia Buat Hubungan Pernikahan Kami Main Kuat
Baca berita lainnya tentang Ukraina di sini