Kendati Pandemi Covid-19 mulai menunjukkan tanda mereda dan perekonomian terus berputar, namun para pelaku bisnis masih berhadapan dengan dengan berbagai tantangan.
Untuk itu, Wismilak Foundation hadir memberikan modal usaha dan jalan bagi para entrepreneur di Indonesia, lewat DSC 2022. Bagi peserta yang lolos seleksi dan mendapatkan modal usaha, selanjutnya akan menerima pendampingan selama 2 tahun tanpa biaya, dengan materi sesuai ide bisnis peserta.
Formasi Dewan Komisioner pada DSC 2022 diisi Surjanto Yasaputera selaku Ketua Dewan Komisioner, dan dua anggota Dewan Komisioner lainnya, Antarina S.F. Amir dan Helmy Yahya. Kemudian hadir pula empat coaches untuk memberikan bimbingan dan kemungkinan berjejaring.
Mereka adalah M. Jupaka - COO Nama Beauty & Strategic Advisor, Andanu Prasetyo - CEO of Maka Group & Founder Toko Kopi Tuku, Tashya Araysha - Director RANS Bisnis Indonesia, dan Tarra Budiman - CEO Shining Bright.
Program dari Wismilak Foundation ini telah memasuki penyelenggaraan ke-13. DSC 2022 hadir dengan format baru untuk memberikan jangkauan lebih luas kepada calon wirausahawan muda di seluruh Indonesia.
Selama masa inkubasi, DSC 2022 dengan jargon Wujudkan Visi Bisnismu #BikinGebrakan juga memberikan pendampingan kepada peserta dari mentor-mentor yang mempunyai pengalaman wirausaha dan berkompeten di bidangnya.
Edric Chandra selaku Program Initiator DSC 2022 mengatakan, fokus utama program tahun ini adalah mewujudkan ide bisnis lestari, Ide Bisnis, Ekosistem Wirausaha / Entrepreneur Ecosystem. Yakni mewujudkan bisnis berkepanjangan dan stabilitas hingga ke generasi berikutnya. Sehingga bisa dibanggakan dan meninggalkan legacy.
“Berangkat dari pengalaman 2 tahun belakangan, kami mencoba mengangkat soal isu bisnis lestari. Memang implementasinya tidak mudah. Namun, kami tekankan sebagai pesan dan poin penting, bahwa tujuan dari bisnis adalah stabilitas, kemudian orisinalitas harus tumbuh,” ujar Edric, kepada Tribunnewswiki.com, Selasa (12/7/2022).
Ide bisnis lestari adalah menciptakan bisnis berkepanjangan dengan memperhatikan aspek operasional usaha. Seperti supply chain, produksi, penyampaian produk ke konsumen hingga pengolahan limbah yang berprinsip kepedulian terhadap lingkungan alam.
“Dalam hal ini peserta harus bisa mencari solusi pemecah masalah untuk bumi lebih baik. Kemudian, konteksnya bukan sekedar jago jualan banyak, namun juga financial health. Lalu investasi digitalisasi. Kalau dikerjakan dengan konsisten, akan menjadi sebuah sistem yang memudahkan proses bisnis,” ujarnya.
Menurut Edric, gagasan brilian dan campaign yang bagus tidak ada artinya ketika tidak direpresentasikan dengan benar. Dirinya percaya bahwa setiap bisnis memiliki pangsa pasar sendiri. Namun, karakter adalah hal yang penting untuk disampaikan.
Karakter yang dimaksud, meliputi 3 aspek. Yakni karakter perusahan, tindakan dan kemampuan untuk menjadi garda terdepan dalam ‘menjual’.
“Harus punya karakter yang mampu mewujudkan visi. Harus dicek pula apakah dia punya jiwa kompetisi atau tidak, track record bagaimana, apakah hanya jago presentasi saja. Kemudian bisa jualan, bukan sekedar personal branding,” urainya.
Baca: Kisah Tiga Bisnis Jebolan Diplomat Success Challenge dengan Dampak Sosial Luar Biasa
Hingga Senin (11/7/2022), sudah ada 862 proposal yang masuk. Proses pencarian karakter yang sesuai tersebut bahkan dilakukan sejak awal submit DSC 2022. Edric menjelaskan, pihaknya punya metode baru berupa vlog pitch. Di sini, peserta mengirim vlog untuk pemaparan ide bisnis mereka.
“Dari sebenarnya kami mencari impresi peserta seperti apa. Pada akhirnya, ini lebih berharga dari sekedar modal usaha. Di dalam ekosistem, semua mendapatkan pengalaman, dan bahkan peluang jejaring dari para mentor.,” kata Edric.
Di sisi lain, program ini juga menciptakan jejaring berupa Alumni DSC. Tercatat ada 429 alumni yang bergabung. Edric mengatakan, jejaring pada akhirnya memberikan kesempatan para anggotanya untuk berkembang dan tumbuh bersama.
Karena memiliki kesamaan visi dan pola pikir, mereka pun bisa saling memberikan masukan dan sharing seputar hal-hal untuk memajukan bisnis masing-masing.
“Ini kami berikan trigger kemudian bisa jalan sendiri secara organik. Selama alumni gelaran pertama hingga 12 tahun, semuanya guyub. Dari sini, ada banyak insight.
“Kuncinya bukan apa yang kita lakukan, tapi siapa yang kita gabungkan,” tutupnya.