Sebelumnya, tiga menterinya memutuskan mundur karena mengaku tak bisa bertahan lagi di bawah kepemimpinan Johnson.
Ketiga menteri itu mengikuti dua menteri sebelumnya yang juga memilih meletakkan jabatan.
Meski mendapat banyak tekanan, Johnson tetap menolak meninggalkan jabatan perdana menteri pada sidang Majelis Rendah.
Banyak politikus yang kecewa dengan Johnson karena dia tidak bisa menangani kasus pelecehan seksual oleh seorang anggota parlemen.
Dilansir dari Associated Press, (7/7/2022), sejumlah wakil dari sekutu politiknya sempat mengunjungi Johnson di rumah dinasnya.
Mereka meminta Johnson untuk mundur. Namun, Johnson menolak permintaan itu.
Baca: Boris Johnson
Baca: PM Inggris Boris Johnson Berselingkuh dengan Jennifer Arcuri di Rumah Keluarga saat Istrinya Pergi
Johnson diyakini sedang mencari "cara keluar yang terhormat" dan memilih berjuang mempertahankan jabatan.
Menurutnya, saat ini Inggris menghadapi banyak masalah krusial. Oleh karena itu, kata dia, kekacauan bisa terjadi jika dia sekarang mundur.
Selama berkuasa, Johnson diterpa sejumlah masalah, misalnya tudingan bahwa dia terlalu dekat dengan donatur partai.
Selain itu, dia dituduh melindungi para pendukungnya dari dugaan korupsi.
Pemerintahan Johnson juga harus menghadapi pandemi Covid-19 dan berbagai skandal yang terkait dengan aturan pembatasan.
Baca: PNS Inggris Gugat PM Boris Johnson karena Tidak Pecat Menteri Dalam Negeri Priti PatelĀ
Namun, Johnson tetap bisa bertahan, bahkan ketika 41 persen politikus Partai Konservatif memilih menggulingkannya bulan lalu.
Posisinya makin terdesak setelah terungkap bahwa dia sebenarnya sudah tahu skandal pelecehan seksual oleh seorang politikus sebelum politikus itu diberinya jabatan tinggi.
Kasus Johnson dianggap langka dan unik dalam sejarah politik di Inggris. Ini karena dia memilih tetap bertahan meski mendapat tekanan besar.
"Dia kini menodai demokrasi kita, dan jika tidak melakukan hal yang benar dan pergi atas kemauannya sendiri, maka dia akan diseret keluar," kata pemimpin Partai Nasional Skotlandia, Ian Blackford, kepada BBC.
Baca: Tak Terima Disanksi, Rusia Melarang PM Inggris Boris Johnson Memasuki Negaranya
Banyak rekan Johonson, sesama politikus Partai Konservatif, yang khawatir bahwa Johnson tak lagi memiliki otoritas moral untuk memimpin kala Inggris sedang dalam masa susah akibat pandemi, kenaikan harga, dan perang di Ukraina.
Pada hari Rabu, (6/7/2022), sejumlah politikus Partai Buruh sempat menghujani Johnson dengan seruan, "Pergi! Pergi!"
Baca berita lainnya tentang Boris Johnson di sini