Intelijen AS & Inggris: Pemerintah Tiongkok Lakukan Spionase, Ingin Curi Teknologi

Editor: Febri Ady Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi peretas. Tiongkok dituding melakukan spionase.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kepala FBI Amerika Serikat (AS) dan pemimpin intelijen Inggris menuding pemerintah Tiongkok melakukan spionase.

Kata mereka, Tiongkok ingin mencuri teknologi perusahan-perusahaan di kedua negara itu.

Oleh sebab itu, para pebisnis di AS dan Inggris diperingatkan agar mewaspadainya.

"Kami terus melihat bahwa pemerintah Tiongkok menjadi ancaman jangka panjang terbesar bagi ekonomi dan keamanan nasional kita, dan menyebut "kita", maksud saya bagi negara kita, begitu juga dengan sekutu kita di Eropa dan lainnya," kata Direktur FBI Christopher Wray, dikutip dari Associated Press.

Hal ini disampaikannya di markas intelijen Inggris M15 di London.

Dalam momen itu, dia kembali menegaskan adanya spionase ekonomi dan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok.

Di samping Wray juga ada Direktur Jenderal M15 Ken McCallum.

Baca: Militer AS Akan Ikut Campur jika Taiwan Diserang, Tiongkok Berikan Peringatan

Senada dengan Wray, McCallum juga mengatakan pemerintah Tiongkok memberikan tekanan kepada seluruh dunia.

Kata dia, Tiongkok adalah tantangan terbesar yang bisa mengubah keadaan secara signifikan.

"Ini mungkin terlihat tidak nyata. Namun, ini nyata dan memberikan tekanan," kata McCallum.

"Kita harus membicarakannya. Kita harus bertindak."

Juru Bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington, Liu Pengyu, membantah tudingan ini.

Baca: Dianggap Vulgar dan Pro-Amerika, Buku Matematika di Tiongkok Ditinjau Ulang

Menurutnya, pemerintah Tiongkok dengan tegas menentang dan melawan segala bentuk serangan siber.

Selain itu, Pengyu mengatakan tudingan tersebut tidak berdasar.

"Kami tak pernah mendorong, mendukung, ataupun membenarkan serangan siber," kata dia melalui surel kepada Associated Press.

Wray juga menyinggung ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan.

Menurutnya, jika Beijing mengambil alih Taipei secara paksa, itu akan menjadi " salah satu disrupsi bisnis paling mengerikan di dunia".

Baca: Joe Biden: Jika Diserang Tiongkok, Taiwan Akan Dibantu oleh AS

Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pidato melalui video saat membuka China International Import Expo (CIIE) ke-3 di sebuah pusat media di Shanghai pada 4 November 2020. (AFP/STR)

Pekan lalu, Direktur Intelijen Nasional AS, Avril Haines, mengatakan belum ada tanda-tanda Presiden Tiongkok Xi Jinping bakal mengambil alih Taiwan dengan kekuatan militernya.

Namun, dia berujar Xi tampaknya "mencari kemungkinan" untuk melakukan tindakan seperti itu.

Ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Tiongkok untuk menyatukan kembali Tiongkok dan Taiwan.

Presiden AS Joe Biden pada bulan Mei lalu sempat berkata bakal mengirimkan militer jika Tiongkok benar-benar menyerbu Taiwan.

Namun, Gedung Putih kemudian membuat klarifikasi dan mengatakan ucapan Biden itu tidak mengubah perubahan kebijakan AS terhadap Taiwan.

Baca: Kasus Penembakan di Gereja California Diduga Dipicu oleh Konflik Tiongkok vs. Taiwan

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang Tiongkok di sini



Editor: Febri Ady Prasetyo

Berita Populer