Selain itu, dia juga pernah tampil dalam acara Hitam Putih yang dipandu oleh Deddy Corbuzier.
Setelah menyelesaikan studinya selama 3,5 tahun di Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan predikat Cum Laude.
Ia memulai karir dengan menjadi sales vacuum cleaner, agen asuransi, mengelola toko emas, sales sepatu hingga berjualan keripik kentang. Julianto juga pernah menjabat Account Officer di Bank BDNI.
Pada saat bersamaan, Ko Jul juga menjalankan bisnis Multilevel Marketing (MLM) High Desert (HD) namun Ko Jul bukanlah pemilik HDI melainkan Brandon Chia.
Pada tahun 1996 saat kantor cabang MLM High Desert di Surabaya akan ditutup karena dinilai tidak berkembang, Julianto bertekad mempertahankan MLM High Desert bersama 4 orang temannya dengan modal patungan.
Sejak saat itu, Ia mulai mengembangkan MLM High Desert sebagai Stokist bersama Ino Mulyadi, Tonny Hermawan Adikarjo, Tjandra Gunawan, dan Alexius Sutodjo Tedjosukmono yang membesarkan bisnis MLM High Desert dan Binar Group.
Saat ini Julianto Eka Putra telah membangun lebih dari 20 perusahaan dibawah bendera Binar Group dan jaringan bisnis yang tersebar di berbagai kota seperti di Jakarta, Makassar, Semarang, Surabaya, Batu, dan di seluruh Indonesia.
Selain itu, Ko Jul juga menjadi pembicara dan trainer tingkat nasional dan internasional pada training – training pengembangan diri, yang telah diikuti oleh ratusan ribu orang.
Sebelumnya ramai diberitakan, motivator kondang Julianto Eka Putra menjadi terdakwa dugaan pelecehan seksual di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur.
Kasus Julianto Eka Putra sudah bergulir di Pengadilan Negeri Malang sejak tahun 2021 lalu.
Pada 5 Agustus 2021 Julianto Eka Putra ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual yang dilakukan terhadap siswa Selamat Pagi Indonesia.
Dugaan pelecehan seksual itu mulai terkuak usai sejumlah mantan siswa bersuara dan melaporkan Julianto Eka Putra ke polisi.
Dikutip dari tayangan Kompas Tv korban kekerasan seksual Julianto Eka Putra diprediksi mencapai puluhan orang.
Baca: Awalnya Kenal dari Taksi Online, Mahasiswi Jadi Korban Pelecehan Seksual di Tulungagung
Baca: Gadis di Bawah Umur Jadi Korban Pelecehan Seksual Wanita Penyuka Sesama Jenis, Pelaku Beraksi 7 Kali
Kesimpulan itu diambil Komnas Perlindungan Anak lantaran dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Julianto Eka Putra sudah terjadi sejak tahun 2009 di angkatan pertama sekolah tersebut.
Sosok Julianto Eka Putra, terdakwa kasus kekerasan seksual nyatanya tak ditahan hingga sekarang.
Fakta ini membuat Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) geram hingga adu mulut sebelum persidangan dimulai.
Komnas PA, Arist Merdeka Sirait mengaku terus mengawal kasus yang menyeret pendiri sekolah Selamat Pagi Indonesia (SIP) di Batu, Malang tersebut.
Dikutip dari Tribunnews.com, Arist mendatangi langsung Pengadilan Negeri Malang kelas 1 A.
Menurut Arist, persidangan yang digelar Rabu (6/7/2022) merupakan sidang ke-18.
Namun, hingga kini, Julianto Eka Putra belum ditahan meski sudah ditetapkan sebagai terdakwa.
Arist sempat adu mulut dengan pengacara Julianto Eka Putra sebelum sidang dimulai.
Momen tersebut diunggah dalam kanal YouTube KOMPASTV.
Terlihat Arist Medeka Sirait protes tentang latar belakang terdakwa kasus kekerasan seksual yang menyeret 21 murid maupun alumni sekolah yang didirikan oleh Julianto Eka Putra.
Bahkan terdengar juga pengacara Julianto Eka Putra meminta Arist untuk diam.
Pasalnya, ia hanya ingin mendengarkan petugas pengadilan yang berwenang berbicara dalam ruang sidang.
Di luar ruang sidang, Arist Merdeka meminta terdakwa untuk segera ditahan.